Rida duduk di depan cermin dan melepas handuk di kepalanya. Rambutnya tampak masih lembab. Kondisi yang bagus untuk mengaplikasikan vitamin. Saat ia tengah sibuk dengan rambutnya, ponselnya kembali berdering. Layar ponsel tersebut menyala menampilkan foto profil Yanto dengan ikon video yang berkedip.
Kali ini Rida mengangkat panggilan video tersebut tanpa ragu. Sepertinya ia melupakan janji untuk membatasi panggilan dengan Yanto.
"Rida ...," sapa Yanto riang. Suaranya terdengar manis dan lembut. Suara yang mampu mengalihkan pandangan Rida dari cermin rias ke arah layar ponselnya.
Tampak di layar tersebut, sosok Yanto yang tengah tersenyum ke arah Rida. Wajahnya sangat tampan dengan kulit yang bersih, hidung tinggi, senyum menawan, dan juga aksa dengan pupil hitam berbinar penuh cinta.
Rida sampai harus berkedip dengan cepat karena gugup dengan responnya sendiri akan ketampanan Yanto.
"Ehem, iya," jawab Rida gugup.
"Rida apa kabar?" tanya Yanto. Aksanya lekat memandang Rida yang tengah sibuk bergumul dengan rambut basah. Jantung Yanto berdegup kencang saat melihat kecantikan Rida. Pria mana yang akan tahan melihat gadis yang disukai dengan rambut basah seperti itu. Rambut basah adalah titik kelemahan pria. Sungguh sebuah godaan. Untung saat ini mereka tengah berjauhan. Coba saja kalau tidak?
Gadisku sungguh sangat cantik, batin Yanto. Andai ia bisa mengutarakan perasaan hatinya pada Rida pasti ia tidak akan sesengsara ini. Haruskah ia mengungkapkannya hari ini. Meski tak romantis, tapi ia ingin Rida tahu perasaannya.
"Kabarku baik, Kak. Kak Yanto sendiri bagaimana kabarnya?"
"Kak Yanto juga sehat. Kakak merindukanmu, tahu! Kenapa sih sekarang Rida susah dihubungi?" protes Yanto.
"Hm, kenapa ya?" Rida termenung sejenak. Ia tidak mungkin mengatakan jika ia sengaja menjauhi Yanto, bukan? Bahkan kali ini ia tak sengaja melanggar janjinya sendiri. "Kan aku juga sibuk. Emang kakak doang yang sibuk," gurau Rida.
"Haha .... Rida gak perlu khawatir karena meski kakak sibuk, kakak akan selalu punya waktu untuk Rida," balas Yanto sungguh-sungguh.
"Hehe ...." Rida tertawa kecil.
Rasanya miris, padahal Yanto seterus terang ini menunjukkan rasa sukanya pada Rida. Bagaimana bisa Rida tidak sadar dengan perasaan Yanto selama ini. Tampaknya kedepannya akan berat kalau harus berpura-pura tidak tahu perasaan Yanto.
"Senang melihatmu tersenyum," ujar Yanto sumringah. Kentara sekali aksa Yanto berbinar pertanda ia memang sangat menantikan ini. Kerinduannya juga jadi sedikit terbalaskan. Apalagi sebelum ini ia mengalami kesulitan menghubungi Rida karena gadis itu sengaja menghindarinya.
Yanto bertekad, mumpung malam ini ia bisa menghubungi Rida, ia akan memastikan telepon ini harus berlangsung selama mungkin sampai rasa rindunya terpuaskan. Bila perlu ia akan begadang demi melihat Rida tertidur.
"Kakak seolah tidak pernah melihatku tersenyum," ucap Rida basa-basi.
"Emang tidak. Oia besok akhir pekan aku akan pulang."
"Oia, apa ada acara di rumah?" tanya Rida spontan. Pasti lelah jika tiap minggu harus pulang kampung.
"Tak ada. Kakak hanya ingin bertemu denganmu. Sudah lama kakak tidak melihatmu."
"Aish, harusnya kakak pulang karena urusan penting. Untuk apa bertemu denganku."
"Kangen saja."
"Hari-hari ini aku sibuk. Aku mau kencan," ujar Rida berbohong.
"Apa? Kencan? Gak boleh! Jangan aneh-aneh!" sergah Yanto.
Rida langsung manyun. "Apa sih! Aku kan sudah besar. Aku mau kencan terus menikah seperti orang lain. Aku bukan anak kecil lagi."
"Bagiku Rida masih kecil. Pokoknya gak boleh!"
"Sudahlah, kututup teleponnya. Sekarang aku mau memakai hair dryer dan suara kakak tidak akan terdengar. Besok lagi teleponnya kalau aku gak sibuk," ucap Rida setengah jengkel.
Yanto terlalu perhatian padanya. Melarang berkencan katanya? Masih kecil katanya? Alasan yang mengada-ada. Bilang aja kalau suka, batin Rida gondok.
Setelah mengetahui perasaan Yanto padanya, Rida sedikit khawatir akan terbawa suasana dan menaruh hati pada kakaknya. Ia tidak mau itu terjadi. Karena jika hal itu terjadi, bukan hanya ia yang sakit, tapi Kak Yanto juga. Lebih baik ia menyudahinya sekarang. Tangannya segera terulur ke depan untuk memncet tombol merah.
"Tunggu! Jangan tutup teleponnya," sahut Yanto cepat. Ia belum puas melepas rindu. Mana bisa ia menunggu telepon besok yang waktunya tidak bisa dipastikan. Bisa saja Rida mengabaikannya lagi.
"Apa ada yang mau kakak bicarakan lagi?"
"Iya. Please jangan ditutup teleponnya ya. Kakak mohon."
Rida menggigit bibirnya. Ia tak tega melihat Yanto memohon. Sejenak ia memandang Yanto yang menatapnya penuh harap.
"Seharusnya kakak jangan begini. Kita sudah sama-sama besar. Tidak baik seperti ini. Tolong berhenti menghubungiku," ujar Rida. Setengah ucapannya berisi dusta karena ia juga merindukan kakaknya.
"Aku tidak mau. Aku akan terus menghubungimu. " ucap Yanto bersikeras. “Aku menyukaimu, Rida. Aku … aku mencintaimu.”
Rida segera menyalakan hair dryer sehingga menutupi pernyataan cinta Yanto. Rida takut mendengarnya. Ah, hatinya teramat sedih. Bagaimana ini? Kenapa cinta mereka harus pupus sebelum terkembang. Coba kalau ia tahu perasaan Yanto jauh-jauh hari. Pasti ia rela berkencan meski cuma pacar sehari. Sekarang, karena sama-sama dewasa jadi ia tak bisa melakukan tindakan yang kekanak-kanakan seperti ini.
"Apa kamu sungguh tidak tahu perasaanku? atau kau berpura-pura tidak tahu? Aku mencintaimu, Rida ...." bisik Yanto. Suaranya terdengar menyedihkan seperti orang yang tengah mengemis cinta.
Rida hanya diam membisu. Ia mendengar pernyataan cinta itu, tapi ia pura-pura tidak mendengar.
Yanto terlihat putus asa karena pernyataan cintanya diabaikan. Kendati begitu, ia tetap menyunggingkan senyum. Setidaknya Rida tidak menutup teleponnya kali ini. Tampaknya ia harus mencari waktu yang tepat untuk menyatakan perasaannya. Ia harus berusaha membuat hubungan kakak adik ini menjadi hubungan pria wanita. Ia akan mengubah perasaan sayang antar saudara ini menjadi perasaan sayang antara dua lawan jenis. Ia akan membuat Rida membalas perasaannya, tekad Yanto.
"Ngomong-ngomong kamu sudah makan malam?" tanya Yanto mengalihkan pembicaraan.
Rida mematikan hair dyer dan menjawab pertanyaan tersebut. "Belum, rencanaku habis ini. Bagaimana dengan kakak?"
"Aku sedang makan malam."
"Makan apa?"
Yanto mengubah tampilan layar sehingga ia bisa menunjukkan makanan yang ada di meja. Ada sepiring nasi yang masih utuh dan bumbu berwarna kecoklatan di mangkuk kecil. Di piring yang lain tampak sayuran selada yang masih segar.
"Apa yang kak Yanto makan?" tanya Rida penasaran.
"Ini rendang. Kakak dapat kiriman dari teman," ujar Yanto menerangkan.
"Oh, sepertinya enak. Teman mana yang rela memberikan rendang untuk kakak. Pasti kak Yanto sangat dekat dengannya. Kutebak pasti teman cewek yang memberikan," ucap Rida penuh selidik.
"Kok tahu jika yang memberikan rendang itu teman cewek?"
"Ya tahu aja!" bala Rida agak sewot. Entah kenapa Rida seolah tidak terlalu suka kenyataan itu. Eh, tunggu ... ia tidak sedang cemburu, bukan? Ia yang barusan menolak pernyataan cinta. Mana bisa ia cemburu? Ia tidak punya hak untuk itu.
Yanto cengengesan. Ah, senangnya melihat Rida cemburu. Haruskah ia berhenti menggoda. Gadisnya bisa saja salah paham pada dengan ucapannya. Lagipula ia membelinya sendiri.
"Tapi, rendang ini tetap tak seenak masakan Rida."
"Bohong! mana mungkin lebih enak masakanku. Apa kakak sedang meremehkan rendang yang sudah diakui sebagai makanan terenak di dunia?"
"Jangan salah! Menurut kakak, masakan Rida lebih dari sekedar enak. Ini mengenai bagaimana tulusnya perasaan Rida saat memasak. Ketika aku memakan masakan yang dibuat oleh Rida, aku bisa merasakan hatiku berbunga-bunga dan moodku membaik. Masakan Rida memang tiada duanya."
Wajah Rida memerah mendengarkan gombalan Yanto. Gadis mana yang tidak meleleh dipuji sedemikian rupa.
"Kak Yanto mulai menggombal."
"Jika itu bisa membuat Rida senang, aku akan mengerahkan semua pujian dan rayuan yang kupunya hanya demi Rida."
"Hahaha ...." Rida tidak bisa tidak tertawa menanggapi gombalan Yanto. "Ya ampun, aku bisa sakit perut hanya mendengar gombalan kakak."
"Aku serius tahu. Jadi, kapan Rida akan memasak untuk kakak?"
"Hm, sepertinya Kak Yanto harus mencari koki lain. Aku tidak bisa lagi memasak untuk kakak."
"Kenapa?" Yanto balik bertanya.
Rida tidak bisa bilang alasannya jadi ia mengubah topik. "Aku juga mau makan malam. Kita telepon lain kali saja."
"Nope! aku tidak mau. Mari makan bersama. Aku juga baru mulai makan," ujar Yanto.
"Ya, baiklah."
Rida segera pergi ke dapur dan mempersiapkan makan malam untuk dirinya. Meski tidak sedang bersama di satu tempat, rasanya menyenangkan jika ada yang menemani makan.
Di sela-sela menyiapkan makan malam, Rida berasa malam ini adalah malam yang menyenangkan sekaligus menyedihkan. Ia senang karena bisa makan bersama, tapi ia juga sedih karena kedepannya ia tidak bisa lagi melakukan ini. ia sadar, perbuatannya sangat salah. Rasa bersalah di hatinya terasa makin dalam selepas mendapat pernyataan cinta kakaknya. Tanpa ia sadari ia telah mempermainkan perasaan kakaknya.
Tak seberapa lama, Rida kembali ke meja makan dengan sepiring penuh makanan dan segelas besar air putih. Ekspresinya telah berubah.
“Rida ….”
“Hm ….”
“Kok, hem, sih!”
“Aku kan lagi makan,” ucap Rida. Ia memang langsung menyendok satu porsi sendok penuh begitu duduk.
“Kakak mau tanya.”
“Tanya apa? Jangan bertanya yang tidak-tidak karena aku tidak menjawabnya.”
“Duh, adikku, dingin amat.”
“….” Please, jangan tembak aku lagi, batin Rida. Aku bisa benar-benar mati kalau ditembak sekarang.
“Menurut Rida, apa kakak tampan?”
Uhuk!