Pulang sekolah, ia yang saat itu sedang menunggu Mirza, tiba-tiba dihadapkan pada sesuatu yang mengejutkan. Ya, ketakutannya seolah muncul di depan matanya saat langkahnya baru saja keluar dari gerbang sekolah. Bayangan dan perlakuan kasar itu kembali menggerogoti perasaannya. Langkahnya mundur perlahan, saat dia semakin mendekat. Napasnya terasa sesak, seolah sedang tercekik. Jujur, ia sudah berusaha melawan rasa itu, tapi lagi-lagi ia kalah. “Jangan mendekat!” “Lova ... jangan terus bersikap seperti ini sama Papa. Papa mohon.” Yap, dialah Arnel. Papanya Lova. Bahkan ini adalah pertemuannya kembali dengan putrinya, setelah berbulan-bulan lamanya. Bukan karena menjauh, tapi karena kejadian itu, membuat Lova selalu tak ingin bertemu dengannya. “Diam!” pekiknya saat Arnel terus mend

