"Lova," ujar Mirza kaget saat mendapati Lova yang seharusnya masih berada di rumah sakit, sekarang justru malah ada dihadapannya. Lova berlari dan menghampiri Mirza yang saat itu baru selesai membereskan pakaian yang akan dibawanya ke dalam sebuah koper. Air mata Lova mengalir begitu saja. "Kak ... kenapa, sih, nggak mau nemenin aku dulu di sini? Aku lagi butuh kamu, loh." Mirza menghapus butiran bening yang membasahi pipi Lova. "Sudah ku bilang, kan ... aku cuman pergi bentar doang. Paling dua atau tiga harian. Ada Mama sama Papaku juga, kan?" Lova malah langsung saja memeluk erat cowok itu. Seakan-akan ia benar-benar tak rela jika Mirza harus pergi. Memang sebentar, tapi masalahnya sekarang ia butuh Mirza. "Aku mohon jangan pergi," pinta Lova. Di saat yang bersamaan Gilbert dan

