Meraba Perasaan

1275 Kata
Axel maupun Bimo sama-sama terkejut dengan perasaannya masing-masing, mereka sendiri masih malu mengungkapkan, perasaan macam apa yang tengah berkecamuk. Sementara ada cara yang jitu biar perasaan antara Bimo dan Axel tidak makin kuat. Bimo mencoba menghindari kontak fisik, hal itu juga yang coba Axel lalukan. Kalau mereka tidak berhenti, hal yang tidak diinginkan takut terjadi. “Axel, aku mau antar Bunda dulu beli sesuatu. Kamu mau ikut?” tanya Bimo. Pagi hari yang cerah, Bimo tampaknya baru mandi, tercium bau khas tubuhnya, Axel tersipu sendiri. “Axel di rumah saja, Om. Titip minuman kemasan saja deh. Axel tak ikut, badan terasa capek.” Axel menjawab pertanyaan Bimo, keinginannya hanya rebahan saja di kamar. Atau memang ada alasan lain? Tentu, Axel merasa takut dia tidak bisa mengendalikan rasa manjanya. Nanti, malah jadi perhatian yang lain. “Kamu tidak sakit kan?” Ada cemas dalam suara Bimo. Axel cepat menggeleng tak mau membuat omnya khawatir. “Jangan secemas itu, Om. Axel enggak kenapa-kenapa, kok.” “Lho, Axel enggak ikut. Kenapa?" Bunda menimpali dari arah belakang punggung Bimo, disusul Tante Rara yang baru bertemu tadi malam sepulang dari Mall. Rara lalu duduk di dekat Axel tanpa canggung. “Enggak apa-apa, Bun. Hanya sedikit pegal-pegal.” Axel menjelaskan kondisinya. “Manja itu mah, Xel.” Rara menimpali. Axel menatap Rara sambil tersenyum, ini kakak adik sama saja, enggak ada tuanya. Kakak Bimo ini cantiknya luar dalam. Axel sangat mengagumi Tante Rara. Tak hanya pintar Tante Rara begitu mandiri, perceraian dengan suaminya yang tanpa anak, tak membuatnya goyah. “Ra, ikut saja, Ya. Biar Axel di rumah saja. Rebahan. Bunda enggak ada teman soalnya,” rajuk Bunda. Rara sepertinya enggan ikut, tetapi karena Bunda yang mengajak, dia tak kuasa menolak. Akhirnya mereka meninggalkan Axel di rumah sendirian. Sepeninggalnya, Bimo, Bunda dan Tante Rara. Axel masuk ke kamar Bimo. Melihat-lihat sesuatu di sana. Ada yang menarik Axel kian mendekat. Sebuah foto berpigura yang tergantung di dinding. Ternyata foto yang sama, foto yang dimiliki Ayah Daniel. Seorang perempuan cantik yang mirip dirinya tengah diapit dua orang laki-laki muda yang lumayan cakap-cakap. “Ma, beruntung Mama memiliki Papa dan Om Bimo,” lirih Axel. Dia begitu rindu pada perempuan itu. Perempuan yang tak pernah ditemuinya. Ada rasa nyeri dalam hatinya, rasa yang selalu hadir bila dia merasa kesepian. Betapa sosok itu selalu dirindukan kehadirannya. Axel melepaskan foto itu dari dinding, menatap wajah mamahnya sendu. Sebelum meletakan kembali ke tempat semula diciumnya satu-satu orang dalam foto tersebut termasuk Bimo, dan hatinya tiba-tiba berdegup kencang. Kenapa setiap ingat omnya, hatinya seolah mekar dan ada kehangatan yang dia sendiri tidak tahu penyebabnya. Suara ponselnya berbunyi. Dilihat nama ayahnya muncul di layar handphone. “Halo, Ayah. Assalamualaikum.” Axel memberi salam pada ayahnya. “Wa’alaikumsalam. Xel, kapan pulang? “ Ayah Daniel bertanya, Axel tersenyum. Baru sehari saja Ayah Daniel sudah bertanya tentang pulang. Pasti ia merasa kehilangan, tanpa ada Bimo dan dirinya. “Besok, Ayah. Insyaallah. Baru juga sehari Axel di sini. Kenapa sih? “ Terdengar suara ayahnya tertawa lepas di telepon. “Salah, ya, kalau Ayah kangen kamu.” Axel tertegun, tak salah dia mendengar ayahnya seemosional itu? Apa ini yang dinamakan hubungan batin? Baru saja, dia mencium foto ayahnya lama sebelum akhirnya bibirnya berlabuh di foto Bimo. Tiba-tiba saja ayahnya telepon dan mengatakan sesuatu yang manis. “Iya, Yah. Sehari lagi ya. Sabar. Ini lagi pada keluar semua. Tinggal Axel yang di rumah.” Axel memberitahu Daniel kondisinya, disambut suara cemas sang ayah. “Lho pada ke mana, kamu enggak ikut, Nak? “ tanya Daniel. “Enggak Yah. Axel agak enggak enak badan “ “Sepertinya kamu kecapian itu.” Suara Daniel kembali disusupi rasa cemas. “ya, sudah. Coba kamu usahakan tidur dengan rileks. Entar, kalau ada apa-apa hubungi Ayah,” lanjutnya. Axel segera menutup telepon, betapa beruntungnya dia memiliki dua laki-laki yang selalu menjaganya. Om Bimo yang selalu melindungi dan Ayah Daniel yang mencintainya sepenuh jiwa. Axel bersyukur dalam hati. Seharian hanya rebahan saja, ternyata enggak enak juga. Axel mulai merasa bosan. Bolak balik ke kamar Bimo, mencari sesuatu yang tidak dicarinya. Akhirnya pulas tertidur di kasur empuk milik Bimo. *** Hari hampir gelap, dalam tidur Axel merasa ada yang tengah memperhatikannya. Saat itu Bimo tengah menatapnya. Axel terbangun risi ditatap sedekat itu, padahal Bimo hanya ingin memastikan bahwa Axel baik-baik saja. “Hai, Om," sapa Axel, disadarinya dia tengah ditatap sedemikian rupa. Tak berani langsung menatap Bimo. Axel beringsut dengan malu-malu. “Kenapa jadi terbangun? Kamu begitu pulas dalam tidurmu. Ke Jakarta hanya buat tidur doang di kamar Om,” goda Bimo. “Lebih enak tidur di sini Om, hangat. Daripada panas-panas di luar.” “Katanya mau jalan-jalan? “ “Axel maunya cuman berdua dengan Om, cuman ingin mengelilingi kota Jakarta. Bisa enggak?” tanya Axel. Bimo mengangguk tegas. “Bisalah, besok sebelum balik. Kita jalan pagi-pagi sekali. Biar tak macet.” Bimo membujuk Axel. Axel mengangguk-angguk. Saatnya dia harus berlibur berdua saja dengan Bimo. “Mana Bunda dan Tante Rara?” tanya Axel mengalihkan perhatian darinya. “Entahlah. Mereka langsung sibuk di dapur. Katanya sih ingin membahagiakanmu, sebaiknya kamu cepat susul mereka, cari tahu, apa yang tengah mereka lakukan?" Axel melompat dari kasur dan memburu ke arah dapur. “Bunda, Tante, ada yang bisa Axel bantu?” tanya Axel setibanya di dapur. “Ah, enggak usah repot-repot, Xel. Bunda cuman mau buat puding cokelat kesukaan kamu. Santai saja, sudah ada Rara kok yang bakal jadi asisten handal.” Rara mendelik mendengar perkataan Bunda. Mereka tampak akrab sekali, menimbulkan rasa iri di hati Axel, seketika teringat mamanya. Andai dia masih hidup, barangkali akan seperti itu hubungan yang terjalin antara dirinya dan sang mama. Tak ada yang sempurna di dunia ini, Axel harus kehilangan sosok mama saat dirinya belum mengerti apa-apa tentang dunia. Sementara Bimo kehilangan papanya di saat usianya masih muda sekali karena kecelakaan lalu-lintas. Sering Bimo mengatakan padanya bahwa dunia hanya sebuah tempat yang menyuguhkan tentang kepergian dan kedatangan. Berulang. Di saat Axel mempertanyakan tentang mamanya dengan perasaan sedih, hanya pelukan Bimo lah yang selalu menenangkan. “Mama kamu sudah berada di surga. Tengah mengawasimu. Maka jadilah anak yang baik, jangan kau mengecewakan mamamu.“ Dua bulir air mata turun seketika, Axel memeluk Bunda. Bunda sampai terkejut dipeluk dengan tiba-tiba. Namun, dia cukup mengerti ketika ingatannya melayang pada seseorang di masa lalu. Dipeluknya Axel lalu menghapus air matanya perlahan. “Maafkan, Bunda Axel. Pasti kau ingat mamamu, bukan? Mamamu, cantik sekali, persis sepetimu. Ayahmu, mamahmu dan Bimo adalah anak-anak yang manis.” Bunda tampaknya menjadi sedih mengingat tentang Ratih, bagaimana tidak, sebab Ratih pergi, Bimo akhirnya memutuskan tinggal bersama Daniel ketimbang iku pergi ke Jakarta. Pilihan yang sampai kini tak pernah dimengerti Bunda. Namun, dia tidak bisa berbuat apa-apa. Meski ada perasaan kecewa karena Bimo lebih memilih tinggal dengan sahabatnya daripada ibunya sendiri. “Alasan paling kuat kenapa Bimo tak bisa meninggalkan Daniel adalah karena anak itu Bun. Demi anak itu, Bimo harus selalu berada dekat Daniel. Maafkan Bimo, ini pilihan tersulit dalam hidup Bimo. Tapi, Bimo tak bisa membiarkan Daniel hancur. Tak bisa. Ada saatnya kelak Bimo kembali pada Bunda.” Bunda Bimo masih ingat perkataan Bimo saat itu, sesekali masih terngiang dengan jelas. Dan Bunda hanya mencoba ikhlas melepaskan. Demi anak ini dulu, Bimo pernah berseteru mempertahankan pilihan hidupnya, anak itu kini sudah besar. Cantik dan sedang mekar menjadi perempuan dewasa. Dipeluknya kembali Axel dengan penuh cinta kasih. “Axel, jika kamu merasa rindu sama Mama, ingatlah Bunda. Doa Bunda menyertaimu, Nak. Kau adalah pelita hati Bimo tentu kau juga mesti jadi cahaya di hati Bunda.” Air mata Axel berjatuhan begitu saja bagai hujan tiada tertahan. Rara yang berada di samping Bunda ikut terharu. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN