Misguided

1174 Kata
Sesuatu yang kenyal dan dingin terasa menyentuh pipi Brandon. Ia berusaha membuka mata demi melihat apa yang baru saja membuatnya terbangun. "Good morning, dear ...." bisik suara itu, lirih. Wajah Brandon menyunggingkan senyum, antara sadar dan tidak. Ia berbalik, dan memeluk gadis yang berada di sampingnya, "I love you, Zanara ...."  Ia menyadari, gadis itu tak membalas pelukannya, membuatnya terpaksa ia membuka mata dan menemukan bukan Zanara yang kini berada di pelukannya melainkan .... "Amelie?" Brandon beringsut, bangkit dari posisinya. "M-maafkan aku, Amelie, kupikir—" Gadis itu menggeleng. Ia hanya menunduk tak berani menampakkan wajahnya pada Brandon. "A-aku sudah menyiapkan sarapan untuk kita," ucap Amelie, dingin dan lirih. "Oh, Amelie ... kemarilah!" Brandon menarik gadis itu mesuk ke dalam pelukannya. Mengecup pucuk kepala gadis itu, menghirup aroma floral dari rambutnya. "Maafkan aku." Amelie mengangguk. Namun, Brandon bisa merasakan ada bulir hangat yang menetes di lengannya. Ia berpura-pura tak tahu dan mengabaikannya. Ia sungguh tak ingat telah menghabiskan malam bersama gadis itu. Bukankah mereka hanya melakukan sekali? Gadis itu menjauhkan tubuhnya dari Brandon, memberi jarak antara mereka agar ia dapat melihat wajah tampan Brandon. "Aku tahu, Bran, sulit melupakan Zanara. Tapi aku percaya kau mencintaiku lebih darinya. Dan tak ada yang bisa merubah itu." Ekspresi gadis itu berubah seketika saat mengucapkan kalimatnya. Bukan lagi Amelie yang beberapa menit lalu terlihat rapuh dan bersedih karena perkataan Brandon. Setelah mengucapkan itu, Amelie beranjak dari ranjang, lalu menghilang di balik pintu, sementara Brandon masih memikirkan apa yang baru saja terjadi. Apakah ia menyakiti perasaan gadis itu? Ia tiba-tiba teringat sesuatu. Jika semalam mereka menghabiskan malam bersama, siapa yang ia sebut saat pelepasannya? Apakah Amelie? Jika nama Zanara, entahlah pria macam apa dirinya, bercinta dengan Amelie namun menyebut Zanara di titik klimaksnya. Ia mengusap wajahnya kasar, menyadari kebodohannya. Lalu tak ingin berlama mengabaikan Amelie, ia bangkit dan menyusul gadis itu. *** Zanara menengok jam tangannya, sudah menunjukkan pukul 2 pagi. Ia tak sadar waktu begitu cepat berlalu, saat mengobrol semalaman dengan Gabriel di taman. Sesekali mereka berjalan-jalan berkeliling, lalu kembali ke tempat yang sama. "Kau lelah?" tanya Gabriel pada gadis itu. Tangannya membelai helai rambut Zanara dan menyelipkan di balik telinganya. Ada desir tak tergambar di sudut hatinya, yang segera ia tepis. Ia lalu menggeleng. "Aku bahkan tak sadar waktu begitu cepat berlalu." "Mungkin kita harus lebih sering melakukan ini." Pria itu terkekeh yang dibalas tawa yang sama oleh Zanara. Sesaat keduanya terdiam. Saling menatap satu sama lain. Membaca yang tergambar di sana, mencari jawaban atas segala pertanyaan yang tak mereka sadari. Gabriel mendekat selangkah demi selangkah. Memangkas jarak antara dirinya dan Zanara. Dan secara tak sengaja seseorang menabraknya dari belakang, membuat tubuh tingginya sedikit terhuyung dan bertubrukan dengan Zanara. Dengan jarak sedekat itu, Zanara dapat mencium aroma cedarwoid dar tubuh pria itu. Rasanya sekian lama ia tak membaui aroma yang berbeda. Sebelumnya, hanya aroma tubuh Brandon yang ia kenali. Zanara terkekeh bersamaan dengan Gabriel yang perlahan menjauhkan tubuhnya, canggung. Gadis itu mendongak dan langsung disambut oleh kecupan Gabriel. Bibir pria itu memagutnya perlahan. Tak ada jarak tersisa antara mereka. Bahkan jemari mereka tak sadar saling bertaut. Gabriel membawa jemari Zanara, mengizinkannya menyentuh tengkuk pria itu. Sedetik. Dua detik. Entah berapa lama, mereka tak sempat menghitung waktu yang berlalu. Saat ini bagi mereka, waktu seolah terhenti. Keduanya begitu dekat, sangat dekat hingga tak tersekat. Berada dalam atmosfer berbeda yang sedang menyatukan mereka meski untuk sesaat. *** Zanara membuka pintu, perlahan. Tak ada seorang pun di sana selain Alice dan kekasihnya yang sedang tertidur di sofa. Tentu saja kawan-kawannya sudah pulang. Pasti pesta berakhir sejak tadi. Zanara membereskan sisa kotoran di atas meja. Mencuci wajahnya kemudian terduduk di balik meja bar. Mengingat apa yang terjadi hari ini, yang dilakukannya bersama Gabriel. Manis, tapi entah mengapa sesaat bayangan Brandon kembali mengganggunya. Bukankah ia berharap pria itu kembali? Mengapa ia justru menyambut orang lain yang tiba-tiba datang mengetuk pintu hatinya? Zanara mendesah lelah. Segala hal tentang Brandon sudah menguras pikirannya. Ia merasakan perubahan drastis, dari gadis yang ceria dan optimis tiba-tiba berubah menjadi pemurung seperti ini, sungguh bukan perubahan yang baik. Zanara menepis pikiran yang sesaat muncul, ketika langkah kaki terdengar mendekat ke arahnya, menemukannya meringkuk di lantai. Seolah bersembunyi dari sesuatu yang terus mengejarnya. . "Zee? Sedang apa kau di sini? Di mana Gabriel?" Gadis itu celingukan mencari. "Ia sudah pulang." "Oh ... lalu apa yang kau lakukan di sini? Jangan katakan kau memikirkan pria itu lagi?" Alice duduk di samping Zanara. Gadis itu menggeleng menjawab pertanyaan sahabatnya. "Aku dan Gabriel ...." Zanara menjeda kalimatnya. "Apa? Apakah terjadi sesuatu?" "Kami ...." Zanara memberi isyarat dengan tangannya. "Kau tahu—" Alice menutup mulut dengan kedua telapak tangannya, hanya terlihat matanya yang berbinar. "No way." Wajah Zanara menyiratkan ekspresi tak tergambar, memeluk lututnya makin erat. "Lalu? Apa yang kau rasakan saat itu?" "Tak ada." "Apa?" "Maksudku ... aku bahkan tak sadar waktu berlalu begitu cepat. Aku seperti orang mabuk. Saat ia melepaskan kecupannya, aku baru tersadar, seperti baru saja terbangun dari tidur." Alice terkikik pelan. Ia menatap mata Zanara dalam-dalam, memastikan apa yang sedang dirasakan sahabatnya itu. "Aku tidak tahu harus bilang apa. Dia ... ah, entahlah, Al." Zanara menutup wajah dengan telapak tangannya. Alice justru tersenyum bahagia melihat sahabatnya kini sedang tersipu. Ia memeluk tubuh Zanara. "Zee, biarkan semua berjalan apa adanya. Kau tidak perlu menolak perasaan apa pun yang nanti muncul di antara kalian, oke?!" Zanara mengangguk. Ia memang tak ingin menolak. Tak mungkin terus menerus berharap pada Brandon yang bahkan hingga kini tidak berusaha memintanya kembali. Jika kebungkaman Brandon ini dimaksudkan untuk memberi ruang bagi Zanara, dapat ia pastikan hal itu adalah cara yang salah. Seharusnya Brandon tahu Zanara tak pernah meminta. Jika tak ada yang memulai, ia akan tetap diam di tempat menikmati apa yang dimilikinya. Ia terlalu lelah meminta, sejak dulu. Meminta perhatian orang tuanya, tapi sia-sia. Kini saatnya ia yang memegang kendali atas apa pun. Meski begitu, ada kalanya ia ingin mendapat seseorang yang bisa memegang kendali atasnya, dan membuatnya tergila-gila, sekali saja. Namun, sepertinya bukan Brandon orangnya. Mungkin saja Gabriel, atau pria lain yang kini sedang berusaha menemukannya. *** Brandon menikmati makanan di piringnya, dalam diam, begitu pula Amelie. Hanya denting alat makan yang terdengar memecah keheningan antara keduanya. Sesekali Brandon melirik ke arah Amelie yang duduk di hadapannya. Memastikan gadis itu baik-baik saja, tidak terluka atas apa pun yang tak sengaja ia lakukan. "Amelie ...." "Bran, jika kau ingin membicarakan tentang semalam, atau tadi, aku sedang tak ingin membahasnya," potong Amelie, dingin. Gadis itu membersihkan sudut bibir dengan serbet di tangannya. Lidah Brandon mendadak kelu mendengar apa yang diucapkan Amelie. Ia tak mampu mengatakan sepatah kata pun selain mengangguk pasrah. "Aku hari ini ada syuting, dan setelahnya langsung pulang ke rumah. Semua kebutuhanmu sudah kusiapkan, semua ada di dalam sana. Kau cukup menghangatkan di microwave." Gadis itu bangkit, lalu membereskan meja makan, sementara Brandon kembali hanya mengangguk patuh. Hanya diam menatap Amelie yang tidak berekspresi sedikitpun, bersiap untuk berangkat ke lokasi syuting. Ia berhenti sejenak, menghampiri Brandon yang masih mematung di meja makan. Mengecup bibirnya sebentar, kemudian berlalu tanpa sepatah kata pun. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN