Almeer memijit kepalanya yang tidak sakit saat melihat ke-tidak berhasilan Bryan memimpin rapat siang ini. Semua materi rapat sudah di berikan kepada anak itu lengkap dengan bahasan apa yang akan mereka bicarakan nanti. Sebagai calon pemimpin dan pewaris perusahaan tidak sedikitpun ia melihat bibit itu ada pada diri Bryan. Maria yang juga hadir di sana hanya bisa mengurut dadanya karena malu, peserta rapat yang terdiri dari kepala tiap-tiap divisi seperti menahan tawa karena kegagalan Bryan tersebut. Bryan tak lebih seperti anak kecil yang di paksa berdiri di depan kelas untuk menyampaikan sesuatu. “Ini baru rapat internal, bagaimana nanti kau akan berhubungan dengan partner kerja dari luar dan memperebutkan sebuah proyek? Hal sekecil ini saja kau tidak bisa menangani.” Almeer berkata gu

