Odit merasa tak tenang dengan keadaan Lova, apalagi saat ia justru mendengar sendiri kalau yang menjawab telepon tadi siang adalah seorang wanita. Sekarang ia sedang berada di depan pintu rumah Lova, untuk memastikan keadaan sobatnya itu. Terlebih saat dihubungi, ponselnya juga tak aktif. Pintu dibuka dari arah dalam. “Loh, Non Odit ... nyariin Non Lova, ya.” Bibik bisa langsung menebak kenapa dirinya ada di sini. “Iya, Bik. Ada, kan?” Bibik tak langsung menjawab, tapi beliau malah menutup pintu dan membawa Odit sedikit mejauh dan berdiri di dekat tangga teras. “Kenapa, Bik?” “Non, Bibik nggak tahu apa yang terjadi sama Den Mirza dan Non Lova, cuman tadi mereka berantem hebat. Hingga akhirnya Non Lova pergi,” jelas Bibik dengan sedikit melambatkan volume suaranya. “Lova pergi?” “

