Mirza menyusul Odit yang baru saja keluar dari kamar. Setidaknya berkat gadis ini, hubungannya dan Lova bisa jelas di mana letak salahnya. “Odit,” panggil Mirza yang membuat langkah gadis itu terhenti. “Ya, Pak?” “Saya mau bilang makasih sama kamu.” Odit malah terkekeh mendengar perkataan Mirza yang pernah menjadi gurunya itu. “Kenapa malah tertawa?” “Cuman enggak nyangka aja, Pak. Dapat ucapan makasih dari seorang Bapak Mirza,” jawabnya. Sedikit kesal, sih, dengan balasan Odit. “Tapi beneran, kalau bukan karena bukti rekaman itu, saya nggak tahu mau ngasih penjelasan seperti apa pada Lova.” Kemudian tawa Odit terhenti saat ia teringat akan Lova. “Maaf, Pak ... boleh saya nanya sesuatu?” “Ya.” “Memangnya benar, ya ... Bapak mengirim dia untuk lanjutin study ke luar negri?” Mi

