Bab 12. Titik Terang Untuk Rida

1303 Kata
"Rida, menurutku, menikah karena wasiat sepertinya sedikit tidak masuk akal," ungkap Musa. Bu Susi mengangguk setuju dengan pendapat Musa. Namun, meski tak masuk akal, sebagai dosen yang lebih tua dan lebih berpengalaman, Bu Susi juga tidak bisa membantu banyak karena ini adalah kasus yang belum pernah ia pahami sebelumnya. Apalagi ia baru saja melihat betapa mengerikannya makhluk-makhluk yang nantinya akan membahayakan nyawa Rida. Karena Bu Susi tidak bisa berbuat banyak, ia pun meminta pendapat ayahnya. Soalnya semua ini bermula karena sang ayah yang pertama kali mengulik tentang Rida. "Menurut ayah, apa yang harus Rida lakukan?" tanya Bu Susi. Mbah Kung menoleh ke arah putrinya. "Hm, sebelum menjawab itu, Mbah ingin mendengar pedapat Rida terlebih dahulu. Bagaimana pedapat Nak Rida mengenai wasiat yang dibuat kakek Rida? apa yang akan Nak Rida lakukan?" "Sebelum menjawab, Mbah ingin mendengar pendapat Rida terlebih dahulu. Bagaimana pedapat Nak Rida mengenai wasiat yang dibuat kakek Rida? apa yang akan Nak Rida lakukan?" Rida menghela napas sebelum menjawab. Bagaimanapun juga ia harus memantapkan hatinya untuk membuat keputusan. "Sebelum aku memberi jawaban, bisakah Mbah Kung menutup penglihatanku? aku tidak ingin melihat apapun itu. Aku tidak berharap melihat sosok itu berkeliaran di sekitarku. Aku ingin Mbah Kung menutup mata batin ini. Aku sungguh lebih baik tidak melihat semuanya," pintanya. "Baiklah," ucap Mbah Kung. Beliau lantas memegang ubun-ubun Rida dan merapal doa. Ia memungkasi doanya dengan meniup ubun-ubun Rida. "Nah, sudah!" ucapnya. Bu Susi pun demikian. Ia tentunya tidak mau berakhir melihat pemandangan menyeramkan seumur hidup. Musa menyodorkan sebotol air mineral ke arah Rida, dan Rida meminumnya sebanyak yang ia bisa guna mengurangi kecemasan. Rida meremas botol di tangannya dan berujar, "jujur, sebenarnya aku pasti akan melaksanakan wasiat kakek, tapi tidak dalam waktu dekat. Aku merasa belum siap membina rumah tangga apalagi dengan orang yang sama sekali tidak kukenal." Mbah Kung, Musa, dan Bu Susi menyimak dengan sabar. Mereka tidak menyela agar Rida bisa dengan nyaman bercerita. "Tapi, apa yang barusan aku lihat membuka pikiranku. Kurasa kakek menyuruhku menikah bukan tanpa alasan. Sedari dulu, aku sudah dalam kondisi yang buruk. Papaku meninggal sebelum aku lahir, dan ibuku meninggal selama proses melahirkanku. Hidupku mungkin penuh sial, tapi aku ingin hidup." Rida menghela napas sebelum melanjutkan, "Mbah Kung tolong beritahu aku apa yang harus aku lakukan? aku sungguh ingin hidup. Kenapa makhluk-makhluk itu harus mengincarku? Apa salahku?" "Mereka memang mengincar Nak Rida bukan tanpa alasan. Mbah ingin mengatakannya, tapi Mbah mau kamu berjanji, kamu harus lapang d**a. Percayalah semua yang terjadi sudah digariskan di atas sana." "Aku akan berusaha sekuat tenaga menerima semua penjelasan dengan lapang d**a," janji Rida. Mbah Kung mengangguk sebelum mulai menjelaskan. "Semua makhluk tak kasat mata yang menunggumu di luar sana, mereka berusaha untuk menangkapmu dan mepersembahkanmu pada tuan mereka." "Aku? apakah mereka akan menumbalkanku?" "Mirip seperti itu. Weton kelahiranmu, juga kalau tidak salah hari kelahiranmu. Apakah kamu lahir di malam suro?" Rida mengangguk membenarkan. "Kenapa jika aku lahir di malam suro?" "Perlu kamu tahu, Rida. Bahwasannya hampir tidak ada bayi yang terlahir hidup di malam suro?" "Apa mereka semua meninggal?" sela Musa. "Ya, hanpir seluruhnya meninggal. Kalaupun ada bayi yang lahir hidup, pasti ibunya yang meninggal. Seperti penuturan Rida tadi. Mbah rasa Ibunya Nak Rida meninggal menggantikan Nak Rida." Mulut Rida menganga tak percaya. Rasa sakit menyeruak. Hatinya terasa sangat pedih. Apakah dari awal harusnya ia tidak lahir saja? ia tak membawa kemanfaatan apapun sejak kelahirannya. Malahan ayah ibunya harus mengorbankan diri demi dia. "Jangan menyalahkan diri, Nak Rida. Mereka pasti bangga padamu. Kamu tumbuh menjadi anak yang membanggakan." Rida mengusap air mata yang sempat lolos di sudut matanya. "Sosok yang mengikutimu adalah bentuk kasih sayang kakekmu. Hanya saja karena kakekmu telah meninggal, sosok itu akan hilang saat ulang tahunmu tahun ini. Makanya kakekmu memintamu menikah sebelum itu terjadi." "Apakah dengan menikah aku bisa terbebas dari mereka?" tanya Rida penuh harap. "Ya, asal kamu menikah dengan orang yang tepat. Pernikahan itu tidak hanya akan menyelamatkan nyawamu, tapi juga membawa kebahagiaan untukmu. Semangat, Nak Rida." “….” Rasanya aneh saat ia disemangati oleh orang yang pertama kali ia temui. "Untuk saat ini Nak Rida aman. Jangan lupa beribadah dan berbuat baik pada sesama. Semua perbuatan baik akan mendapat karma baik pada akhirnya." Rida tersenyum lemah. Sesekali ia memberanikan diri melihat ke luar jendela. Untungnya kali ini ia sudah tidak melihat apa-apa. Ia sangat bersyukur dibuatnya. Ajaibnya semua kejadian hari ini adalah sebuah kebetulan. Kebetulan ia bimbingan di rumah Bu Susi padahal Bu Susi belum pernah melakukan bimbingan di rumah, kebetulan ia berjumpa Mbah Kung yang secara tak sengaja datang lebih awal dari yang dijanjikan, secara kebetulan pula akhirnya Rida mendapat pemahaman mengenai wasiat dari sang kakek, dan syukurlah kebetulan Mbah Kung bisa menutup mata batinnya hingga ia tak bisa lagi melihat hal-hal yang tidak ia inginkan. Dan semua kebetulan itu telah diatur oleh Yang Di Atas. Seolah Rida telah digerakkan tangan tak terlihat yang bernama takdir. Rida pun pulang tanpa penyesalan. Justru hatinya menjadi semakin lapang. Tak dipungkiri bahwa ia sebenanya merasa bersalah karena menjadi penyebab kematian kedua orang tuanya, tapi ia berupaya berpikir positif. Ia berpikir kehidupannya saat ini sebagai wujud kasih sayang kedua orang tuanya. Ia ada sebagai buah cinta kedua orang tuanya. Ia akan memegang kepercayaan itu sampai akhir. *** "Aku tak menyangka kamu mengalami semua itu," ujar Musa dalam perjalanan kembali. Mereka menuju ke kampus terlebih dahulu karena sepeda Rida masih terparkir di kampus. "Ya, begitulah. Makanya kita tidak tidak boleh melihat orang hanya dari casing-nya saja," jawab Rida kocak. "Haha ... kamu benar. Meski begitu, aku benar-benar tidak menyangka. Semuanya jadi jelas sekarang. Aku sekarang paham alasan kemarin kamu menghindari Kak Yanto. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana perasaannya saat tahu bahwa ia harus kalah sebelum bertanding. Belum juga menyatakan cinta, tapi ia sudah harus tertolak." Yanto sudah harus gugur dari kualifikasi hanya karena bukanlah orang yang ditakdirkan. Nasib yang demikian tragis. Rida mengabaikan Musa yang mulai membahas tentang Yanto. "Btw, jangan bilang siapa-siapa tentang ini, ya. Aku mohon," pinta Rida. "Tenang saja rahasiamu aman padaku," ujar Musa menyanggupi. "Ngomong-ngomong, kita mampir makan siang dulu. Aku kelaparan. Semua informasi yang kuterima hari ini sangat banyak sampai-sampai sulit untuk dicerna. Untung saja aku tidak ikut membasuh muka dengan air itu. Mendengar Bu Susi mendeskripsikannya saja sudah membuatku takut setengah mati apalagi sampai benar-benar melihatnya. Mungkin saja aku tak doyan makan." "Ya, kamu benar. Aku juga merasa lebih baik setelah tidak lagi melihatnya. Btw, aku tidak mengira ayah Bu Susi ternyata mempunyai kemampuan spiritual seperti itu." "Ya, kau benar. Melihat Bu Susi yang begitu logis, rasanya sangat kontras saat ia mengatakan hal-hal tak kasat mata secara sadar. Sudut pandang beliau langsung berubah begitu Mbah Kung tiba-tiba menghadirkan ketidak logisan tepat di depan mata. Kupikir aku akan melihat pertentangan, tapi tampaknya Bu Susi menerimanya dengan kepala dingin. Apa mungkin itu karena yang bersangkutan adalah ayah dan anak?" "Hm, bisa jadi." *** Pembicaraan mengenai Rida masih berlanjut di kediaman Bu Susi. "Aku tidak menyangka ada yang seperti itu di dunia ini," ungkap Bu Susi. Ia bercengkerama dengan sang ayah segera setelah melepas kepergian kedua muridnya. "Ya, begitulah. Ayah juga kasihan pada gadis itu." "Kenapa memangnya?" Bu Susi merasa ayahnya masih menyembunyikan beberapa informasi dari Rida. Dan benar saja. "Sejujurnya permasalahan yang menimpa gadis itu tidak sesederhana itu. Apa kamu lihat sepasukan prajurit dengan kereta kuda di belakangnya?" "Ya, kenapa mengenai itu?" "Sejatinya, kereta di belakang itu digunakan untuk membawa Nak Rida ke dunia mereka untuk menjadi pengantin." "Hm, aku tidak mengerti. Pengantin? siapa?" Mbah Kung dengan tenang menjelaskan. "Sebenarnya Rida telah terikat sebuah perjanjian yang mengharuskan ia menjadi calon pengantin di sebuah kerajaan gaib. Perjanjian yang tak sengaja dibuat dengan pertaruhan nyawa Rida sendiri." "Itu mengerikan," gumam Bu Susi. "Namun, itu bisa dicegah dengan beberapa kondisi." "Benarkah?" Bu Susi ikut senang mendengar itu. Akan sangat baik jika Rida bisa terhindar dari takdir mengerikan itu. “Kondisi yang bagaimana?” desaknya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN