Seharian Axel tidur, Bimo tak berani mengganggu. Ia habiskan waktu di paviliun. Memilah-milah barang yang akan dibawanya ke Jakarta. Ada beberapa juga yang Bimo bersihkan juga ada yang dibuangnya. Ruangan terasa lengang, dilihatnya semua barang sekarang telah tertata begitu rapi. Kebanyakan baju bekas tapi layak pakai karena masih bagus dan jarang dipakai, Bimo kemas ke dalam dus besar. Ia berencana menghibahkannya ke sebuah yayasan, berharap masih bisa bermanfaat untuk orang lain. Bimo tampak sedih harus meninggalkan tempat itu, begitu banyak kenangan. Tergambar dengan jelas langkah-langkah kaki kecil Axel berlarian di sana. Bimo mengejar dengan gemas, semua bagaikan film yang diputar kembali. Jika saja, kini Bimo diberi pilihan. Sebenarnya, ia ingin tetap tinggal di sana

