Brandon pulang lebih awal. Ia merindukan kekasihnya setelah seharian tak memberi kabar, berharap Zanara tak marah padanya karena mematikan ponsel saat bekerja. Ia berencana mengajak gadis itu untuk makan malam di Restauran favorit mereka sembari bernostalgia mengingat bagaimana canggungnya saat kencan pertama.
Ia bahkan sudah mempersiapkan gaun untuk gadis tercintanya. Lengkap dengan sepasang stiletto yang pasti akan tampak indah menghiasi kaki jenjang Zanara.
Ia tersenyum sendiri berangan tentang kekasihnya itu. Kesibukannya sebagai aktor mulai menyita waktu kebersamaannya dengan Zanara. Karenanya malam ini ia ingin sesekali memberi kejutan untuknya. Makan malam romanttis, hanya mereka berdua tanpa sorotan media.
Suara nyaring pujaan hatinya terdengar hingga ke kamar mandi. Ia menyegerakan ritual yang sedang ia lakukan dan keluar dengan handuk melilit pinggangnya.
Zanara sudah berada di kamar saat dirinya masuk untuk mengganti pakaian.
"Hey, sayang. Kau baru pulang?" sapa Brandon, kemudian mengecup bibir kekasihnya. Aroma menthol segar menguar dan langsung terhirup oleh Zanara.
"Hmm ... kau wangi sekali. Mau ke mana?" tanya Zanara, menyelidik.
Biasanya Brandon memang kerap bepergian bersama teman-temannya ketika mereka tak ada kencan. Namun, malam ini waktu Brandon seharusnya hanya untuknya.
"Aku ada rencana makan malam," jawab Brandon, asal, berniat menggoda kekasihnya itu.
"Oh, begitu ...," ucap Zanara, tampak kecewa.
Brandon melirik gadis itu dengan ekor matanya. Tawanya meledak seketika, merasa puas ketika melihat kekasihnya memberengut.
"Bran? Kau baik-baik saja? Kenapa tiba-tiba tertawa seperti itu?" Masih dengan wajah cemberut, Zanara terheran dengan kelakuan Brandon yang tiba-tiba tergelak.
"Tidak, sayang. Aku hanya merasa kau lucu jika memberengut seperti itu. Sekarang cepatlah berdandan! Kita akan makan malam," ujar Brandon, menunjukkan gaun yang ia beli untuk Zanara.
Wajah Zanara seketika sumringah. Ia memeluk dan mencium Brandon yang kini sudah siap dengan kemeja navy-nya dan memberi isyarat pada Zanara untuk bergegas. Gadis itu dengan patuh berlari ke kamar mandi dan mempercantik diri untuk kencannya malam ini.
***
Zanara dan Brandon duduk di sebuah ruangan berukuran 3x4 yang biasa disebut washitsu, ruangan yang terbuat dari kayu, juga tatami yang melapisi lantainya. Salah seorang pelayan dengan pakaian Yukata, masuk dan membuatkan teh hijau ala Jepang. Disusul pelayan lain menyajikan makanan yang mereka pesan.
Mereka menikmati makanan di meja sembari mengobrol, membicarakan tentang banyak hal yang tak sempat mereka bicarakan karena kesibukan. Bahkan sesekali bicara tentang pekerjaan masing-masing. Hal semacam ini yang membuat baik Zanara maupun Brandon saling memahami satu sama lain—untuk urusan pekerjaan. Untuk masalah lain, tentu berbeda cerita.
Entah dari mana awal mulanya, obrolan mereka pada akhirnya berujung pada keributan kecil, seperti biasanya.
"Aku hanya memintamu untuk berhenti dari pekerjaan yang melibatkan pria itu, dimana salahnya?" desis Brandon, berusaha menahan intonasi dan volume suara tetap rendah. Agar hanya mereka berdua yang mendengar.
"Mungkin bagimu tidak salah, Bran, tapi tidak bagiku. Sekarang begini, aku akan keluar dari tim Gabriel, asalkan kau keluar dari manajemen-mu yang sekarang supaya tidak selalu bertemu dengan Amelie. Bagaimana?"
"Itu berbeda, Zanara!"
"Dimana perbedaannya? Hal itu sama-sama merupakan hal yang tak bisa dipisahkan dari kita, Brandon. Itu pekerjaan kita, hidup kita."
Zanara meraih jemari kekasihnya. "Sayang, bukankah kita sudah pernah membahas ini sebelumnya? Sebesar apa pun rasa cemburu, akan tetap saling percaya satu sama lain. Iya, kan?!"
Brandon membuang wajahnya ke samping. Zanara benar. Hal itu memang pernah mereka bicarakan dan bahkan selama ini Zanara sudah membuktikan kesetiaannya. Namun, tetap saja Brandon terlalu cemburu pada Gabriel. Menurutnya, pria itu berpotensi untuk merebut hati semua gadis, tak menutup kemungkinan Zanara.
Mereka sama-sama lelaki, tentu paham bagaimana sifat dasar laki-laki. Tak akan pernah cukup hanya dengan satu cinta. Itulah mengapa ia bisa menjalani bersama Zanara juga Amelie. Mungkin itu juga sebabnya ia mudah dikuasai cemburu.
"Brandon ...." Zanara melunakkan suaranya. Berusaha merayu kekasihnya agar tak lagi kesal. Namun, Brandon tetap bergeming.
"Keputusanku tetap sama, Zanara. Kau keluar dari tim-mu itu atau—"
"Atau apa?" tembak Zanara, mendengar perkataan Brandon yang terhenti.
"Atau ... kau tahu maksudku ...."
"Atau apa, Bran? Katakan saja," ulang gadis itu, mulai tak sabar.
Mendapat intimidasi dari Zanara, Brandon akhirnya hanya mendesah, "Sudahlah ...."
Brandon enggan melanjutkan. Meski sudah dikuasai cemburu, memutuskan hubungan juga bukan hal yang mudah. Terlebih mereka sudah bersama cukup lama, tentu banyak hal yang perlu dipertimbangkan untuk mengambil keputusan.
Mereka kini terdiam. Hanya terdengar suara alunan musik lembut, suara denting alat makan, dan sesekali embusan nafas mereka yang bersahutan. Baik Zanara maupun Brandon bahkan tak saling menoleh satu sama lain. Mereka saling mendiamkan, bahkan hingga dalam perjalanan pulang.
***
Brandon terhenyak, keringat dingin membasahi keningnya. Ternyata ia hanya bermimpi. Pertengkaran demi pertengkaran bersama Zanara kembali terlintas, seperti yang terjadi di mimpinya barusan.
Ia menoleh pada sisi ranjang. Dingin dan kosong. Bukti bahwa ia benar-benar sendiri. Tak ada lagi Zanara di sisinya. Tak ada lagi yang menghangatkan ranjangnya, juga malam-malamnya.
Ia sangat merindukan gadis itu. Baru hari ini gadis itu pergi, rasanya seolah sudah bertahun-tahun.
Ia bangkit dan berjalan ke kamar mandi, membasuh wajahnya lalu menoleh pada sisi wastafel. Barang-barang Zanara masih berada di sana. Sikat gigi dan peralatan kecantikan yang selalu ia gunakan sebelum tidur.
Ia menghela nafas berat. Rasanya menghirup oksigen saja terasa sulit bagi Brandon sejak kepergian Zanara. Haruskah ia meminta gadis itu untuk kembali? Ia sungguh tak sanggup membayangkan sehari saja tanpa gadis itu. Ia sangat menyesali segala yang telah diucapkannya dan berandai-andai waktu dapat diputar kembali.
Brandon kembali ke kamar dan mengambil ponselnya. Tak ada satu pun pesan dari Zanara. Gadis itu benar-benar menghukumnya atas lidah yang tak bertulang. Meski tak secara langsung mengakhiri hubungan mereka, tetapi ia merasa bersalah.
"Apakah ia tak merindukanku?" tanya Brandon, bermonolog, kemudian melemparkan benda pipih di tangannya ke atas nakas dan berbaring kembali.
Ia lelah dan berusaha memejamkan mata, berharap dapat melupakan gadis itu sejenak saja. Hanya untuk malam ini.
***
Zanara memindai tiap sudut ruangan tempatnya berdiri. Ruangan dengan desain industrial modern, sesuai dengan seleranya. Masih kosong dan cukup besar untuk ia tinggali. Ia berjalan ke sudut ruangan besar itu, sebuah dapur berdesain senada dengan seluruh ruangan lain membuat nyaman pandangannya, dan pasti akan lebih betah di rumah.
Alice dan Gabriel yang juga ikut menemani, tampak sependapat dengannya.
"Seleramu bagus juga," ujar Gabriel sembari meneliti setiap ruangan dan berhenti di dapur. "Jika dapurku seperti ini, aku akan memasak setiap hari."
Alice dan Zanara mengangguk setuju dengan pendapat Gabriel. Meski Zanara tidak terlalu suka memasak, dan dapur itu mungkin tak akan terlalu berfungsi baginya, tapi ia mengakui desain yang cukup apik membuatnya berdecak kagum.
"Kau boleh datang kapan saja, Gabe. Zanara pasti senang jika ada yang menemaninya sesekali," timpal Alice, yang membuat Zanara membulatkan mata, lalu menyikut lengan sahabatnya itu.
Gabriel yang digoda seperti itu sama sekali tidak menunjukkan kecanggungan, ia justru melirik pada Zanara berusaha memastikan kebenaran perkataan Alice, membuat Zanara salah tingkah.
"Hmm ... ya kau boleh mampir kapan pun kau mau. Kau juga, Al," ucap Zanara, pada akhirnya.
"Kalau aku tak perlu kau suruh pun akan sering mampir kemari. Kecuali ...." Alice melirik Gabriel hendak menggodanya lagi, namun pria itu segera menggeleng sebagai isyarat agar Alice berhenti melakukannya.
"Sudahlah, Al. Tak perlu kau goda seperti itu terus-menerus. Aku dengan senang hati akan sering berkunjung, jika kau tidak keberatan." Gabriel menoleh pada Zanara.
Gadis itu menjawab dengan anggukan yang dibalas sunggingan di sudut bibir pria itu.
Cukup lama mereka berada di ruangan itu, Zanara segera menghubungi pihak properti dan setuju untuk membeli apartemen.
Pada akhirnya, ia mengambil langkah besar untuk ke sekian kalinya. Kali ini, memutuskan kembali hidup sendiri, mungkin untuk sementara waktu seperti ini lebih baik baginya.
Patah hati tak pernah mudah untuk gadis setia seperti Zanara. Ia bahkan pernah beberapa tahun tidak menjalin hubungan dengan siapa pun karena patah hati. Meski banyak pria yang datang dan memintanya untuk membuka hati, ia tetap menolak.
Hingga kemudian kehadiran Brandon juga kegigihan pria itu mengejar cintanya, membuat gadis itu luluh. Namun, apa yang telah dilalui selama ini tak membuat hubungannya berakhir di titik yang mereka harapkan.
Ia harapkan, lebih tepatnya. Dan itu membuatnya teramat patah hati hingga tak tahu apakah mampu bertahan dengan semua ini.
Namun, setidaknya ia masih menjaga kesetian untuk Brandon hingga akhir. Meski akhir yang tertulis pada takdirnya, tidak sesuai dengan apa yang ada dalam harapnya.
***