Bab 13. Pilihan Takdir

1320 Kata
"Sejujurnya semua pencegahan itu tergantung takdir yang dipilih Rida,” ujar Mbah Kung. “Pertama, jika perlindungan itu hilang saat Rida belum menikah dan belum naik gunung maka saat itu kereta kencana lah yang akan membawa Rida ke negeri antah berantah guna menjadi pengantin makhluk gaib." Bu Susi memasang wajah ngeri. Bagaimana bisa orang menikah dengan makhluk astral? Seolah sedang kena tumbal saja. Mbah Kung mengabaikan ekspresi aneh sang putri dan meneruskan penjelasannya. "Kedua, jika Rida lepas dari perlindungan saat ia sudah naik gunung, dan calon yang dimaksud tidak sedang bersamanya maka demi keselamatannya, ia akan tertahan di gunung dan tinggal di dunia gaib." "Itu bukan pilihan yang bagus. Bagaimana bisa manusia tinggal dengan makhluk astral? lantas bagaimana dengan skenario selanjutnya?" "Ketiga, jika gadis itu tidak sampai di puncak dalam jangka waktu perlindungan, maka ia akan meninggal tanpa jasad karena semua makhluk yang kamu lihat kemarin akan memangsa gadis itu tanpa terkecuali." "Apa mereka seperti siluman yang hendak memangsa biksu tong dalam cerita Sun Go Kong?" "Benar." "Apa ada cara untuk menyelamatkan Rida?" tanya Bu Susi. "Menurutku hanya menikahlah satu-satunya cara agar gadis itu bisa selamat. Tentunya menikah dengan orang yang tepat." "Hm, begitu ya, tapi kurasa Ayah benar. Menikah dengan orang yang tepat adalah kuncinya. Menemukan seseorang dengan weton dan nama khusus tentunya tak semudah itu. Aku sungguh kasihan dengan Rida. Namun, dalam hal ini aku juga tidak bisa membantunya." "Ya, kita mungkin tidak bisa membantunya merubah takdir, tapi pertemuan Nak Rida dengan kita juga bagian dari takdir itu sendiri. Tugas Ayah hanya meyakinkan gadis itu agar mampu menerima takdirnya, dan melaksanakan wasiatnya." "Aku berdoa dengan tulus demi Rida," ucap Bu Susi. "Semoga kebaikan selalu menyertainya." "Amin." *** Hidup Rida lebih tenang setelah peristiwa yang dialaminya di rumah Bu Susi. Seolah ia telah diberi kesempatan guna menjalani hidup untuk kali kedua. Ia mulai menerima takdir yang dulu sering disesalinya. Ia juga mulai membuka diri dengan tetangga untuk memulai misi menjadikan rumahnya tempat berkumpul anak-anak sekitar yang membutuhkan bimbingan belajar. Hitung-hitung meramaikan rumah. Seperti kali ini saat Rida berbelanja kebutuhan harian di warung tak jauh dari rumahnya. Ia saling sapa dengan tetangga yang juga tengah membeli kebutuhan dapur. Seperti biasa, tempat berkumpulnya ibu-ibu adalah tempat menggosip dengan berbagai bahasan. Dan tentunya bahasan utamanya tak jauh dari urusan rumah tangga dan anak. "Anakku baru juga masuk SD, tapi sudah mendapat tugas yang rumit. Sudah instal aplikasi, dan macam-macam, tapi waktuku malah habis untuk itu," curhat seorang ibu. Sepertinya ia memang kesulitan karena di samping anaknya yang masih sekolah, ia juga punya seorang anak balita. "Tugasnya, Ririn ya, Mbak Lina?" tanya Rida ikutan nimbrung. Ririn adalah nama anak pertama Mbak Lina, tetangga Rida. "Oh, Rida. Iya nih, Rida. Mbak suka kesel sendiri. Habisnya belum kelar ngurusin tugasnya Ririn, si bungsu sudah menangis kencang. Mbak kualahan." "Apakah tugasnya sudah selesai sekarang?" "Kalau yang kemarin sudah. Hanya saja sekarang semua tugas jadi memakai pola yang sama. Ya gak apa sebenarnya, aku bisa sekalian belajar. Dikit-dikit paham lah. Namun, kalau si bungsu pas tantrum. Duh, lelahnya luar biasa." "Soal aplikasi, mungkin aku bisa bantu. Pola yang digunakan mungkin tidak akan berbeda banyak dengan aplikasi soal yang lain." "Ah, sungguh!" Aksa Mbak Lina berbinar. Bagi seorang ibu dengan bayi 10 bulan, sungguh suatu kebahagiaan saat mendengar ada uluran tangan yang membantu. Membayar pun tak masalah baginya. "Iya, mumpung kuliah sudah tidak terlalu aktif. Hanya tinggal menunggu wisuda saja." "Aduh, jadi merepotkan," lanjut Mbak Lina basa-basi. Ia lega mendengar ketersediaan Rida. "Tidak juga kok. Hitung-hitung mengamalkan ilmu sebelum jadi pegajar sungguhan," ujar Rida merendah. "Jadi kapan Rida senggangnya?" "Gak tentu juga sih, Mbak Lina, tapi hari ini aku senggang sampai malam." "Nanti aku langsung ajak Ririn ke rumah Rida siang saja." "Ya sudah, siang saja kalau begitu." Percakapan klise itu berakhir setelah Rida selesai berbelanja. Sebelum siang, Rida menyempatkan tidur agar nanti tidak terlalu mengantuk saat siang. Maklum, ini adalah tugas pertamanya setelah lama vakum dari dunia tutor. Saat siang hari tiba, Rida telah siap menanti murid petamanya. Namun, ia sangat terkejut karena murid pertamanya ternyata tidak hanya seorang melainkan 7 orang. Rida tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya, tapi sejurus kemudian ia maklum. Namanya juga anak-anak. Masing-masing ibu mengatakan jika anaknya ingin ikut karena temannya juga ikut. Bahasa jawanya mungkin klayu. Ya, bagaimanapun juga ia harus senang sekarang karena rumahnya menjadi ramai. *** Begitu hari sudah sore dan anak-anak sudah pulang, Rida berakhir dengan kelelahan karena anak-anak begitu aktif. Namun, rasa lelahnya seolah terbayar karena ia tak menyangka jika ibu-ibu tadi datang dengan membawa banyak makanan. Rida sedikit berasumsi, apa makanan itu sogokan agar ia memperbolehkan anak-anak mereka belajar padanya? ia tak yakin. Namun, apapun itu, ia harus mengucapkan banyak terima kasih karena berkat merek ia tidak perlu memasak untuk makan malam. Rida lantas menghangatkan sebagian dan sebagian lagi ia simpan di dalam kulkas. Karena malam ini ia tidak perlu buat makan malam. Sebagai gantinya Rida akan membersihkan rumah dan menyapu halaman sebelum malam tiba. Kali ini Rida tidak setakut sebelumnya karena ia sudah tidak bisa melihat sosok apapun di sekelilingnya. Tidak sosok itu maupun sosok yang lain. Semua tampak normal baginya. Setelah membersihkan rumah, ia beralih ke halaman. Ia menyapu daun-daun tua yang gugur di tanah sembari menyiangi gulma di sela-sela tanaman hias miliknya. Sudah sedari lama Rida menyukai tanaman. Ia suka menanam aneka bunga dan beberapa sayur mayur. Meski sejak skripsi ia sering mengabaikan tanamannya karena sibuk, tapi karena saat ini ia menganggur, ia akan lebih memperhatikan tanamannya. Karena sibuk bekerja, tak terasa hari sudah makin senja. Malam telah turun, dan gelap perlahan merayap. Rida menyudahi pekerjaannya dan masuk ke dalam rumah untuk membersihkan diri. Dengan rambut yang masih menetes, Rida mengecek ponsel. Dan ia sangat surprise saat mendapat balasan DM dari Edi. ~Hai, aku Edi. Salam kenal! Maaf baru membalas chat karena aku baru turun gunung. Kau ingin bertanya mengenai pendakian? datanglah ke klub. Ini kontakku jika kamu membutuhkan sesuatu. Rida segera menyimpan nomor kontak tersebut dan menghubunginya segera. Ia tak bisa membuang waktu karena ulang tahunnya sudah dekat. Ia masih sayang nyawa, ia masih ingin hidup untuk waktu yang lama. Rida lantas menelepon Edi untuk membuat janji. Akan tetapi, panggilan pertamanya tidak langsung diangkat. Untung panggilan keduanya diangkat. "Halo! selamat malam ... apa benar ini nomornya Edi?" Suara ngebas yang khas menyambutnya. "Ya, aku Edi. Ini siapa, ya?" "Aku Rida yang barusan menghubungi lewat instapict," jawab Rida sedikit tegang. Suara Edi yang dalam dan maskulin membuat Rida khawatir tidak mendapat sambutan yang baik. Bisa saja orangnya tak segentelmen suaranya. "Oh, temannya Musa," jawab Edi. Kali ini nada suaranya telah berubah lebih ramah. "Ya, aku temannya Musa." Rida sangat lega karena Edi tampaknya cukup ramah. "Aku tadi sempat menghubungi Musa sebelum membalas pesanmu. Aku sedikit penasaran karena Musa bukan tipe anak yang mengenalkan teman. Kupikir tadi ia bercanda, ternyata sungguhan. Maaf karena itu aku aku jadi telat menghubungimu." "Iya, tidak apa. Aku malahan yang minta maaf karena aku merepotkanmu." "Jangan sungkan-sungkan. Temannya Musa adalah temanku juga. Oia, apa kamu tertarik dengan pendakian?" "Ya, setelah wisuda aku berencana mendaki, makanya aku ingin meminta bantuan, tapi karena teman seangkatan kita sedang sibuk skripsi jadi tak banyak yang bisa kumintai tolong." "Begitu, ya. Kamu tinggal datang saja ke klub kami dan kamu bisa bertanya apa saja di sana." "Maksudku sekiranya kamu di klub, aku akan ke sana." "Oh, kalau begitu, kebetulan besok aku ke kampus mengurusi wisuda. Bagaimana kalau kita bertemu besok saja." "Baiklah, aku suka itu. Omong-omong, apa kamu juga wisuda tahun ini?" "Iya, aku mundur satu semester karena aku sempat terluka saat naik gunung jadi aku melewatkan ujian skripsi." "Hm, begitu ya. Baiklah kita akan berjumpa besok. Terima kasih atas waktunya." "Oke, besok akan kukabari lagi." "Ya, sampai jumpa besok." Baiklah, langkah pertama naik gunung sudah dilaksanakan. Soal biaya, Rida masih punya tabungan beberapa meski tidak banyak. Sepertinya ia harus mulai menata keuangannya dan mencari pekerjaan. Karena ia sekarang sendirian. Ia harus menghidupi diri sendiri. Tampaknya tugasnya ke depan akan semakin berat. Semangat, batinnya menghibur diri.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN