"Alam, udah dulu! Ponsel kamu bunyi dari tadi," ujar Bulan. Sedangkan Alam masih fokus dengan kegiatannya, peluh keringat membasahi tubuh dua orang itu. "Bentar lagi, nanggung," balas Alam. Laki-laki itu memejamkan matanya hendak mencapai surgawi dunia ini. Sedangkan Bulan hanya bisa pasrah dan terus mengeluarkan suara laknat itu tanpa hentinya. Lima menit kemudian setelah bergumul panas itu. Alam baru bisa bernapas lega. Laki-laki itu menyelemuti tubuh polos Bulan hingga sebahu wanita itu. Sementara dia hanya menutupi tubuhnya hingga sepinggang dengan selimut. Tangan Alam menggapai ponselnya yang terletak di atas meja nakas, seraya melirik jam berapa sekarang. Alam menahan napas begitu mendapati banyak panggilan dari Dara. "Siapa yang nelepon kamu?" tanya Bulan, wanita itu sudah merin

