Mendapat perlakuan seperti ini dari Bian, benar-benar menyakitkan baginya. Hatinya sakit, ditambah lagi dengan cengkeraman dibagian tangannya yang luka. Ia tak ingin melihat wajah yang kini tepat dihadapannya. "Mulai malam ini, tak akan ada lagi nama cowok itu di pemikiranmu. Hanya aku, Lova ... hanya aku," tambah Bian sedikit berbisik. Ciuman manis itu sudah nyaris ia berikan di bibir Lova, tapi lagi-lagi malah terhenti oleh suara deringan ponsel miliknya sendiri. Lova mendorong tubuh Bian dengan kuat hingga beranjak dari hadapannya. Tapi sepertinya keberuntungan memang masih menolak untuk berpihak padanya. Tangan kekar Bian berhasil menariknya ... kemudian dengan sengaja mendorongnya hingga terhentak ke lantai. Tak sampai di situ, sebuah tamparan dengan cepat menyerang pipinya. Dan

