Sering Axel mendapat tatapan seperti itu dari Rian. Menatap dengan lembut dan lama, kalau sudah begitu Axel suka salah tingkah jadinya, ditatap dengan perasaan suka dan dalam. "Ayah, senang. Kamu sudah mulai mau terjun ke dunia bisnis. Ayah berharap meski nanti kamu sudah bersuami, tetapi kamu tetap berdikari secara finansial. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi besok." "Iya, Ayah, Axel tidak mau tergantung pada laki-laki, Axel mau mandiri dengan potensi yang Axel punya." "Iya, harus seperti itu. Xel. Ayah setuju." Rian masih menatapnya dengan tatapan yang sama, kalau saja tak ada ayahnya, mungkin Axel sudah menimpuknya pakai bantal kursi. "Semester depan kamu harus kuliah lagi, Xel." "Iya, Ayah, Insyaallah." "Sepertinya Ayah tidak menginap kali ini, jadi Ayah

