Comparison

1408 Kata
Amelie membantu Brandon duduk di sofa dengan hati-hati. Dokter akhirnya membolehkannya pulang karena kondisi yang sudah stabil, hanya harus beristirahat lebih lama lagi terlebih kondisi lengannya yang masih belum pulih. “Kau istirahatlah, Bran. Aku akan siapkan makanan untukmu. Atau kalau kau terlalu lapar, aku bisa memesankan makanan cepat saji.” Brandon menggeleng, “Aku ingin makan masakanmu saja.” Ia tersenyum yang dibalas senyum manis oleh gadis itu, yang lalu bergegas ke dapur dan menyiapkan semua untuknya. Brandon memerhatikan Amelie dari kejauhan. Ia terlihat cekatan mempersiapkan bahan dan melakukan semua. Seperti koki profesional, ia tak perlu membaca resep masakan, karena tahu betul apa yang harus dilakukan dengan benar. Berbeda dengan Zanara, yang masih menyontek buku resep. Itu pun sering kali gagal, dan mereka pada akhirnya harus membeli makanan pesan antar. Brandon menghela nafas berat. Dadanya terasa sesak setiap kali ingat kebersamaannya dan Zanara. 5 tahun serasa singkat bagi mereka ketika dirinya tiba di perpisahan seperti sekarang. Hinga sekarang ia masih teringat akan gadis itu, dan membandingkannya dengan Amelie. Ia belum puas menikmati hari-hari mereka. Ingin rasanya mengulang kembali, lagi dan lagi. Asal bersama Zanara, setiap hari akan terasa singkat. Ia teringat saat Zanara sakit dan dirinya harus merawat gadis itu sekaligus membagi waktu dengan pekerjaannya. Ia sangat cemas akan kondisi kekasihnya sehingga berkali-kali menghubunginya di rumah. Pada akhirnya ia menyerah dan menyewa perawat untuk merawat gadis itu. Sebaliknya ketika Brandon yang sakit, Zanara bahkan meminta cuti pada Gabriel dan hanya tinggal di rumah mengurus keperluannya. Meski untuk makanan selalu memesan dan tak pernah memasak sendiri, tapi ia melakukan itu semua tanpa mengeluh. Mengingat itu, Brandon sangat merasa bersalah telah bersikap tak adil pada gadis itu, juga untuk perkataan kejam Itu. Memutuskan hubungan begitu saja, hanya karena masalah sepele. Benar kata Zanara, semua perkataannya sangat tak beralasan. Ia mengusap wajahnya kasar. Kini meminta gadis itu kembali bukanlah hal yang mudah. Zanara adalah gadis yang memiliki ego dan harga diri yang tinggi. Ia–secinta apa pun, tak akan pernah mengemis untuk kembali. Ia pernah mengatakannya dulu. Karena itu, selama ini separah apa pun pertengkaran yang terjadi, Brandon tak pernah mengucapkan apa pun yang bisa membahayakan hubungan mereka. Lalu mengapa ia harus mengatakan perkataan semacam itu pada akhirnya? Di satu sisi, mungkin ada rasa penasaran dalam hatinya, bagaimana jika hidupnya sebentar saja tanpa Zanara. Hanya menginginkan Amelie. Namun ketika itu benar-benar terjadi, ia justru tak menginginkan Amelie, ia menginginkan Zanara kembali. Ia merindukan aroma tubuh gadis itu, rindu bagaimana Zanara yang memegang kendali atasnya di setiap permainan ranjang mereka. Ia merindukan itu semua. Tepukan lembut di lengan Brandon membangunkannya. Ia tertidur sejenak karena lelah, sekaligus mungkin efek obat dari rumah sakit yang masih tersisa di tubuhnya. Amelie tersenyum manis, duduk di sampingnya, membantunya duduk tegak. “Makanan sudah siap. Apakah kau ingin makan sekarang atau nanti?” tanya gadis itu, pelan, nyaris berbisik. Brandon mengerjap beberapa kali, ia membelai pipi gadis itu dan menariknya mendekat. Mendaratkan kecupan hangat di bibir ranumnya. Amelie merasakan gelenyar dan membalas pagutan Brandon, makin dalam. Ia membiarkan Brandon bermain, berkuasa dan memegang kendali atas dirinya. Mungkin ini yang diinginkan Brandon, juga Amelie, setelah sekian lama. Mereka saling mengisi, saling memberi dan menerima. Amelie memberi apa pun yang diinginkan Brandon, dan ia menerima apa yang seharusnya ia dapatkan. Mereka melupakan hal lain, saat ini semua hanya tentang mereka. Menikmati satu sama lain hingga mencapai pelepasan bersama. Amelie bersandar di d**a Brandon, masih tak percaya dengan apa yang baru saja mereka lakukan, karena begitu lama ia merindukan sentuhan pria itu, dan kini ia dapatkan. Rasanya masih sama, hanya kali ini Amelie maupun Brandon merasakan ada kerinduan yang membuncah di hati mereka yang tersalur lewat hasrat. Amelie tak tahu bahwa kerinduan Brandon sebenarnya adalah untuk Zanara. Kerinduan yang ia lampiaskan pada Amelie. Ia memang tak mendapat kepuasan yang ia harapkan seperti dari Zanara, tapi setidaknya ia telah melepaskan letupan yang harus ia lepaskan. Meski dengan orang yang salah. *** Zanara merasa gelisah. Ia memikirkan apa yang dikatakan Alice. Ia menjauh dari kawan-kawannya yang masih riuh dengan pesta dan permainan, duduk sendiri di pojok ruangan sembari memindai seisi ruangan tempat mereka mengadakan pesta. Gabriel, Alice, dan teman-teman lain sedang berkumpul di sudut ruangan. Beberapa duduk di atas sofa dan lainnya di atas karpet berwarna navy, kontras dengan lantai yang terbuat dari lembaran kayu berpelitur coklat. Ia berbalik memunggungi teman-temannya. Mengintip ponselnya, memastikan jika Brandon kembali menghubungi. Tak ada satu pun telefon darinya. Ia mendesah kecewa. "Hari yang berat?" suara dari balik punggung itu mengejutkan Zanara, membuatnya terpaksa berbalik dan melihat Gabriel sudah berada di di sana, entah sejak kapan. Ia tersenyum canggung. "Oh, hai, Gabe. Ya hari yang berat dan melelahkan. Tapi terima kasih kalian mau datang ke pesta ini. Kalian yang terbaik." Gadis itu tersenyum, menampakkan lekukan di kedua pipinya. Gabriel mengangguk tanpa memudarkan senyum yang tergambar di wajahnya. "Ingin keluar untuk berjalan-jalan sebentar?" tawarnya. Zanara membulatkan mata. Selama 10 tahun ia bekerja bersama Gabriel, baru kali ini pria itu mengajaknya keluar hanya berdua. Ia menoleh pada Alice dan lainnya yang masih asyik bermain. "Ehm, ya, boleh ... jika kau juga membutuhkan tempat untuk melarikan diri," jawab Zanara, akhirnya. Gabriel mengangguk kemudian berbicara sebentar dengan Alice dan lainnya, selanjutnya memberi isyarat pada Zanara untuk berjalan bersamanya. Dengan canggung gadis itu mengekor langkah Gabriel. Menoleh pada Alice yang memberi kerlingan mata, mengiringi kepergiannya dan Gabriel. Mereka berjalan bersama dalam diam. Zanara merapatkan mantelnya, musim gugur baru saja tiba, udara malam yang sejuk juga hembusan angin ikut mengiringi langkah mereka. Ada sebuah taman kecil tak jauh dari apartemen Zanara, terlihat dari kejauhan. Lampu taman yang berkelip, anak-anak yang saling berkejaran, juga beberapa pasangan muda-mudi yang sedang duduk berdua di bangku yang tersedia di sana. Gabriel memandu Zanara ke sebuah bangku, mereka duduk di sana memandang sekeliling. Beberapa waktu mereka hanya diam, bergumul dengan pikiran masing-masing. Suara helaan nafas Gabriel memecah keheningan. Ia seakan ingin memulai sebuah pembicaraan. "Keriuhan di sini berbeda dengan di apartemenmu tadi." Ia tergelak. Zanara ikut tertawa mendengar keluhan Gabriel. "Aku pikir kau menyukai pesta. Fotografer sepertimu, bertemu banyak model cantik ...." Ia menggeleng sembari tertawa. "Tidak ... tidak seperti itu. Aku bukan orang seperti itu, Zanara. Bukankah kau cukup mengenalku?" Zanara menatap pria beriris hazel di dekatnya. Rambutnya yang sedikit panjang dan ikal dibiarkan berantakan. Bulu halus di wajahnya menambah kesan maskulin pada pria itu. Mengherankan hingga usia 37 tahun ia masih memilih untuk sendiri. "Kalau begitu, ceritakan tentangmu!" Zanara bersiap mendengar apa pun yang akan dikatakan Gabriel. Namun, pria itu terkekeh. "Apa yang akan kuceritakan tidak semenarik kisahmu, mungkin." Zanara mencebik. "Begitu, ya? Oke, apa yang ingin kau ketahui tentangku? Tanyakan saja, i'm an open book." Gadis itu membentangkan kedua tangannya, tersenyum. “Jadi, kau belum bertemu lagi dengan keluargamu sejak ....” Zanara mengangguk. Tatapannya lurus ke depan, memainkan buku-buku jarinya sembari mengingat terakhir kali ia pergi dari rumah orang tuanya. “Ya, sejak 10 tahun yang lalu. Aku berusaha menghubungi mereka, suatu ketika. Namun, kuurungkan niatku. Bagiku sudah tak akan ada lagi apa pun yang bisa mengubah penilaian mereka tentangku.” Ia terdiam. “Tapi bersyukur, aku bertemu Alice, yang mengenalkanku padamu, hingga berakhir di sini. Terima kasih, Gabriel.” Ia menatap Gabriel penuh arti. Seolah ucapan terima kasih saja tak cukup untuk membalas apa pun yang telah dilakukan pria itu untuknya. Pria itu mengangguk. “Kau mendapatkan ini semua karena potensimu, bukan karenaku.” Gadis itu mendesah. “Andai saja orang tuaku berpikir demikian.” Kali ini senyum terukir di wajahnya. Seolah luka itu sudah tak terasa lagi. Ia mulai terbiasa dengan apa pun sikap kedua orang tuanya di masa lalu. Kini ia mampu menjalani semua sendiri. Setidaknya ia bisa bangga pada dirinya sendiri. “Mereka pasti akan mengakuinya, suatu saat nanti. Aku yakin dan percaya padamu.” Gabriel menatap dalam mata kelabu Zanara. Gadis itu hanya tersenyum. Ia kembali menatap ke depan, memerhatikan anak-anak yang berlarian, atau sepasang kekasih yang sedang bercengkerama. Ia merasa lega dengan kondisinya saat ini. Seperti apa pun itu. Andai dirinya masih bersama Brandon apakah akan seperti ini? Apakah bisa ia merasakan bagaimana menikmati saat berdua dengan sahabat atau kawannya? Selama ini hidupnya hanya berkutat pada pekerjaan, dan Brandon. Ia tak pernah benar-benar menikmati saat-saat bersama Alice, atau rekan sekerjanya yang lain. Dan selama ini ia merasa tak masalah dengan itu. Namun, hari ini ia baru menyadari perbedaan hidupnya ketika masih bersama Brandon, dan sekarang setelah berpisah dengan pria itu. Ia masih rindu, masih mencintai pria itu. Namun ia merasa lebih bebas. Lebih hidup tanpanya. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN