Ariana harus menahan keinginannya untuk merebus air di dalam teko dengan kening berkerut saat dia kesulitan memyalakan kompor elektrik sejak lima belas menit yang lalu. Dia berulang kali mencoba, dan gagal. Terus begitu sampai dia menyerah. Mengangkat kedua tangannya ke atas kepala dengan gelengan kepala lelah. Ariana beranjak keluar dari dalam rumah. Keinginannya untuk mengisi botol-botol yang kosong demi persediaan air minum, pupus sudah hanya karena kompornya tidak mau menyala. "Kenapa menyebalkan sekali?" Ariana mendesis pelan. Menendang pintu rumahnya dengan desisan saat jempolnya terantuk dan dia merintih pelan. Meninggalkan kekehan ringan dari seseorang yang berjaga di dekat rumahnya. "Ah, Letnan?" Letnan Edsel membisu seketika. Mendengar suara lembut itu menyapanya dengan sen

