Harapan Ares pun pupus. Alia mungkin tak akan pernah datang lagi, untuk menemuinya. Kini, ia harus kembali merasakan kekosongan yang sama, seperti saat ia kehilangan Anis. "Assalamu'alaikum..., kalau ada yang datang itu di sapa! Apa masih kurang, ceramah dari Neng Alia?" tanya Aswin, dengan wajah meringis. Ares tersenyum singkat lalu mencium tangan Bapaknya. "Wa'alaikumsalam, Pak," jawab Ares. "Nih," Aldi menyodorkan rantang makanan yang biasa Alia bawa untuknya, "dari Neng Alia. Katanya maaf, belum bisa datang menjenguk. Dia banyak sekali kerjaan di kantor, karena Ranti lagi cuti selama hamil muda," jelas Alia. Ares pun tersenyum. Alia ternyata masih mengingatnya, sekalipun sedang sibuk. Pikiran-pikiran buruknya kini mendadak lenyap. Ares bergegas mengambil rantang itu dari tangan Al

