Sesuai perkataan Bian, Bibik hanya berdiri di depan pintu kamar Lova sambil menunggu Arnel kembali pulang. Tentunya raut cemas masih ia rasakan. Apalagi mendengar apa yang dikatakan Bian padanya tadi tentang kondisi gadis itu. Beberapa saat kemudian, Arnel sampai dan langsung memasuki kamar putrinya. Begitupun dengan Bibik yang ikut masuk. "Astaga!" itulah kata pertama yang ia ucapkan saat melihat keadaan putrinya. Lova masih duduk di lantai, bersandar di dinding sambil menangis dengan memar di wajah dan sudut bibirnya yang mengeluarkan darah. Kepalanya benar-benar terasa sakit dan pusing. Bahkan ia sendiripun tahu kalau kondisinya saat ini dalam keadaan tak baik. Hanya saja harus terlihat baik-baik saja. "Papa ..." Arnel segera menghampiri putrinya. "Kamu kenapa, Sayang? Apa yang

