Dulu, Dara jarang melakukan hal ini, yaitu duduk di depan teras rumah untuk menunggu kepulangan Alam dari kantor. Akan tetapi, hari ini dia melakukan hal itu. Entah dorongan dari mana, Dara ingin melakukan hal ini saja. Mata Dara mengawasi gerbang rumah yang belum ada tanda-tandanya yang hendak di buka. Begitu juga kepulangan Alam belum ada tandanya. Satu tangan Dara mengusap perutnya yang sudah membesar itu. Sementara tangan kanannya sibuk membuka layar ponsel untuk menghubungi suaminya. Hari semakin beranjak petang, perasaan Dara mendadak gundah karena tidak biasanya Alam pulang terlambat seperti ini. Biasanya kalau ingin pulang malam, Alam selalu menghubunginya lebih dulu. Dara menelan salivanya perlahan, menjauhkan ponselnya dari telinga karena ponsel Alam tidak bisa dihubungi. Pikir

