Sampai di sekolah, ia berpapasan dengan Windi dan Odit yang juga baru sampai. Ketiganya berjalan bareng menuju kelas. “Gimana Pak Mirza?” tanya Odit. “Apanya?” “Perang dunia kemarin lah, Va ... apalagi.” Odit memutar bola matanya kesal saat perkataannya justru tak dipahami oleh sobatnya. “Nah, gue juga penasaran, tuh. Apalagi setelah kemarin gue dan Odit hubungin Pak Mirza balik setelah nganterin elo pulang.” Lova tak menjawab pertanyaan kedua sobatnya itu. Hingga sampai di kelas, dia justru tak mengeluarkan sepatah katapun. “Sorry, Lov ... kita bukan bermaksud ikut campur sama masalah lo, kok. Cuman ...” “Gue dan dia udah baikan, kok,” timpal Lova menghentikan perkataan Windi. Kemudian mengarahkan pandangan pada Odit. “Lo juga lihat, kan, kemarin.” Odit mengangguk. Ya, ia hanya

