Satu yang Axel khawatirkan, apabila Bimo kembali ke Jakarta, ia akan melupakannya. Ada banyak cara, salah satunya Axel takut Bimo menemukan seseorang yang mampu meraih hatinya. Karena Axel tahu, mimpi terbesar Bimo adalah membahagiakan Bunda. Mimpi Bunda sangat sederhana, dia ingin melihat Bimo menikah, mempunyai keluarga kecil dan bahagia. Hal lainnya membayangi pikiran Axel, ketika laki-laki itu pergi dan menghilang kemarin, Axel merasa dunianya pun ikut hilang. Tak ada orang yang akan mengerti perasaannya, sekalipun dirinya sendiri. Dalam hatinya, hanya ada perasaan bersalah dan tak pantas mencintai, dirinya yang selalu menghakimi perasaannya sendiri. Padahal cita-citanya hanya satu, dia ingin mewujudkan lukisan kupu-kupu ungu itu dalam hidupnya. Apa salah? Di mana kesalahannya? “

