"Saat melihat Keindahan maka bersyukurlah atas Nikmat Allah swt. Karena Dia yang telah menciptakan segala sesuatunya menjadi indah"
| Cinta Aisyah |
Saat adzan shubuh berkumandang, aku mulai beranjak dari tempat tidur, karena ingin melaksanakan kewajibanku sebagai seorang muslim. Aku langsung menuju kamar mandi, tidak lama. Selang beberapa menit aku keluar kamar mandi setelah mengambil wudhu.
Setelah itu, aku terlebih dahulu melakukan sholat sunnah dua rakaat. Karena ada Hadist yang menyatakan bahwa:
“Dua rakaat shalat sunnah subuh lebih baik dari seluruh dunia isinya.” (HR. Muslim725).
Maka dari itu, aku selalu melakukan sholat sunnah subuh dua rakaat.
Setelah selesai sholat, aku bermunajat kepada Rabb-ku ...
Meminta petunjuk-Nya agar aku diberi umur dalam menjalani proses hijrahku.
Dengan begitu khusyuk aku berdo'a.
Ya Allah Ya Rahman Ya Rahiim ..
Engkau yang maha pengasih, lagi maha Penyayang.Aku mohon, jadikanlah aku wanita yang kuat,
Jadikanlah aku wanita yang shalihah ..
Aku ingin melewati semua ujian-Mu ya rabb.Berikanlah aku kesabaran juga kekuatan agar bisa melewati ujian ini ya rabb. Maafkanlah aku, hapuskanlah dosa kedua orangtuaku, dosa-dosaku.
Aamiin Aamiin ya robbal 'alamin ..
•••
Pagi ini kami tidak ada acara, kata para guru hari ini semua murid dibebaskan untuk melihat-lihat pemandangan disini.
Aku, Amel dan Putri berkunjung ke kebun teh lagi. Disana kami bertiga ingin membantu warga yang sedang memetik daun teh.
Aku begitu antusias ingin belajar memetik, sampai kakiku tersandung batu.
"Awww .." aku meringis kesakitan.
Sedangkan Amel dan Putri kaget melihatku jatuh kebawah.
"Astaghfirullah, Aisyah! Kamu gpp? Tanya Amel. Dia terlihat cemas padaku. Padahal lukaku tidak terlalu parah. Hanya luka dilutut saja.
" Iya Syah, kamu gpp kan? "Lanjut Putri.
" Aku gpp kok Mel, Put. Cuma luka ringan saja. "Sahutku.
" Tapi lukanya harus diobati Syah, kalo gak diobati nanti bisa infeksi. "Ujar Amel.
Sisi Amel yang cerewet tapi perhatian.
" Iyaa nanti aja, kan kita mau metik daun teh. "
"Iyaa, tapi kamu harus obatin dulu lukanya Syah. Biar nanti gak Infeksi. Bentar yah aku ambil betadine sama kapas dulu." Sahut Amel.
Kalau sudah Amel yang bicara, mau tidak mau aku harus menuruti perkataannya. Memang Amel itu perhatian, jika terjadi apa-apa denganku dia langsung siaga. Ahh bahagia rasanya memiliki sahabat seperti Amel.
Setelah menunggu Amel, akhirnya dia datang juga. Tidak lama sih, tapi lumayan jauh jarak hotel dengan kebun ini. Mungkin dia lari. Pikirku.
"Sini aku obati!" Ujar Amel. Dengan telaten Amel perawatan Aisyah.
Karena disini tidak ada ikhwan, jadi aku bisa membuka bagian lututku.
Setelah selesai aku Amel dan Putri segera beranjak untuk memetik daun teh.
"Permisi bapak, apa kami boleh tau caranya memetik daun teh?" Ujarku saat bertemu bapak-bapak.
"Oh Boleh atuh neng. Sih eneng teh dari kotanya?" Ujar pak ujang.
"Iyah pak kami dari jakarta, sedang study tour. Perkenalkan saya Aisyah. Ini Amel dan yang ini Putri teman saya." Ujarku sambil menunjukan Amel dan Putri.
"Iya atuh neng. Saya Ujang neng panggil saja mang ujang. Biasanya teh orang dikampung manggil mamang teh dengan sebutan mang ujang." Sahut mang ujang.
"Mang ini gimana caranya memetik teh?" Tanyaku.
Aku ingin tahu bagaimana caranya memetik daun teh. Iya aku belum tau sama sekali tentang memetik daun teh.
"Jadi begini neng, eneng ambil dari pucuknya aja neng. Kayak ginih, nah terus neng petik deh daun tehnya. Gampang pisan kan neng?" Ujar mang Ujang.
Iya ternyata, memetik daun teh itu mudah yah. Aku juga bisa.
"Wah mang! Ternyata asik juga yah metik daun teh. Seruu banget" ujarku yang begitu senengnya.
Tau tidak? Disini yang paling Antusiasme itu aku. Karena aku ingin sekali bisa memetik daun teh. Ternyata mudah juga metiknya.
"Iyah neng. Gampang pisan kan?" Ujar mang Ujang.
Aku melihat sekelilingku, semuanya sedang memetik teh.
Warga disini memang di samping petani di kebun itu sendiri, mereka petani di kebun juga. Disini banyak kebun, mulai kebun bayam, kebun cengkeh. Masih banyak kebun sayuran lainnya juga.
***
Setelah tadi aku berkebun, lebih tepatnya kami. Aku, Amel dan Putri.
Kami kembali ke kamar hotel kami. Untuk istirahat. Karena waktu begitu cepat, besok hari terakhir kami disini. Rasanya cepat sekali.
"Ehh, besok kan hari terakhir kita disini yah. Kita selfie yuk di depan taman hotel?" Ajak Putri.
Putri si ratu selfie. Tidak bisa kalau tidak selfie. Hehe begitulah sih Putri, kalau kemana-mana harus selfie.
"Ihh Putri kamu mah selfie mulu perasaan deh. Tadi emang di kebun teh kurang yah selfie nya?" Sahut Amel. Mendengar perkataan Amel Putri hanya nyengir kuda.
Memang tadi saat di kebun teh, Putri lebih banyak selfie dari pada membantu mang Ujang. Pantas saja, Putri dijuluki dengan sebutan Ratu selfie di kelas kami.
Malam telah menyapa, hanya terdengar suara jangkrik yang berbunyi. Saat malam telah menyapa, bulan dan bintang begitu terang bersinar. Mengingat bahwa5 besok akan balik ke jakarta. Semua murid telah beristirahat sejak abis sholat isya.
Begitu juga dengan Aisyah dan Amel. Sejak tadi mereka berdua sudah tidur terlelap sehabis sholat isya. Mungkin karena tadi pagi mereka membantu mang ujang di kebun teh.
Selama tiga hari mereka berada di puncak, mereka mendapat banyak pelajaran disini. Mulai dari memetik teh, merasakan bagaimana susahnya kehidupan jika tanpa rasa sabar.
Kehidupan jika dijalani tanpa adanya sabar tidak akan mampu mencapai sebuah tujuan.
Makanya Allah selalu bilang,
Bahwa Allah selalu bersama orang-orang yang sabar. Karena orang selalu mengingat Allah.
Jika kita ingin sesuatu, maka, bersabarlah.Jika kita ingin dikabulkan do'anya maka teruslah untuk selalu berdo'a. Dan berdo'alah diwaktu mustajab saat berdoa. Seperti pada waktu turun hujan, disepertiga malam karena orang-orang sedang tertidur pulas. Dan pada saat Adzan berkumandang.
Berdoalah pada waktu itu, maka, akan dikabulkan doa-doamu.
***