Kastil tua itu terlihat sepi. Sebagian orang mendapat undangan untuk datang ke istana. Mereka sangat senang sewaktu mendapat undangan. Dukun Delima menerima undangan itu dari raja. Bukannya tidak senang, dia memilih untuk tetap disana. Dia tak ingin melihat segala yang akan terjadi. Dia merasa enggan menikmati acara itu ketika hatinya merasa tidak setuju. Dia bergegas ke dapur untuk membuat kopi panas. Tak sengaja, dia melihat perempuan yang bekerja di bagian penyimpanan dokumen sedang duduk di kursi depan. Dia tampak melihat lapangan luas yang disinari oleh lampu luar. Delima mencoba untuk berteman baik dengannya. Apalagi, hanya mereka berdua yang tersisa di tempat ini. “Boleh saya duduk disini?”tany Delima dengan sopan. Perempuan itu mengangguk. Delima langsung duduk sambil meletakka

