Elia mengajak Bagas mengobrol di sebuah Kafe yang letaknya tidak jauh dari rumahnya.
"Mau minum apa? Kita pesan minuman dulu, untuk teman mengobrol." Elia berkata.
Elia langsung memesan minuman untuk dia dan juga Bagas.
"Emangnya, kamu mau bicara apa? Katakan saja!" Kata Bagas to the point. Dia menjadi tidak sabar, ingin tahu apa yang akan Elia katakan.
"Ehm, aku sudah putuskan ingin membatalkan pernikahan kita. Aku tidak pantas untuk kamu. Untuk masalah, Rara. Kamu tidak perlu khawatir! Aku tidak akan melarang kamu, dekat dengannya. Nanti, kita akan bagi waktu kebersamaan kita dengan Rara. Aku rasa, ini yang terbaik untuk kita. Aku harap kamu mengerti keadaanya." Elia berkata.
Wajah Bagas terlihat kesal. Dia tidak percaya, Elia akan berkata seperti itu dengan santainya.
"Kamu pikir, pernikahan itu main-mainan? Pokoknya, aku ingin rencana pernikahan ini akan tetap dilangsungkan. Apa kamu tidak memikirkan perasaan anak kita? Dia terlihat begitu bahagia, melihat kita bisa bersatu. Apa kamu tega menghancurkan kebahagiaan Rara? Masa iya, kamu menyerah sebelum kita berjuang," sahut Bagas.
Elia tampak terdiam. Dia menjadi serba salah. Apa yang dikatakan Bagas memang benar, dia pun sudah melihat dengan mata kepalanya sendiri. Betapa bahagianya Rara. Namun, ada rasa takut yang berkecamuk di hatinya.
"Aku ingin pernikahan kita tetap dilangsungkan," kata Bagas tegas.
"Gas, ayolah, jangan egois seperti itu! Orang tua kamu pasti tidak akan setuju. Apalagi, kalau mereka tahu siapa aku sebenarnya. Mereka pasti akan merasa jijik padaku. Apa kamu tidak merasa jijik padaku? Aku takut, suatu hari nanti kamu tersadar, dan akhirnya memilih berpisah denganku," ucap Elia lirih.
"Orang tua aku tidak akan pernah tahu, siapa kamu sebenarnya. Kamu tidak perlu takut! Aku akan melindungi kamu dan Rara. Jika aku sudah memilih kamu, berarti aku sudah menerima kamu apa adanya," sahut Bagas.
Elia terdiam dan menatap wajah laki-laki di hadapannya lekat. Dia mencoba menahan air matanya, untuk tidak menetes. Jika dia bisa memilih, dia pun tidak ingin hal ini terjadi.
"Ayo, cepat habiskan minum kamu! Kita harus segera kembali ke rumah, dan berangkat ke Puncak. Waktu kita tidak banyak. Apapun yang terjadi, aku ingin pernikahan ini terjadi."
Tiba-tiba saja ponsel Bagas berdering.
"Mama?" Ucap Bagas pelan. Namun, masih bisa terdengar oleh Elia. Membuat jantung Elia berdegup kencang.
"Apa mungkin Sonya sudah memberitahu kepada mama?" gumam Bagas dalam hati.
Bagas lebih memilih tidak menerima panggilan telepon dari mamanya. Dia tetap bersikukuh ingin menikah dengan Elia.
Dugaan dia benar. Tanpa rasa malu Sonya akhirnya menghubungi mamanya Bagas. Dia sudah tidak sabar mendapatkan informasi dari maminya.
"Keterlaluan anak ini! Bisa-bisanya dia mengabaikan panggilan telepon dari mamanya. Pokoknya, kamu harus memberikan penjelasan sama mama tentang apa yang diceritakan Sonya," ucap Mama Mila.
Elia melirik ke arah Bagas yang fokus menyetir mobil. Tidak ada sepatah katapun terlontar dari bibir Bagas. Elia pun tidak berani memulai pembicaraan dengan Bagas.
"Awas aja kamu! Kalau sampai mama tahu, kalau kamu sudah membohongi mama."
Bagas tetap fokus pada rencana awalnya. Dia memilih menonaktifkan ponselnya, agar mamanya tidak bisa menghubungi dirinya. Setelah selesai akad nikah, barulah dia akan menghubungi mamanya balik.
Mereka sudah sampai di sebuah Villa. Tomi sang asisten sudah datang lebih dulu bersama wali nikah, penghulu, dan juga MUA yang akan merias Elia. Tomi akan menjadi saksi di pernikahan bosnya dengan Elia.
"Aku langsung ke kamar ya! Mau langsung dirias," pamit Elia kepada Bagas.
"Iya. Nanti aku menyusul ya, Sayang. Rara temani Bunda ya!" Bagas berkata kepada Elia dan juga Rara.
Berkali-kali sang mama mencoba menghubungi Bagas. Namun, ponselnya tidak aktif.
Acara akad nikah akan segera di mulai. Bagas dan Elia sudah duduk berdampingan. Bagas memuji kecantikan istrinya. Dirinya sudah merasa yakin menjadikan Elia sebagai istrinya.
Akad nikah berjalan lancar. Suasana penuh haru. Mereka terlihat bahagia. Meskipun pernikahan mereka tidak dihadiri kedua orang tua mereka. Rara pun terlihat begitu senang, karena akhirnya bisa memiliki orang tua yang lengkap.
"Semoga, kebahagiaan ini tidak akan pernah hilang," kata Elia dalam hati.
Kini posisi mereka saling berhadapan. Elia tampak memandang laki-laki yang kini sudah resmi menjadi suaminya. Bagas memakaikan cincin pernikahan mereka di jari manis Elia, begitu juga sebaliknya.
"Aku mencintai kamu. Semoga kita menjadi keluarga sakinah, mawadah, dan warohmah." Bagas berkata, dan Elia tampak menganggukkan kepalanya. Dia juga memberikan kecupan di pucuk kepala dan kening wanita yang sudah resmi menjadi istrinya.
Mata Elia terlihat sudah berkaca-kaca. Dia begitu terharu, karena ternyata masih ada laki-laki yang tulus padanya, dan memperlakukan dia dengan baik.
Inilah hari bersejarah dalam hidup mereka. Tidak ada kata terlambat, untuk mencari kebahagiaan. Mereka harus melewati jalan panjang, dan pada akhirnya takdir 'lah yang menyatukan mereka dalam sebuah ikatan pernikahan.
Serangkaian acara hari ini sudah selesai. Hari pun sudah berganti malam. Tomi pamit pulang, untuk kembali ke Jakarta. Rara pun yang sudah terbiasa hidup mandiri, sudah masuk ke kamarnya sendiri. Bagas dan Elia pun kini sudah berada di kamar mereka.
Elia merasa gugup berada satu kamar dengan laki-laki yang sudah menyandang status suaminya. Terlebih saat Bagas melingkarkan tangannya di pinggang rampingnya. Netra mereka saling bertemu.
"Sekarang, kamu sudah resmi menjadi istriku. Aku berjanji akan selalu membuat kamu bahagia. Kita jalani rumah tangga ini sampai maut memisahkan kita. Kita besarkan Anak-anak kita bersama. Selamanya aku akan selalu mencintai kamu."
"Bagaimana, kalau orang tua kamu tidak merestui pernikahan kita? Apa kamu akan meninggalkan aku bersama Rara?" tanya Elia. Pertanyaan ini sejak tadi mengganjal di hatinya. Dia sadar siapa dirinya. Bisa dikatakan dia tidak layak untuk Bagas.
"Aku janji akan tetap pertahankan kalian. Kita harus saling menguatkan, menggenggam erat, berjuang demi anak kita."
Bagas mengajak Elia sholat taubat, meminta ampun kepada Allah. Atas perbuatan yang mereka lakukan dulu, sampai hadirnya Rara di dunia. Mereka akan membuka lembaran baru. Mereka juga melakukan ritual sebelum melakukan malam pertama. Meskipun ini bukan yang pertama untuk mereka. Jantung Elia berdegup kencang, dia merasa tegang. Rasanya sangat berbeda.
Elia memakai lingerie yang tadi dia beli di Mall. Penampilan dia begitu menggoda. Kali ini dia bukan menjadi seorang jalang yang hendak memuaskan pelanggannya. Tapi, bertugas menjadi seorang istri yang melayani suaminya sebagai ibadah.
"Kamu tidak pernah berubah, Sayang. Masih sama, saat kita bertemu dulu," ucap Bagas mesra. Dia juga mengusap wajah Elia dengan penuh lembut.
Sentuhan lembut suaminya, membuat tubuh Elia meremang dan membuat dia mengeluarkan suara indah di dengar. Rasanya pasti sangat berbeda.
Bagas langsung menggendong tubuh istrinya ala bridal style, dan membaringkan tubuh istrinya perlahan di ranjang. Dia semakin tidak sabar, ingin menyentuh istrinya. Dalam sekejap dia sudah berhasil membuat tubuhnya dalam keadaan polos. Dia pun langsung menyambar bibir ranum istrinya, dengan penuh gairah.
Perlahan. Namun, pasti. Malam ini akan menjadi malam panjang untuk mereka berdua. Keduanya sama-sama bergelora. Jika selama ini Elia selalu memuaskan laki-laki. Kali ini dia merasa terpuaskan oleh suaminya. Terdengar suara indah saling bertautan dari bibir keduanya. Dinginnya cuaca di sana. Tidak mampu menutupi hawa panas yang menjalar dari tubuh mereka. Keringat bercucuran membasahi wajah dan tubuh keduanya.
"Sayang, aku sudah tidak tahan. Apa aku boleh melakukan permainan inti?" Ujar Bagas.
"Apa kamu sudah membeli pengaman?" tanya Elia.
"Untuk apa? Kita sudah menikah, dan aku ingin memiliki anak kembali untuk adik Rara," sahut Bagas.
Takut? Ya, Elia masih memiliki rasa takut. Dia takut, kalau Bagas akan meninggalkan dia kembali dalam keadaan hamil untuk kedua kalinya.