Ia tak ingin pergi sekolah, karena mengkhawatirkan keadaan Mirza ... tapi masalahnya Mirza justru memaksanya untuk berangkat sekolah. Katanya, satu hari libur, itu bisa membuat isi otak berkurang beberapa persen. “Kak, tanganmu ...” “Sudah, tak apa ... kenapa mengkhawatirkanku terlalu berlebihan seperti itu, sih.” “Aku khawatir, tentu saja karena aku nggak mau kamu kenapa-kenapa. Dan lagi, kamu begini karena aku. Aku melukaimu dengan tanganku sendiri.” Mirza menangkup wajah Lova dan menatap istrinya itu dengan lekat. “Rasanya tak sesakit saat kamu marah dan kesal padaku. Karna di saat kamu marah dan kesal, sakitnya justru terasa di hati. Luka di hati, bagiku justru lebih menyakitkan daripada luka menganga sekalipun.” Lova malah manangis dan memeluk erat suaminya itu. “Kak Mirza, maa

