Aku hanya ingin belajar menjadi seorang wanita yang tegar dan kuat.
|Cinta Aisyah|
***
Dipagi yang cerah, ada seorang gadis yang bernama Aisyah Assafina Azzahra. Panggil saja dia Aisyah, ia masih menjalankan statusnya sebagai pelajar. Aisyah baru dipindahkan oleh abi dan uminya ke sekolah umum, saat ini, Aisyah tengah mengenyam bangku sekolah kelas 12. Aisyah memiliki kakak yang bernama Andika Wijaya dan adik yang bernama Aliyana Azzahra. Anton Wijaya nama ayahnya, sedangkan Annisa Azzahra nama bundanya. Keluarga yang harmonis, keluarga yang selalu menjadi kebanggaan Aisyah.
Aisyah ini anak gadis yang pintar, cantik, shalihah, cerdas dan patuh kepada kedua orangtua. Terkadang jika ia mau berpergian entah ke sekolah atau jalan, biasanya dia minta di antar oleh abangnya. Aisyah memanggil kakaknya dengan sebutan Abang begitu juga dengan Aliya.
Aisyah sangat menjaga kehormatannya sebagai seorang muslimah, karena memang bundanya mengajarkan sejak Aisyah berumur 7 tahun. Bundanya selalu mengingatkan bahwa tidak seharusnya wanita muslimah itu mengumbar aurat. Dan menutup aurat itu sebuah kewajiban yang harus kita patuhi dan kita jalankan.
'Menjadi wanita muslimah itu harus mempunyai prinsip, berpegang teguh pada agama. Jangan sampai iman kamu lemah, teruslah untuk selalu taat kepada RabbMu.' Itu nasihat bundanya yang selalu saja Aisyah ingat dalam pikirannya.
Baginya Bunda Adalah sosok malaikat tak bersayap yang selalu melindungi dirinya. Apapun keadaannya, bundanya Aisyah selalu memberi dukungan yang terbaik untuk Aisyah.
Menutup Aurat itu wajib hukumnya, bagi Wanita Muslimah.
Bahkan sudah jelas tertera didalam Al-Quran. Kenapa kita (wanita) harus memakai jilbab?
Karena wanita itu mulia di sisi islam. Begitu banyak manfaat hijab dari mulai melindungi, menjaga, dan yang terpenting adalah bagaimana kita bisa istiqomah dalam memakainya.
Jangan pernah lepaskan jilbab yang sudah kau pakai teruslah untuk istiqomah dalam memakainya. Satu langkah anak perempuan keluar rumah tanpa menutup auratnya, satu langkah pula ia mendorong ayahnya kedalam neraka.
Setiap orangtua menginginkan anaknya menjadi anak yang berguna bagi agama, bukan? Tentu saja.
Aisyah yang memang sejak Sekolah Dasar sudah berada di Pondok Pesantren, ia lebih sering berdiam dirumah. Sejak abinya memutuskan untuk menyekolahkan Aisyah pada Sekolah umum, Aisyah sebenarnya ragu untuk masuk Sekolah umum. Karena dirinya tidak terbiasa bercampur baur dengan lelaki. Sudah jelaskan jika nanti ia akan sekolah di sekolah umum? Pasti ia akan lebih sering bertemu dengan lelaki. Itu yang Aisyah takuti.
"Aisyah!" Panggil uminya lembut.
"Iya mi, kenapa?" Sahutnya sambil menghampiri uminya yang sedang memasak untuk sarapan pagi.
"Aisyah tidak apa-apa kan kalau dipindahkan ke Sekolah umum?" Tanya umi tiba-tiba.
Aisyah kemudian tersenyum.
"Insya Allah Aisyah tidak apa-apa umi," jawabnya sambil tersenyum.
Uminya tersenyum mendengar perkataan anaknya, "Alhamdulillah kalau Aisyah tidak apa-apa. Tapi pesan umi jangan terlalu dekat dengan seorang yang bukan mahram yah nak," kata umi sambil mengelus kepala Aisyah.
Kini, Aisyah menjadi siswi baru di Sekolah umum. Awalnya, memang Aisyah tidak setuju dipindahkan ke Sekolah umum, akan tetapi, ia mengerti mengapa abi dan uminya memindahkan dirinya untuk sekolah di sekolah umum. Agar Aisyah bisa merasakan bagaimana kehidupan diluar dan bagaimana kehidupan yang bebas dari aturan pesantren. Aisyah lebih nyaman di Pondok daripada sekolah umum. Karena di Pondok, ia bisa menghafal Al-Qur'an dan sudah tentu ia berteman dengan kaum hawa semua. Karena di Pondok Akhwat dan Ikhwan dipisah sudah jelas.
"Iya umi, Aisyah akan menjaga jarak dengan lelaki yang bukan mahram" sahut Aisyah
"Iya sudah, Aisyah rapih-rapih gih, udah jam setengah 6, nanti telat lagi gara-gara bantuin umi" ucap umi terkekeh.
Aisyah pun terkekeh, sambil berkata, "iya umiku... aku keatas dulu ya, mi," jawabnya sembari mencium pipi uminya setelah itu bergegas meninggalkan dapur.
Umi yang melihat tingkah laku anaknya itu, membuat ia menggelengkan kepala sambil tersenyum.
***
Almeer Ar Rasyidul Irsyad. Lelaki berusia 21 tahun. Lelaki Tampan yang belum pernah merasakan jatuh cinta terhadap lawan jenis, ia menutup hatinya kepada siapapun. Namun, ditengah pertemuannya dengan seorang wanita berhijab Syar'ii, ia merasakan ada perasaan yang berbeda dari sebelumnya. Anak dari Ameer Al Malik dan Jihan Utari.
Seorang CEO dari Perusahaan Al Malik. Uminya seorang Pemilik toko Kue. Almeer memiliki seorang adik bernama Asyifa. Almeer seorang Mahasiswa disalah satu Universitas ternama di Jakarta. Memiliki sahabat sejak kecil yang bernama Alisya Jerehan. Ia sangat dekat sekali dengan sahabat kecilnya itu. Bahkan Almeer sudah menganggapnya seperti Adiknya.
***