Bab 9. Semua Demi Rara

1102 Kata
"Kamu tidak perlu khawatir! Hal itu tidak akan pernah terjadi lagi. Mana mungkin aku mengulangi kesalahan aku untuk kedua kalinya." Bagas mencoba meyakinkan Elia. Dia pun langsung melanjutkan permainannya kembali. Sudah sangat lama dia menantinya. Selama ini dia tidak pernah melakukan dengan wanita manapun. "Maaf, jika milikku sudah tidak seenak dulu," kata Elia lirih. Bagas tidak menjawab. Dia tetap melanjutkan apa yang dia inginkan. Dia tidak ingin ucapan Elia akan merusak moodnya. Pada akhirnya mereka menyatu kembali, setelah ikatan pernikahan. Bagi Bagas, milik istrinya mampu memberikan kenikmatan untuknya. Dia pun sudah menerima Elia apa adanya. Namun, dia meminta Elia untuk tidak melakukan kembali dengan laki-laki lain. Bagas semakin mempercepat, karena dia sudah mencapai titik klimaks. Elia pun menikmatinya. Rasanya sangat berbeda, tidak seperti saat dia bercinta dengan para pelanggannya. Hingga akhirnya Bagas berhasil menyemburkan benihnya kembali di rahim Elia. Napas keduanya masih terengah-engah dan jantung mereka masih berpacu cepat. "Makasih ya, Sayang. Aku sangat puas. I love you," ucap Bagas. Dia juga melabuhkan kecupan di pucuk kepala dan kening istrinya. Kali ini Bagas yang memimpin permainan. Bagas membaringkan tubuhnya di sebelah Elia, dan dia genggam tangan Elia erat. Elia memandang ke arah laki-laki yang kini berbaring di sebelahnya. Rasanya, masih seperti sebuah mimpi. Tidak pernah terpikir olehnya, bisa berada di posisi saat ini. "Sekarang, semua yang ada di diri kamu adalah milikku. Aku suami kamu. Jangan pernah kamu berikan sama laki-laki lain!" Bagas berkata dan Elia menganggukkan kepalanya. "Lusa kita ke Yogyakarta. Kita harus segera bertemu orang tuaku. Aku ingin secepatnya dia tahu, kalau kita sudah menikah, dan sudah ada Rara di hidup kita." Elia tampak terdiam, dan wajahnya berubah tegang. "Kamu jangan khawatir! Orang tuaku pasti menerima kamu. Meskipun mama sangat cerewet. Tapi dasarnya, dia ibu yang baik. Dia sangat menyayangi aku." Bagas meyakinkan istrinya. *** "Waalaikumsalam. Kamu itu ke mana aja sih? Mama hubungi kamu berkali-kali, ponsel kamu tidak aktif," tegur sang mama. "Iya, ma, maaf. Kemarin sempat tidak ada sinyal. Soalnya Bagas pergi ke pelosok. Ini Bagas baru sampai di Jakarta. Insya Allah besok Bagas pulang ke Yogyakarta. Maaf, sudah membuat mama khawatir. Bagas kangen sama mama," jawab Bagas. "Syukurlah, kalau seperti itu alasannya. Sekarang mama sudah bisa tenang. Ya sudah, mama tunggu besok ya kamu pulang," ucap Mama Mila dan Bagas mengiyakan. Setelah mengakhiri panggilan telepon dengan sang mama, Bagas langsung menghampiri Elia yang saat itu sedang duduk menonton TV. Sedangkan Rara saat itu sedang tidur di kamarnya. Bagas meraih tangan istrinya, dan menggenggamnya. Dia tahu, pasti istrinya saat ini berpura-pura mengalihkannya dengan menonton TV. Padahal tadi pasti sang istri mendengar percakapan dia dengan sang mama. "Besok kita ke Yogyakarta. Apa kamu sudah mencari orang untuk merawat rumah ini? Atau mungkin, lebih baik rumah ini di jual saja. Uangnya bisa kamu tabung. Kita akan menetap di Yogyakarta. Aku ingin membelikan kamu rumah. Namun, untuk sementara waktu. Aku hanya bisa mengunjungi kalian, saat jam kerja. Kamu dan Rara menginap dulu di hotel. Maaf, beberapa hari kita harus terpisah dulu. Aku perlu waktu untuk bicara dengan kedua orang tuaku. Terutama mamaku. Tapi, aku janji. Aku akan secepatnya mempertemukan kamu dan Rara dengan kedua orang tuaku," jelas Bagas. "Tapi, kamu tenang saja! Ini hanya sementara saja. Selama kedua orang tuaku belum tahu." Timpal Bagas lagi. Karena dia melihat Elia yang hanya diam. "Ya sudah. Lebih baik aku di sini saja sama Rara. Jika sudah saatnya kami bertemu dengan kedua orang tua kamu, barulah aku ke Yogyakarta. Percuma juga kami di sana, jika harus terpisah. Aku harus memikirkan perasaan Rara," seru Elia. "Ta, tapi. Aku tidak bisa jauh dari kalian. Setiap harinya, aku akan mengunjungi kalian di hotel. Aku janji, hari Sabtunya kalian akan bertemu dengan kedua orang tuaku," jawabnya. Bagas masih berusaha memberi pengertian kepada istrinya. Ada perasaan ragu di benak Elia. Bagaimana nasib dia dan Rara, jika nanti di sana orang tua Bagas tidak menerima dia. Jika dia masih di Jakarta, tentu saja tidak masalah bagi Elia. Dia bisa kembali bekerja kembali seperti dulu. "Please, aku mohon! Tolong kasih kesempatan padaku, untuk memperbaiki semuanya! Aku ingin menjadi suami dan ayah yang bertanggung jawab untuk keluargaku." Bagas memohon. Netra mereka saling bertemu. Elia tampak menatap lekat wajah laki-laki yang sudah resmi menjadi suaminya. Mencoba meyakinkan hatinya, kalau ini memang yang terbaik. Besar harapannya, untuk bisa diterima orang tua Bagas. Baru mendengarnya saja tadi, dia sudah merasa minder. Bagas anak tunggal. Pastinya, kedua orang tuanya sangat menggantungkan harapannya pada Bagas. Kecupan dari Bagas di kening, Elia. Membuat Elia terhipnotis dengan pesona suaminya itu. Terlebih sang suami berusaha meyakinkan dirinya, untuk berjuang bersama. Bagas memilih pergi ke Yogyakarta menggunakan pesawat. Dia ingin menyenangkan hati istri dan anaknya yang belum pernah naik pesawat. Untuk barang-barang penting milik Elia dan Rara, dibawa dengan menggunakan mobil Bagas. Selain itu, alasan Bagas mengajak anak istri dan istrinya naik pesawat, yaitu agar lebih cepat sampai di sana. Sehingga dia bisa menikmati waktunya terlebih dahulu, bersama dengan keluarga kecilnya. Saat ini mereka sudah dalam penerbangan menuju Yogyakarta. Rara duduk di tengah. Diantara kedua orang tuanya. "Rara senang banget. Akhirnya, Rara bisa merasakan naik pesawat. Makasih ya, Yah! Rara sayang ayah," ucapnya. Dia berikan kecupan di pipi sang ayah. "Iya. Ayah juga sayang sama Rara dan Bunda. Ayah akan berusaha untuk membahagiakan Rara dan juga bunda. Kita berpisah hanya untuk sementara. Setelah itu, kita akan selalu bersama. Rara sama Bunda sabar dulu ya!" Ucap Bagas mencoba memberi pengertian kepada anaknya. Rara pun akhirnya menganggukkan kepalanya. Elia hanya mendengarkan percakapan keduanya. Tanpa terasa, pesawat yang membawa mereka sudah mendarat di Bandar udara Internasional Yogyakarta. Bagas menggandeng tangan Rara. "Kita langsung ke hotel ya! Nanti malam ayah harus pulang. Nenek kamu sudah kangen sama ayah. Rara jalan-jalannya sama bunda ya! Hari Senin ayah baru akan menemui kalian berdua." Bagas berkata dan Rara mengiyakan. Dia memang anak yang pintar, mengerti keadaan orang tuanya. Rara terlihat senang, karena bisa menginap di hotel bintang lima. Tentu saja hotel mewah yang menjadi pilihan Bagas. "Rara senang banget. Setelah ayah mengajak aku naik pesawat, sekarang aku bisa merasakan menginap di hotel mewah," ungkap Rara. Dia juga langsung memeluk sang ayah. Bagas mengusap kepala sang anak dengan lembut. "Mulai sekarang, kamu akan merasakan fasilitas mewah dari ayah. Tidak seperti dulu yang hidup dengan kekurangan. Kamu dan bunda akan mendapatkan kehidupan yang layak. Bunda tidak perlu bekerja lagi. Saatnya ayah yang membahagiakan kalian," seru Bagas dan Rara mengiyakan. "Senin kita cari rumah ya! Aku ingin membelikan rumah untuk kamu dan Rara." Bagas berkata kepada Elia,. "Kita makan di hotel aja ya! Nanti Rara sama bunda aja kalau mau jalan-jalan. Untuk sementara waktu, ayah harus menutupi kalian dulu. Rara sama bunda mau makan apa? Ayah mau pesan makanan." Bagas berkata.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN