Accident

1365 Kata
Zanara dan Gabriel bersama mendorong lemari buku yang diberikan Alice ke dinding, dekat dengan jendela yang berada di sudut ruangan. Apartemennya belum sepenuhnya terisi, tapi setidaknya ia sudah memiliki beberapa yang paling ia butuhkan, ranjang, buku, lemari penyimpanan, juga peralatan memasak. Meski dulu selama bersama Brandon, Zanara sangat jarang memasak. Bahkan tak pernah sekali pun ia menyentuh benda-benda itu, tapi mulai saat ini ia akan belajar untuk melakukan hal itu. Gabriel benar, dapur senyaman ini akan sayang jika tidak dimanfaatkan dengan baik. Beruntungnya, Alice memberikan beberapa buku resep memasak. Ia bisa memanfaatkannya saat dibutuhkan. Dari kejauhan, Alice memerhatikan Gabriel dan Zanara. Sejak awal memasuki apartemen, mereka sudah melakukan segala hal bersama. Tanpa diminta, Gabriel segera membantu apa pun yang dibutuhkan oleh Zanara. Alice mendekat pada Zanara dan Gabriel yang sedang berbincang seolah mendiskusikan sesuatu. Ia berdiri tepat di antara keduanya, menguping apa yang mereka bicarakan. "Uh, teman-teman—" "Sebentar, Al!" ucap Gabriel dan Zanara bersamaan. Alice yang ditolak oleh kedua sahabatnya itu, akhirnya memilih untuk mundur dan menghindar dari mereka. Membiarkan keduanya kembali berbincang dan hanya memerhatikan saja dari kejauhan, kedekatan yang tidak mereka sadari. Tak berapa lama, Gabriel dan Zanara berbalik kemudian berjalan ke arah Alice yang sedang duduk santai di atas meja bar. "Akhirnya kalian ingat padaku. Apa saja yang kalian dapat dari diskusi yang baru saja kalian lakukan?" goda Alice. Gabriel tersenyum menampakkan deretan giginya yang putih dan rapi. Sementara Zanara tak menanggapi, ia berjalan ke belakang meja dan membuka lemari penyimpanan di bagian bawah, mengambil 3 botol minuman ringan untuk mereka. "Terima kasih, teman-teman. Aku tak bisa bayangkan jika tanpa bantuan kalian." Zanara merangkulkan lengan ke pundak Alice lalu mengecup pipinya. "Aaww ... lihatlah, Gabe, gadis ini mesra sekali padaku." Ia kemudian menoleh pada Zanara setelah melontarkan candaan ke arah Gabriel. "Apa lagi yang kau mau dariku, sayang, sampai kau semesra ini, hm? Katakan saja mumpung aku masih di sini." Zanara terkekeh mendengar kalimat yang baru saja diucapkan sahabatnya itu, kemudian memeluk Alice dengan gemas. "Kau tahu saja." "Apa yang tidak kuketahui darimu, Zee? Katakan sekarang! Atau kau ingin mengatakannya berdua saja?" godanya lagi, membuat Zanara menggeleng heran dengan selera humor Alice hari ini. "Maukah kau menemani malam ini? Ini malam pertama tinggal di tempat ini, aku belum terbiasa." Gadis itu meringis. "Oke, jangan ejek aku. Semua orang punya rasa takut, bukan?!" "Ya ... ya ... aku tahu semua orang punya rasa takut, tanpa kau minta aku memang berencana menginap di sini. Tapi tunggu, apa kau punya minuman?" tanya Alice, seketika membuat Zanara teringat stok minuman yang terakhir yang tersisa. Zanara menggeleng menyesal. "Uhm, bagaimana kalau kita ke supermarket untuk berbelanja sekalian makan siang bersama?" ajak Gabriel, setelah sekian lama hanya menyimak percakapan antara dua orang sahabat yang begitu mesra dan akrab. "Oke, ayo!" Alice dan Zanara berseru kompak. Wajah ceria mereka menular pada Gabriel yang ikut memulas senyum. Alice melompat ke lantai, menepuk pantatnya memastikan tak ada debu yang menempel di sana. Kemudian mereka bertiga berjalan untuk makan siang bersama. *** Brandon merasa sedikit risih dengan sikap Amelie padanya. Gadis itu berubah menjadi posesif sejak ia memutuskannya beberapa waktu yang lalu. Ia memang pria single sekarang, tak ada lagi hubungan dengan wanita mana pun, kecuali Amelie yang masih menganggap hubungan mereka baik-baik saja. Namun, tetap saja ia merasa tak nyaman dengan perlakuan Amelie yang berubah menjadi sangat penuntut dan semakin tak terkendali. Seperti hari ini, Amelie tiba-tiba menghampiri Brandon dan duduk di pangkuan pria itu. Merangkul lehernya dan tak henti mengecup bibir Brandon. Ia sudah tak perduli pandangan tiap orang yang mulai tertuju pada mereka. Tak ada satu pun yang tahu hubungan Brandon dan Zanara yang sudah berakhir. Karenanya mereka menatap aneh melihat prilaku dua sejoli itu. "Uhm, Amelie, stop! Mereka memerhatikan kita." Brandon berusaha menjauhkan wajah Amelie yang terus saja menempel padanya seperti perangko. "Kenapa, Bran? Biarkan saja mereka melihat. Mereka bukan anak kecil, bukan? Meskipun kita bercinta di sini mereka sah saja jika ingin melihat." Gadis itu kini menyusupkan tangan ke sebalik punggung Brandon lalu bersandar di dadanya. "Iya, mereka boleh melihat kita bercinta atau apa pun, hanya jika kita sedang bermain film biru. Sekarang menjauhlah, Amelie! Aku tak bisa bernafas." Gadis itu menjauh. Wajahnya tetap tenang seperti tak terjadi apa pun. Seolah Brandon tidak sedang menolaknya melainkan hanya malu karena tak ingin hubungan mereka diketahui banyak orang. Terlebih yang mereka tahu, Brandon dan Zanara akan segera menikah. Namun, bagi Amelie, menjadi simpanan Brandon pun ia rela, asalkan selalu bisa bersama pria itu. Ia sudah kecanduan pada seorang Brandon Nelson. Ia menyukai segala hal tentang pria itu. Aroma tubuhnya, wajahnya yang tampan dengan bola mata kelabu dan tatapan matanya yang teduh. Segalanya. Dari penampilan, Brandon bukan tipikal seorang player. Ia bahkan tidak termasuk ke dalam kategori pria metroseksual. Penampilannya secara fisik sederhana meski memiliki wajah tampan. Rambut cepaknya yang sewarna tembaga tak pernah disisir klimis, hanya diberi gel rambut dan ditata seadanya. Terlebih masalah gaya berpakaian. Ia selalu berpenampilan ala kadarnya dan hanya memakai apa yang membuatnya nyaman. "Bran ... apa kau mau makan siang bersama?" ajak Amelie, berharap pria dihadapannya setuju dan sesekali lebih bebas memperlihatkan kedekatan mereka. Brandon menatap gadis itu sekilas, tak menjawab ya atau tidak. Ia kini tak memahami perasaannya sendiri. Dulu saat masih bersama Zanara, ia sangat tergila-gila pada Amelie. Seringkali memutuskan untuk pulang terlambat hanya demi menghabiskan waktu bersama gadis itu. Sekedar b******u atau lebih jauh. Bercinta dengan Amelie seolah menjadi pelampiasan yang indah bagi Brandon. Ketika bersama Zanara, ia layaknya seorang hamba yang memuja Sang Ratu. Pasrah dan selalu kalah. Bahkan dalam urusan ranjang, Zanara selalu bisa memegang kendali. Brandon bukan tak menyukai hal itu. Ia hanya ingin sesekali membuat gadis itu yang bertekuk lutut padanya. Sekali saja Brandon yang memenangkan pergumulan mereka, tapi tak pernah terjadi. Sebaliknya ketika bersama Amelie. Gadis itu pasrah, dan menyerahkan segalanya pada Brandon. Ia merasa menjadi lelaki yang sebenarnya ketika bersama Amelie. Ia merasa terpuaskan dalam segala hal. Dan merasa dipuja. Amelie masih menatapnya, menunggu jawaban dari pria itu. "Bran ... bagaimana? Mau, ya?!" tanya gadis itu lagi. Kali ini sorot matanya penuh harap. Ia tak ingin ditolak lagi. Setidaknya jangan menolak ajakannya untuk sekedar makan bersama. Tak akan ada yang akan salah menafsirkan ketika melihat dua orang makan bersama, bukan? "Hmm ...." Hanya itu jawaban dari mulut Brandon, tetapi sudah membuat Amelie tertawa girang. "Kau mau? Sungguh?" Brandon mengangguk tanpa menoleh pada Amelie. "Yes! Oke kalau begitu. I'll see you later, baby." Amelie kembali mengecup bibir Brandon lalu melenggang pergi. Brandon menatap langkah gadis itu dan mengembuskan nafas berat. *** Brandon dan Amelie berjalan santai menuju Cafe tak jauh dari lokasi syuting mereka. Seperti biasa, Amelie tak melepaskan rangkulan tangannya pada lengan pria itu. Brandon hanya pasrah dengan perlakuan Amelie yang berlebihan. Meski ia sudah mengatakan berulang kali pada gadis itu, tetapi tak ada satu pun cara yang ia gunakan mempan pada Amelie. Gadis itu tetap berbuat semaunya. Seolah bentuk balas dendam atas keputusan Brandon kala itu. Brandon berjalan malas, mengedar pandangan ke kanan dan kiri. Seolah mencari sesuatu. Ia mulai tak fokus. Bayangan Zanara tiba-tiba hadir begitu saja dalam ingatannya. Begitu pula ketika pandangan matanya menoleh ke kiri tepat di seberang jalan, menemukan sosok kekasih hatinya yang sedang berjalan entah ke mana tujuannya. Namun, hanya Gabriel yang terlihat berjalan bersama Zanara. 'Ke mana Alice? Zanara selalu bersama Alice,' batinnya. Secara reflek, Brandon melepaskan lengan Amelie darinya. Ia berlari sembarangan. Matanya berusaha mengikuti ke mana arah perginya Zanara. "Zanara!" teriak pria itu, memanggil nama kekasihnya yang semakin jauh. "ZANARA!" panggilnya makin keras. Namun, gadis yang dipanggilnya sejak tadi tak sadar tentang keberadaan Brandon. Ia tetap berjalan lurus dan menghilang begitu saja. Brandon tak sadar berlari ke jalan. "Brandon, awas!" Lamat ia mendengar suara teriakan Amelie, memperingatkan. Ia menoleh dan sadar sebuah mobil semakin mendekat ke arahnya. Secara reflek ia mundur, tetapi terlambat. Mobil itu mengerem mendadak. Ujung bagian depan mobil menyerempet tubuh Brandon. Pria itu terpental dan jatuh. Samar-samar ia mendengar suara ketukan sepatu Amelie mendekat padanya. Ia berusaha bangun namun tak kuasa. Tubuhnya terasa berat. "Oh, Tuhan! Brandon, apa kau baik-baik saja? Bran ...." Suara Amelie terdengar semakin menjauh. Mata Brandon terasa berat seperti ada cahaya menyilaukan yang menyorot menerpa retina-nya. Ia memicing, makin lama tubuhnya serasa melemah. Lalu gelap .... ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN