Mbah Kung mengajak Rida duduk di kursi yang ada di ujung ruang tamu. Dari tempat duduk itu mereka masih bisa melihat ke arah halaman. Untungnya, sosok yang dimaksud Rida sudah tidak lagi ada di halaman. Ia menghela napas lega, tapi itu tidaklah lama. Saat ia mengedarkan aksanya ke sekitar teras.
Degh!
Jantung Rida serasa berhenti saat melihat sosok itu telah berpindah di teras rumah. Ia membuang muka dengan cepat seolah menghindari bertatapan dengan sosok tersebut. Ia balik memandang Mbah Kung dengan ekspresi kengerian yang nyata.
"Apa kamu bisa melihatnya, Rida?" tanya Mbah Kung.
Rida mengangguk tanpa berani menghadap keluar.
Rida lantas bertanya, "Mbah Kung, sesungguhnya makhluk apa itu? Selepas kepergian kakek, makhluk itu terus mengikutiku dan itu menakutkan. Apa Mbah bisa memintanya berhenti muncul di sekitarku?" pinta Rida penuh harap.
"Apakah kamu tidak penasaran dengan identitasnya?" Mbah Kung balik bertanya.
Rida ingin menggeleng, tapi ia tak bisa menipu hatinya. Jujur saja ia juga sangat penasaran. "Memang dia itu siapa?" tanya Rida. "Apa yang harus aku tahu tentangnya. Dilihat bagaimanapun aku sama sekali tidak pernah melihat yang seperti itu, apalagi berurusan dengannya," tandasnya.
"Dia itu penjagamu, Nak."
"Eh ...!" Tentu saja Rida kebingungan dengan jawaban Mbah Kung. "Menjaga bagaimana? dia menakutiku, Mbah. Aku sudah ketakutan karena hidup sendirian, tapi dia malah terus-terusan membayangiku. Dia ada di rumah, di kampus, sekarang dia juga ada di sini, dia ada di mana-mana."
Mbah Kung menghela napas. Tatapannya teduh menenangkan. Ia harus sabar dan menjelaskannya pelan-pelan. "Sebetulnya, sosok itu adalah penjaga yang disiapkan kakekmu untukmu. Dia menjagamu karena kamu sendirian, Nak."
"Menjaga bagaimana? dia ... dia itu seperti penguntit. Lagipula aku ... aku ...." Rida menggeleng tanpa meneruskan perkataannya. Ia masih tidak mengerti. Kakek tidak harus mengirimkan makhluk seperti itu karena itu malah membuatnya makin ketakutan. Lagipula menjaga dari apa? ia baik-baik saja.
"Apa kamu ingin melihat makhluk itu hendak menjagamu dari apa?" pancing Mbah Kung yang seolah bisa mendengar ucapan yang dibatin Rida.
"Ya, tolong perlihatkan," tantang Rida putus asa.
"Baiklah," ucap Mbah Kung. Ia lantas menoleh ke arah sang putri yang berada tak jauh dari mereka dan berujar, "Susi, tolong ambilkan air minum satu gelas," pinta Mbah Kung pada putrinya.
"Baik, Ayah."
Sejurus kemudian segelas air telah dipegang oleh Mbah Kung. Beliau lantas membaca doa yang kemudian ditiupkan ke arah gelas tersebut.
"Ini minumlah separuh, dan separuh yang lain tolong diusapkan ke wajah. Namun, sebelum itu Mbah Kung berpesan apapun yang kamu lihat tidak akan bisa menyakitimu, setidaknya untuk saat ini."
Rida mengerti. Ia lantas melakukan sesuai yang diperintahkan. Ia meminumnya kemudian meraup sisa air ke tangan dan mengusapnya ke wajah.
Tak ada sensasi apapun. Air itu berasa tawar seperti air pada umumnya, begitupun dengan air yang dibuatnya untuk mengusapi wajah, sifat air itu tetap sama seperti air biasanya, tak ada yang spesial, tak ada yang aneh, setidaknya begitulah yang Rida rasakan.
"Sekarang cobalah melihat keluar," perintah Mbah Kung.
Rida menyanggupi. Saat ia menoleh ke arah jendela.
Degh!
Jantung Rida serasa hendak loncat dari dadanya. Ia pun memekik dengan keras.
"Argh .... A--apa yang ada di halaman? apa-apaan semua itu?" Ia bahkan jatuh dari kursi saking takutnya. Pandangannya langsung tertunduk ke bawah seolah menghindari pemandangan yang ada di luar jendela.
Tubuh Rida gemetar ketakutan. Ia shock dengan apa yang ada di luar sana.
"Ada apa?" tanya Musa. Ia segera menolong Rida yang terjatuh.
"Apa yang terjadi, Yah?" tanya Bu Susi ikutan penasaran.
"Kamu ingin lihat?" tawar Mbak Kung pada putrinya.
Bu Susi ragu sejenak, tapi ia juga penasaran alasan kenapa Rida sampai ketakutan seperti itu. "Apa yang harus kulakukan untuk melihatnya?"
Mbah Kung menuang sedikit air sisa yang ada di gelas Rida ke telapak tangan sang putri untuk kemudian diusapkan ke wajah. Kali ini Mbah Kung menemani dengan memegang tangan Bu Susi agar tidak terlalu shock melihat apa yang ada di hadapannya.
"Sekarang coba lihat apa yang ada di luar jendela. Apa yang tengah berbaris di halaman itu," pinta Mbah Kung.
Bu Susi menurut. Begitu ia mengarahkn pandangannya ke luar jendela, ia pun memekik kaget.
"Hah! A-apa yang ada di luar sana itu?" tanya Bu Susis terbata-bata.
Bagaimana Bu Susi tidak terkejut, saat ia melihat di luar pagar rumahnya, tampak berbagai macam makhluk tak kasat mata yang menjijikkn dan sangat menyeramkan. Saking banyaknya seolah semua makhluk itu tengah mengepung rumahnya.
Musa ikut penasaran, tapi ia ragu meminta air putih untuk membantu penglihatannya. Karena ia tahu, sekali ia menggunakannya maka selama hidup, ia akan terus dihantui oleh hal-hal tersebut.
"Bu Susi, bisakah Anda menceritakan padaku apa yang terjadi di luar sana?" pinta Musa.
Tampaknya Bu Susi sangat pemberani. Ia menarik napas dalam sebelum kemudian kembali memusatkan pandangannya ke arah jendela.
"Aku melihat banyak sekali makhluk dengan bentuk yang aneh dan wajah rusak, bahkan ada beberapa yang tidak mempunyai wajah."
"Ha?" Musa tak yakin ia harus percaya atau tidak karena jawaban yang dilontarkan Bu Susi memang sama sekali tidak terdengar masuk akal. Musa hanya bisa menganga. Apa Bu Susi yang seorang dosen matematika baru saja memberitahunya mengenai hantu? Tapi ia tahu Bu Susi tidak akan berbohong. Apalagi beliau melihat atas bantuan ayahnya.
Bu Susi masih meneruskan ucapannya dan menjelaskan secara detail apa saja makhluk menjijikkan dan menyeramkan itu.
"Ada pocong yang wajahnya hitam dan mata menyala, ada gendruwo yang tubuhnya lebih tinggi dari pagar dengan tubuh penuh rambut, ada kuntilanak dengan rambutnya yang panjang sedang berdiri di dahan pohon. Ada juga sundel bolong dengan punggung menganga penuh belatung, ada juga hantu wanita bergaun merah, ada juga tuyul yang berlarian sepanjang jalan, ada yang berwajah rusak, tangannya hilang, tubuhnya tidak lengkap."
Rida hanya bisa terisak mendengar penuturan Bu Susi sementara Musa tampak terpaku tak percaya. Halaman asri yang dilihatnya di depan sana telah berubah menjadi taman makhluk gaib di pandangan Bu Susi. Bu Susi tampaknya belum selesai mendeskripsikan apa yang dilihatnya dan kembali melanjutkan penjelasannya.
"Dan di antara barisan makhluk-makhluk aneh itu terdapat barisan pasukan berkuda dengan sebuah kereta kencana di belakang rombongan itu."
"Apakah kamu melihat seseorang di teras?" tanya Mbah Kung.
Bu Susi mengedarkan pandangannya ke arah teras rumah dan ia pun terpenjarat. "Siapa itu yang ada di sana?" tanya Bu Susi yang lantas menggambarkan sosok itu persis seperti apa yang dilihat Rida di awal.
"Itu adalah sosok yang menjaga Nak Rida," terang Mbah Kung.
"Bagaimana Nak Rida? apa kamu mau menceritakan pada Mbah Kung apa yang terjadi? Mbah akan berusaha sekuat tenaga untuk membantumu."
Rida memandang Mbah Kung dengan berkaca-kaca. Ia ingin menceritakannya pada Mbah Kung, tapi ia sudah berjanji pada Bulek Bas jika ia harus merahasiakannya agar tidak dimanfaatkan. Namun, jujur saja jika ia tidak menerima bantuan, ia pasti tak akan bisa melaksanakan wasiat kakeknya.
Mbah Kung sepertinya tahu kesulitan Rida membuat keputusan. Ia lantas berujar, "Mbah sebenarnya sudah tahu masalahnya karena tadi mbah sempat berbincang-bincang dengan sosok itu, tapi Mbah ingin mendengarnya langsung dari Rida sendiri karena kita seyogyanya tidak boleh langsung mempercayai mentah-mentah apapun yang makhluk-makhluk tersebut ucapkan."
Rida langsung menangis mendengar penjelasan Mbah Kung. Hati kecilnya mengatakan bahwa benar Mbah Kung akan menolongnya. Untuk sekali ini ia akan percaya pada nalurinya.
"Kakekku baru saja meninggal, Mbah," ujar Rida memulai ceritanya. "Kakek adalah satu-satunya yang tersisa dari keluargaku. Sejak kepergiannya, sekarang aku sebatang kara tanpa sanak famili."
"Mbah mengerti."
"Sebelum meninggal beliau memintaku untuk naik gunung bersama seseorang yang bernama Tubagus yang lahir pada jumat kliwon."
Semua terdiam mendengarkan penuturan Rida. Bahkan suami Bu Susi sampai tidak jadi keluar ke ruang tamu begitu mendengar pembicaraan intens tamu dan keluarganya.
"Kakek juga memintaku untuk menikah dengan orang tersebut. Kakek bilang sesuatu yang buruk akan terjadi padaku sehingga aku butuh seseorang yang bisa menjagaku dari keburukan yang bisa mengancam nyawaku."
Mereka bertiga saling memandang setelah mendengar penuturan Rida. Tak bisa dipungkiri banyak sekali alasan menikah, tapi yang dituturkan Rida merupakan salah satu dari banyak alasan yang tidak masuk akal untuk melangsungkan pernikahan.