Pagi ini terasa begitu melelahkan. Matanya sembab, apalagi kalau bukan karena kemarin hingga malam harinya ia hanya menangis. Tapi sekarang tidak lagi, dia yang kemarin membuat sedikit luka, dengan cepat memulihkan lukanya hingga sembuh. Hembusan napas teratur itu menerpa wajahnya, membuat matanya yang malas untuk terbuka, diajak untuk segera melek. Tersenyum, saat mendapati dirinya seperti hari-hari sebelumnya. Saat bangun berada dalam dekapan hangat Mirza. Ya ... ia benar-benar merasa sangat nyaman. Menyentuh wajah tidur itu dengan jemarinya, tapi ternyata itu tak berpengaruh pada dia. Lelah, mungkin itulah yang dia rasakan. Berhadapan dan dihadapkan dengan seorang istri yang ia akui dirinya masih berpikiran sangat singkat. Tiba-tiba pandangannya mengarah pada pergelangan tangan M

