Lova terus berteriak-teriak layaknya orang yang kesetanan, bahkan tak berani untuk membuka matanya. Ia takut, kalau yang datang menemuinya adalah Bian atau mungkin papanya. Karena keduanya kini baginya sama saja. Bian menyakitinya secara fisik, tapi papanya lebih ke hatinya yang terasa sakit. Langkah kaki terhenti tepat di depannya. Ya ... ia yakini itu. Kalau yang di depannya kini adalah Bian, mungkin laki-laki jahat itu sedang bersiap untuk membunuhnya. "Pergi!! Jangan menyakitiku lagi!! Ku mohon!!" teriaknya tanpa berniat untuk membuka mata. Tangisnya semakin menjadi-jadi saat sebuah sentuhan ia rasakan di wajahnya. Tapi jujur, kenapa ia merasa kalau yang kini di depannya bukanlah Bian? "Lov ... ini aku." Perkataan itu membuat Lova tersentak. Ia mengenal dengan pasti siapa pemilik s

