Panglima Sai memicing. Menatap putra semata wayangnya dengan dengusan pelan saat dia menggeleng singkat dan kekehan ringan dari Letnan Edsel terdengar. Menyapa gendang telinganya yang kaku di pagi hari. "Jangan terlalu kaku. Gabriel hanya memegang ketapel, bukan granat," tegur Letnan Edsel saat Sang Letnan mengambil tempat di sebelahnya dan memasang topi militer hitam Dallas di kepalanya. "Ethan juga menyimpan handuk kecil rajutan tangan Ariana. Tidak ada yang salah dengan menyimpan barang berharga yang diberikan orang tercinta." Panglima Sai mendesis. Mengintip ekspresi hangat Letnan Edsel dengan decakan samar. "Aku rasa, istriku salah besar dalam hal ini. Dia seharusnya belajar memegang pisau atau tombak kecil, bukan ketapel." Letnan Edsel tertawa lagi. "Hei, sudahlah. Ethan bilang, k

