Mirza menuju ke sebuah rumah, ya ... siapa lagi kalau bukan menemui si pelaku utama yang membuat kekacauan di dalam rumah tangganya. Menekan bel, bahkan saking kesalnya, ini pintu berasa mau ia tendang saja agar lebih cepat terbuka. “Mirza,” gumam seseorang saat mendapati dirinya. “Iya, ini aku” “Ada apa, Za?” Lihatlah ... dia menyadari apa yang sudah dia lakukan, tapi seolah tak terjadi apa-apa. “Jangan sok polos dan sok nggak melakukan sebuah kesalahan, Des!” Dessy bersidekap d**a dihadapan Mirza, seakan akan memang tak mengetahui di mana salahnya. “Aku nggak ngerti ... maksud kamu apa bicara begitu?” “Tadi siang kamu datang ke kantorku, kan?” Dessy diam. “Masuk tanpa sepengetahuanku dan ... untuk apa kamu sampai menjawab panggilan di ponselku. Untuk apa?!” Kalau yang ada di

