Kembalinya Axel ke rumah itu tentu membawa kebahagiaan bagi semua. Meski pergi hanya sehari, tetapi cukup menguras perasaan dan energi, membuat Daniel dan Bimo kalang kabut. Sempat, Bimo merasa gagal sebagai juru damai. Apalagi Daniel, Bimo yakin ia memendam rasa bersalah karena tidak bisa membangun komunikasi yang baik dengan Axel.
Di mana pun orang tua, pasti ingin menciptakan tempat paling nyaman bagi anaknya, sebuah rumah yang selalu dirindukannya untuk kembali karena ada kehangatan di dalamnya yaitu kehangatan cinta kasih, bukan sebaliknya debuah rumah yang bagai neraka. Mereka begitu sayang pada Axel hingga anak itu menjadi pusat perhatian dan tumpuan kasih sayang, Daniel maupun Bimo ingin memberikan yang terbaik untuk anak itu.
Setelah kejadian kemarin, Daniel dan Axel berusaha membuat komitmen baru yang cukup adil. Seperti aturan jam Axel pulang dan sebagainya. Di saat week end Daniel memberikan sedikit keleluasaan bagi Axel untuk bermain. Selebihnya hanya melakukan kegiatan sekolah dan ekstrakurikuler. Tentu hal tersebut melegakan bagi Bimo, rumah jadi tenang dan perasaannya ikut senang.
Jalan ke depannya masih panjang dan belum tentu mulus terus. Bimo merasa harus menyiapkan mentalnya lebih baik lagi. Ia selalu ingin ada untuk Daniel dan Axel dalam kondisi apa pun. Menjadi tameng bagi permasalahan yang datang. Terutama bagi Axel, bidadari kecilnya. Apa pun akan dilakukan Bimo semata-mata demi membahagiakan Axel. Meski ia harus mengorbankan kebahagiaannya sekalipun.
***
“Masih melamun saja?” Axel kembali membuyarkan lamunan Bimo. Ia menyeringai, akhir-akhir ini Bimo merasa sering sekali mengingat potongan-potongan kisah di masa lalu yang terekam dengan jelas. Mungkin karena ada Axel di dekatnya sekarang. Apalagi semenjak Axel liburan semester saat ini, tingkah Axel berubah drastis. Tatap matanya, keceriaannya dan kedekatannya meninggalkan tanya di hati Bimo. Tidak seperti biasanya, ada yang aneh.
“Oh, ya. Bim. Bunda kemarin sempat ketemu Ira, lho. Dia memeluk Bunda lama sekali. Bunda jadi grogi juga.” Bimo cukup terkejut menerima informasi bundanya lalu Bunda mengambil kursi dekat Axel. Terlihat Axel mukanya langsung berubah masam.
“Lalu?”
“Ya, nanya-nanya tentang kamu sih. Biasalah Ira, dia begitu detail nanya keadaan kamu. Ya, Bunda cerita apa adanya.”
“Ya, enggak apa-apa juga. Bun. Kita sudah selesai kok. Enggak ada masalah.” Bimo melirik lagi ke arah Axel dengan perasaan tidak enak. Membicarakan Ira di depan Axel sebuah hal yang harus dihindarinya, bisa-bisa membuat mood anak itu berubah seketika. Tapi, bundanya tak mengerti juga. Kembali dibuka cerita tentang Ira dan cerita keseruan pertemuan itu.
“Dia kelihatan tambah cantik dan langsing, lho. Bim, “ kata Bunda. Muka Bimo agak memerah dan tersenyum kecut. Kembali diliriknya Axel. Anak itu hanya terdiam, entah menyimak atau tidak obrolan dirinya dengan Bunda. Atau pura-pura acuh, Bimo tak ingin menebak.
“Sepertinya dia masih menaruh harapan besar padamu, Bim. Coba kau dekati dia lagi.” Lagi-lagi Bunda berbicara apa adanya.
“Bunda ketemu Tante Ira di mana?” tanya Axel tiba-tiba. Perasaan Bimo langsung tak enak. Ia ingin memberikan isyarat pada bundanya untuk menghentikan obrolan selanjutnya, tetapi Bunda yang tidak tahu apa-apa malah antusias menceritakan pertemuan itu.
“Di super market, Xel. Ya, kebetulan sih.”
“Oh, begitu. Bun. Gimana kabarnya Tante Ira?”
“Sepertinya masih mengharapkan ommu, tuh.” Bimo menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Bunda tidak mengerti, betapa ia ingin mengakhiri obrolannya tentang Ira.
“Oh ya?” Axel menanggapi. Kuping Bimo memerah dan beranjak dari meja makan.
“Mau ke mana kamu, Bim?” Bunda bertanya pada Bimo, disadarinya anaknya langsung pergi di tengah obrolan tentang Ira.
“Aku mau mandi dulu, Bun. Habis itu istirahat, badan Bimo agak capek, nih,” jawab Bimo, dilihatnya Bunda menarik napas panjang.
“Ya, sudah. Istirahat sana. Selalu begitu, kalau diajak bicara tentang wanita,” tegur Bunda. Bimo hanya menyeringai dan meninggalkan Axel dan Bunda yang masih asyik membahas tentang Ira, perempuan yang sangat dibenci Axel.
“Terus gimana kelanjutannya, Bun?” Kalimat terakhir yang didengar Bimo sebelum masuk ke kamar, pertanyaan basa-basi. Ia yakin, Axel tak benar-benar ingin tahu keberadaan Ira, mungkin hanya untuk memperpanjang obrolan dengan Bunda agar suasana cair dan ada yang bisa dibahas.
Di dalam kamar, hati Bimo berdegup, wajah Ira terbayang seketika. Ia ingin sebenarnya bertemu Ira, kangen juga. Hanya Bimo takut kalau nantinya masalah akan muncul kembali. Ia sudah berjanji pada dirinya akan fokus dulu mendampingi Axel sampai beres kuliahnya, sampai Axel menemukan pendamping yang tepat.
“Om,” panggil Axel.
“Ya, kenapa Axel?”
“Katanya mau mandi, malah melamun lagi.” Axel melonggokkan wajahnya ke dalam kamar. Bimo langsung terduduk di bibir ranjang. Menatap Axel masuk ke dalam kamar dan duduk di sebelahnya.
“Akhir-akhir ini Axel perhatiin, Om banyak sekali melamun. Ngelamunin apa sih, Om? Apa kehadiran Axel, mengganggu Om?” tanya Axel. Pertanyaannya sedikit Membuat Bimo gelagapan.
“Enggak, dong. Kenapa punya perasaan begitu. Kamu sama sekali enggak mengganggu, Om. Bahkan Aku senang kamu ikut dan bisa ngobrol dengan Bunda.”
“Jika Axel mengganggu waktu Om sama Bunda, biar Axel pulang duluan. Tak mengapa Om. Axel kan sekarang ke mana-mana sendiri.” Bimo menatap Axel dengan heran.
“Enggaklah Axel, kenapa kamu begitu yakin Om terganggu. Sudahlah, hentikan basa-basi ini. Dengerin ya, cukup sekali. Dengerin Om.” Bimo terdiam untuk beberapa saat, sepertinya mulai kesal dengan pertanyasn Axel yang berulang.
“Om, sangat senang, kalau Axel mau main ke sini. Entah besok-besok tanpa Om, mungkin. Pasti akan menyenangkan bagi Bunda.”
“Rencana Om akan berapa hari di sini?”
“Sebetahnya kamu.”
“Jika Axel mau pulang besok gimana?”
“Besok? Oh, come on. Jangan besok dong. Kasihan Bunda. Lusa gimana? Apa kamu tak ingin jalan-jalan dulu di sini?” tanya Bimo. Axel sebenarnya ingin cepat pulang, gara-gara Bunda bercerita tentang Ira, dia takut obrolan tadi mengingatkan Bimo pada Ira dan seperti yang sudah-sudah, omnya dengan mudah mengabaikan perasaannya.
Kalau mereka di Jakarta, kans bertemu Ira semakin besar, seluas apa sih Jakarta? Rasa khawatir menyusup ke dalam hati Axel, dia tidak rela Bimo harus bertemu Ira kembali.
“Ehm, lusa? Tapi, kalau Om masih betah di sini. Biar Axel pulang duluan, Om. Enggak mengapa.” Axel bersikukuh.
“Dengerin aku Axel, Sayang! Kamu ke Jakarta pergi dengan Om. Pulangnya harus dengan Om lagi. Enggak enak dong sama Ayah Daniel. Laki-lali macam apa aku, yang tega bawa anak gadis sahabatnya lalu membiarkannya pulang sendirian? Mengerti?” tanya Om Bimo. Axel menyeringai.
“Siap jenderal, aku manut jenderal saja kalau begitu.”
“Om ingin mengajakmu keliling Jakarta, Xel. Biar ada kenangan yang indah dengan Om di sini. Nanti mungkin bisa cerita sama anakmu bahwa ommu ini begitu menyenangkan,” goda Bimo sambil mengedipkan matanya dengan jenaka. Axel tertawa lepas.
“Anakku kan anak Om juga.” Hati Bimo berdesir hebat. Lagi-lagi Axel melemparkan sebuah teka-teki, maksud perkataannya ke mana. Oh, ya, mungkin anaknya akan menjadi anaknya juga, bisa jadi, aneh juga. Bimo segera menepis hal buruk yang hinggap di kepalanya.
“Okay, Axel paling sampai lusa ya, Om.” Axel kembali lagi menegaskan. Bimo mengangguk cepat. Dua hari di Jakarta, semoga tak mengecewakan bundanya. Biasanya ia menghabiskan waktu untuk bundanya, paling tidak satu minggu.
“Terserah, Ibu Bos sajalah,” goda Bimo. Axel tersenyum lebar dan tiba-tiba merebahkan kepalanya di bahu Bimo begitu saja, refleks. Bimo kaget bukan kepalang, mereka hanya berdua saja di dalam kamar, dengan jarak begitu dekat.
Oh, no. Axel. This is wrong, jerit hati Bimo. Segera Bimo berdiri, ia takut tak bisa mengendalikan diri. Axel, anakku, jerit hati Bimo lagi. Pikiran dan hatinya terus dilawan dalam kesadaran penuh.
“Ayo, kamu mandi dulu. Bau tahu?” Axel tampak kaget, dan mencoba membaui tubuhnya sendiri mengecek dengan benar aroma tubuhnya sendiri.
“Ih, Om Bimo yang bau. Axel enggak. Enak saja, sini mana yang bau?” Axel malah menantang dan mendekatkan tubuhnya pada tubuh Bimo. Refleks, Bimo mendorong tubuh mungil itu, nyaris saja terjerembap, kalau tidak cekatan Bimo merangkulnya. Sepersekian detik ketika Axel ada dalam rengkuhannya, mereka seolah mematung, hati Bimo pun Axel didera gemuruh yang cukup dahsyat.
Seketika mereka melerai tubuh mereka menjauh. Sementara debur dalam hati belum bisa berhenti dengan benar. Bimo maupun Axel sama-sama kikuk. Mereka sadar, ada yang salah tengah terjadi. Sekarang semakin kuat dan semakin menakutkan.
“Cepat mandi sana!” teriak Bimo mengalihkan perhatian Axel padanya. Axel gelagapan dan keluar dari kamar Bimo dengan perasaan tidak enak. Gemetar dan serba salah. Dari sudut matanya keluar bulir air. Entahlah, Axel tiba-tiba merasa sedih dengan perasannya sendiri. Dia takut bertepuk sebelah tangan. Dia takut cintanya menjadi cinta platonis.
Terbayang wajah ayahnya seketika. Ada perasaan bersalah.
Sementara Bimo di dalam kamar berusaha tetap sadar, seperti biasanya menyangkal seluruh perasaannya. Kejadian barusan adalah sebuah kebetulan dan tidak boleh terulang kembali.
***