Intricate

1717 Kata
Zanara, Alice, dan Gabriel berjalan bersama memindai berbagai produk minuman ringan yang tertata di rak. Alice berjalan di depan, sementara Gabriel mendorong trolly berjalan beriringan dengan Zanara. Alice berbalik dan memasukkan beberapa botol minuman yang sudah dipilihnya. Ia berhenti sejenak, menoleh pada Zanara dan Gabriel secara bergantian. "Apa kalian sejak tadi hanya diam seperti ini?" Gadis itu memicingkan mata menatap penuh selidik. Zanara mengangguk polos. "Sudah kuduga," ucap gadis itu, kemudian memutar tubuhnya dan kembali sibuk memilih apa saja yang ingin dibelinya. Namun tak berapa lama, ia berbalik lagi. "Hey, Zee. Aku tiba-tiba terpikirkan sebuah ide." "Apa itu?" "Bagaimana jika kita mengadakan pesta di apartemenmu?! Untuk merayakan kemandirian seorang Zanara Miller." Wajah gadis itu sumringah ketika mengutarakan idenya. "Aku mendengar ada sarkas dalam kalimatmu barusan. Ingat Al, sejak dulu aku sudah mandiri. Katakan saja langsung bahwa ide itu muncul karena kau senang aku sudah menjadi single sekarang." Zanara memutar bola matanya. Alice malah terkekeh girang berhasil menggodanya. Gabriel yang sejak tadi hanya diam akhirnya ikut bicara. "Jadi benar kau dan ...." "Ya begitulah." Zanara mengangguk, memotong pertanyaan Gabriel yang memang tak ingin diselesaikannya. Setelah menjawab pertanyaan pria itu, ingatan Zanara kembali pada Brandon. Ia mengembuskan nafas lemah. Hatinya masih terasa sakit setiap teringat tentang Brandon, tapi ia tak tahu apa yang harus ia lakukan agar sakit itu menghilang. Alice merangkul pundak Zanara. Seolah menyadari yang dirasakan sahabatnya saat ini. Gadis itu tak akan menangis, ia kuat dan tegar. Namun, tak ada yang mengetahui serapuh apa hatinya sekarang. Ia tak ingin melupakan kenangan bersama Brandon, karena masih ada cinta untuk pria itu. Ia hanya ingin melupakan sakit dari kebersamaan mereka selama ini. Itu saja. *** Brandon mengerjap. Cahaya terang menyorot matanya, membuatnya memicing. Perlahan ia menormalkan pandangan, mengedar ke seluruh penjuru ruangan yang didominasi warna putih dan biru. Dimana dirinya sekarang? Di surgakah? Apakah ia sudah mati? Pertanyaan itu menggema di telinganya. Tak ada seorang pun di sana selain dirinya. Tangan kirinya terasa kebas. Pantas saja, jarum infus tertancap di sana. Dan ia baru menyadari, ada rasa nyeri yang hebat ketika berusaha menggerakkan lengan kanannya. "Akh!" pekiknya. Ia menoleh ke arah lengan yang kini sedang dibebat. 'Apa yang sudah terjadi padaku?', batinnya. Ia kembali berbaring, pasrah karena tak mampu berbuat apa pun. Tubuhnya terasa sangat sakit mulai ujung kaki hingga ke atas. Kepalanya juga terasa pengar. Seperti telah menghabiskan sebotol vodka seorang diri. Ia berusaha mengingat kejadian yang dialaminya sebelum terbaring di ranjang ini, namun hanya sepotong kejadian. Lainnya tidak. Brandon hanya mengingat bagian tentang Zanara. Ia sedang mengejar Zanara saat itu. Namun, gadis itu tak menoleh. Entah apakah Zanara memang tidak mendengar atau ia sudah sangat membencinya. Ia pantas membenci Brandon. Apa yang dikatakan pria itu sangat melukai perasaannya. Di saat penting, di mana hubungan mereka harus benar-benar dipertahankan, Brandon justru dengan mudah mengucapkan kalimat itu. Brandon menghela nafas lemah. Kejadian ini seperti balasan setimpal baginya karena telah menyakiti hati gadis yang mencintai dan dicintainya. Ia berharap gadis itu sekali saja menghubungi dan membiarkannya menjelaskan apa yang ada dalam hatinya. Bukan sebuah perpisahan yang ia inginkan, melainkan perubahan. Ia hanya ingin sekali saja Zanara menjadi wanita yang membiarkannya menang dalam segala hal. Sekali saja gadis itu merayunya agar tak marah, memintanya agar tak pergi. Sekali saja. Namun, tentu saja, tak ada hal semacam itu dalam kamus Zanara. Sesungguhnya Brandon suka pengaruh gadis itu. Ia sangat suka ketika gadis itu memerintah hanya dengan tatapan matanya yang tajam. Tak ada kata yang terucap namun jelas apa yang ia inginkan, dan Brandon pun selalu tahu apa yang diinginkan gadis itu. Cklek! Pintu terbuka, wajah oriental yang cantik ditambah ulasan senyum, menyembul dari sana. "Bran, kau sudah bangun?" Gadis itu meletakkan bungkusan di tangannya, kemudian mengambil segelas air, membantu pria itu meminum dengan sedotan. "Bagaimana perasaanmu?" tanyanya, sembari duduk di samping ranjang Brandon. Pria itu melenguh. "Rasanya sakit, di bagian sini." Ia menunjuk lengan kanan dengan tolehan kepalanya. Alis Amelie bertaut, wajahnya terlihat cemas. "Kata dokter memang ada dislokasi di bagian bahumu, tapi kau tidak apa-apa. Kepalamu juga aman." "Zanara ... apakah dia menghubungi selama aku tak sadar?" Amelie menggeleng. Wajahnya terlihat suram. Bukan karena Zanara tak menghubungi, tetapi karena Brandon tetap saja mengingat gadis itu meski dalam kondisi seperti ini. Itu menyakitkannya. "Dia tidak menghubungi atau datang, Bran. Aku ... aku juga tidak menghubunginya." Brandon menoleh pada gadis itu. Menyayangkan keputusannya tak menghubungi Zanara. Padahal Brandon sangat berharap gadis itu datang, menengok kondisinya sekarang. "Tak apa, ada aku di sini yang akan terus menemanimu. Jadi kurasa tak perlu ada Zanara atau siapa pun." Gadis itu meraih tangan Brandon. "Oh, iya! Aku menghubungi ibumu. Ia dan Ayden sedang menuju kemari." Brandon hanya mengangguk lemah. Ia justru tak berharap ibunya melihat kondisi yang seperti sekarang. Ia takut jika wanita itu akan cemas. Terlebih yang menemaninya bukan Zanara, melainkan Amelie. Apa anggapan ibunya nanti? Selama ini Ibu Brandon sangat menyukai Amelie. Ia tahu hubungan Amelie dengan Ayden sebelumnya, ia bahagia karena itu. Dan ketika hubungan itu berakhir, timbul pikirannya untuk menjodohkan Amelie dengan Brandon. Andai Ibunya tahu sejauh apa hubungannya dengan Amelie, ia pasti akan sangat bahagia. Padahal tidak demikian yang dirasakan dan diharapkan Brandon. Sejak dulu, Zanara ingin sekali bertemu dan mengenal keluarga Brandon. Namun, dirinya tak kunjung membawa gadis itu. Ia punya alasan untuk itu. Salah satunya adalah situasi yang kurang mendukung. Situasi dimana Ibunya yang masih mengharapkan Amelie. Dan Brandon sangat malas menanggapi pertengkaran yang berisikan pembahasan tentang hubungannya dengan gadis itu. Namun, Zanara tetap sabar menanti saat itu tiba. Saat dimana Brandon siap mengenalkan gadis itu dengan keluarga besarnya. Sayang sekali semua berakhir sebelum hal itu dapat ia penuhi. Permohonan sederhana dari Zanara bahkan tak mampu ia wujudkan. Lantas siapa yang bersalah dalam hal ini? Bahkan, jika dipikir, Zanara juga tak pernah membahas tentang keluarganya. Ia sangat tertutup tentang itu semua. Jadi anggap saja ini impas. "Itu dia anak bandelku!" Suara lantang wanita dari celah pintu, memecah lamunannya. Ia menoleh pada wanita itu dengan senyum sumringah. Wanita berusia setengah abad lebih itu menghambur ke arah Brandon dan memeluknya. "Kau ini, selalu membuat ibu cemas. Apa yang kau lakukan sampai seperti ini?" Wanita itu menyentuh memar di wajah Brandon, membuatnya meringis kesakitan. Matanya melirik ke arah pintu, dimana Ayden dan seorang wanita muncul. "Hey, kau juga datang!" sapa Brandon. Ayden mendekat, menatap kondisi adiknya yang terbaring dengan kondisi memprihatinkan. "Lihatlah, kasihan sekali kau! Apa yang membuatmu seperti ini? Patah hati?" godanya, yang hanya dibalas kekehan. Brandon menoleh pada gadis yang dibawa saudaranya itu. "Kau tidak ingin mengenalkannya pada kami?" Gadis yang sedari awal hanya berdiri jauh dari mereka pada akhirnya mendekat karena isyarat dari Ayden. Brandon melirik Amelie yang terlihat tak nyaman dengan keberadaan Ayden dan gadis yang terlihat seperti kekasihnya. "Perkenalkan, ini Amanda. Amanda, ini adikku satu-satunya yang paling bandel, Brandon." Gadis itu mengangguk singkat pada Brandon. Ayden memindah tatapannya pada Amelie. "Dan ini Amelie, dia ...." "Uhm, dia yang menolong dan membawaku kemari. Dia teman kecil kami." Brandon memotong perkataan Ayden. Menghindari kalimat lain yang akan membuat segala masalah menjadi rumit. "Benar, kan, Amelie?!" "Ah, iya," jawab gadis itu singkat. Wajahnya terlihat tak senang dengan jawaban Brandon. Ia membenahi tas yang tergantung di pundaknya. "Uhm, kalian mengobrollah. Kebetulan aku ingin ke kantin untuk membelikan kalian minum," pamit Amelie, kemudian mengecup bibir Brandon dengan tenang tanpa memikirkan anggapan lainnya. Amelie dengan tenang memandang satu per satu dari mereka yang berada di ruangan itu secara bergantian. Kemudian beranjak pergi, meninggalkan Brandon dengan kecamuk hatinya atas sikap Amelie, juga kakak dan ibu Brandon dengan anggapan bahwa Brandon dan Amelie memiliki hubungan khusus selama ini. *** Amelie kembali ke ruangan Brandon dengan 4 cup kopi dalam sebuah wadah dan beberapa bungkusan kertas berisi hotdog. Ia letakkan di atas meja yang berada di sudut ruangan. Amelie memilihkan ruang VVIP untuk Brandon agar leluasa ketika keluarga berkunjung seperti ini. Pelayanan yang diberikan oleh rumah sakit juga bisa lebih maksimal. Dan satu hal lagi, tak akan ada sorotaan awak media, agar Brandon dapat menjalani penyembuhan dengan tenang Gadis itu mendekat pada Brandon. Ia menunduk menyejajari Ibu Brandon yang sedang duduk di samping putranya yang kini sedang tertidur. "Aku membawakan kopi dan makanan untukmu. Makanlah dulu, Miryam." Gadis itu mengulas senyum. Wanita yang dipanggil Miryam oleh Amelie, mengangguk, tangannya membelai wajah gadis itu. "Aku senang kau ada di sini. Terima kasih," ucapnya. Amelie tersenyum kemudian mengangguk membalas perkataan wanita itu. "Dimana Ayden dan Amanda?" tanya Amelie, celingukan mencari dua orang itu. Wanita itu meraih jemari Amelie. Menggenggamnya lembut kemudian tersenyum. "Kukira kau tidak nyaman dengan keberadaan mereka, jadi kusuruh mereka pulang." Amelie terdiam. Sejak dulu Miryam selalu lebih mengerti perasaannya dibanding ibunya sendiri. Ia memang merasa tak nyaman dengan keberadaan Ayden dan Amanda. Terlebih Ayden yang beberapa kali menatapnya dengan tatapan menyelidik. Amelie mengambil kursi kosong dan duduk di samping Miryam. Wanita itu membelai pipi Amelie. "Apakah hubunganmu dan Brandon baik-baik saja? Kupikir Brandon sudah bertunangan dengan gadis lain, siapa itu namanya?" "Zanara," jawab Amelie, ragu. Sebenarnya ini kesempatn baginya untuk mengambil hati Miryam sekali lagi. Terlebih dengan situasi seperti sekarang akan sangat menguntungkan baginya mendapatkan hati Brandon, melalui bunya. "Ah, ya, Zanara. Ke mana gadis itu? Aku penasaran padanya. Mengapa ia tidak muncul sama sekali untuk menjaga anakku?" tanya Miryam, tegas. "Uhm, itu ...." Belum sempat Amelie menyelesaikan kalimatnya, suara lenguhan Brandon membuyarkan momen kedekatan antara dirinya dan Miryam. Perlahan mata pria itu terbuka, memandang Amelie dan Ibunya bergantian. "Ibu, kau masih di sini?" "Iya. Aku meminta Ayden untuk pulang, tapi aku ingin di sini menemani agar Amelie tidak terlalu lelah menjagamu." Miryam menoleh pada Amelie yang tersenyum mendapat perhatian darinya. "Kau istirahatlah lagi." Brandon mengangguk lalu berusaha memejamkan mata. Tubuhnya lelah dan sakit semua, hatinya gelisah. Zanara sama sekali tak menghubunginya sejak terakhir kali mereka bertengkar. Padahal ia berharap gadis itu setidaknya menanyakan kabar, tapi nihil. Ia mengembuskan nafas lemah. Jika sudah seperti ini, tandanya ibunya pasti berharap kembali pada Amelie. Sementara yang Brandon inginkan adalah ibunya mengenal Zanara. Namun, hubungannya dengan Zanara yang rumit tak mampu ia jelaskan. Mungkin kini hubungan itu sudah tak ada lagi. Dan percuma saja berusaha mengenalkan mereka. Terlebih Ibunya sudah menyukai Amelie sejak dulu. Brandon berusaha memejamkan mata. Mengusir sejenak pikiran apa pun tentang Zanara. Ia lelah, ia butuh tidur agar segera pulih dan kembali bekerja. Ia tak boleh terus menerus meratapi hubungannya dengan Zanara. Ia harus bangkit kembali meski tak tahu dari mana memulainya, tapi harus. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN