Lenny sudah di depan kasir tapi belanjaan yang ia ambil kayaknya begitu banyak dan Lenny takut uangnya kurang, jadi Lenny mendekat ke arah kedua pria itu.
"Mas, tolong bayar belanjaannya."
Mendengar ucapan Lenny, mereka berdua merogoh saku celana dan mengeluarkan dompet mereka. Tanpa Lenny duga, kedua pria itu menyodorkan dompet ke arahnya, Lenny jadi bingung ia harus pilih dompet siapa untuk membayar semua belanjaan.
"Pakai uangku saja," ucap Ghiyan.
"Ambil punya aku saja dik!" seru Reyndra.
Lenny memandang Reyndra lalu ke arah Ghiyan, kedua pria itu sama-sama punya dompet yang tebal, tapi Lenny malah bingung mau ambil yang mana.
"Kalian bikin aku pusing aja! Baiklah aku am-" Lenny belum selesai bicara, Reyndra sudah maju ke meja kasir.
"Permisi Mbak, semuanya berapa?" tanya Reyndra.
"Maaf Pak, belum selesai ditotal," jawab pegawai swalayan.
"Ok saya tunggu."
Ghiyan termangu melihat Reyndra yang bergerak cepat, Reyndra lebih paham situasi dan keadaan, sedangkan Ghiyan pria manja yang apa-apa disiapkan pembantu atau Mamanya, beda dengan Reyndra yang mandiri dan rajin bekerja hingga sukses seperti sekarang.
Saat Reyndra menunggu proses pembayaran, Lenny berdiri di samping Reyndra sambil mencium rambut Ghea yang ada di gendongan Reyndra, mereka terlihat serasi dan membuat Ghiyan cemburu.
'Apakah anak itu anakku? Apa perlu aku tes DNA? Tapi Mama dan Desi bagaimana bila mereka tahu aku punya anak? Haruskah aku abaikan mereka?' batin Ghiyan.
Perasaan Ghiyan campur aduk, setelah sekian lama berpisah ternyata Lenny punya anak tanpa memberi tahu dirinya, Ghiyan jadi ingat saat itu Lenny sedang hamil saat dia pergi dari rumahnya, tapi dirinya tak perduli karena lebih tertarik dengan Desi.
"Mama bahkan tidak tahu bila Lenny hamil saat itu, apa yang aku pikirkan saat itu, ya Allah."
Ghiyan mengusap wajahnya, saat dirinya sedang galau tiba-tiba ponselnya berdering, ada panggilan telepon untuknya.
"Mama telepon, ada perlu apa ya?"
Dengan berat hati Ghiyan mengangkat telepon dan mencari tempat agak sepi di swalayan itu.
"Mama kenapa telepon?"
"Persiapan tunangan kamu dengan Bella minggu depan gimana?" tanya Bu Jayanti di seberang telepon.
"Semua sudah siap, kenapa Ma?"
"Mama takut ada yang kurang."
"Semua ok, Mama jangan khawatir."
"Baiklah, kamu cepat pulang, kita makan siang bareng."
"Mama, bagaimana kalau aku mengundurkan jadwal tunangan dengan Desi?"
"Ghiyan kau ini sadar gak sih? Kamu mabuk ya? Kamu siang bolong minum-minum? Kenapa bicaramu ngelantur?"
"Aku gak mabuk Ma!"
"Lalu, kenapa bicara ngawur gitu?"
"Aku lagi bingung."
"Kalau lagi ada masalah bicarakan baik-baik, ini persiapan sudah seratus persen, kenapa mau diundur? Kamu mau buat Mama mati berdiri?"
Suara Bu Jayanti di seberang telepon terdengar khawatir, tapi Ghiyan sebetulnya sedang galau setelah melihat bayi yang digendong Reyndra yang cantik dan menggemaskan itu.
"Ma, kita bicara lagi nanti, aku masih ada urusan."
"Jangan punya pikiran aneh-aneh ya! Mama tunggu di rumah, kamu jangan buat Mama jantungan."
"Iya, Mam!"
Tidak lama setelah itu, sambungan teleponnya terputus. Ghiyan kembali ke tempat kasir, tapi Reyndra dan Lenny tak ada di tempat itu, lalu ia berlari ke area parkiran.
"Ke mana perginya mereka berdua, ya?" gumamnya.
Di area parkiran yang segitu luas, Ghiyan tak menemukan Lenny dan Reyndra. Pikirannya semakin gundah gulana terlebih bila terbayang bayi mungil dalam gendongan Reyndra.
"Dasar sialan mereka, kira-kira mereka ada di mana?"
"Plat nomor mobilnya juga aku tak tahu, lalu sekarang bagaimana?"
Dengan raut wajah masam dan rasa kesal yang menumpuk dalam dadanya, Ghiyan kembali ke rumah, sesampainya di rumah ia di sambut Desi dengan senyuman manis, tapi Ghiyan tak sedikitpun perduli.
"Minggir aku mau istirahat!"
"Mas, makan dulu ya!"
"Aku malas makan!"
Sikap Ghiyan yang berubah membuat Desi menjadi curiga, jangan-jangan dia tadi bersama wanita lain. Desi pacar Ghiyan, walau tahu Ghiyan masih sah suami Lenny, tapi Desi rela jadi simpanan Ghiyan sambil menunggu proses perceraian mereka.
Melihat wajah Desi yang cemberut, Bu Jayanti mendekat dan menepuk pundak Bella. "Mungkin Ghiyan sedang banyak pikiran, jadi jangan diambil hati."
"Tapi, dia tidak biasanya begitu Ma!"
"Mama tahu, tadi saat di telepon juga dia bicaranya kasar sama Mama."
Desi memandang Bu Jayanti sambil mengernyitkan dahi, setahu Desi Ghiyan tidak pernah kasar sama mamanya. Setelah tinggal beberapa bulan di rumah itu, Desi kini memangil Bu Jayanti dengan panggilan Mama.
"Kenapa perasaan aku gak enak ya Ma?"
"Sudahlah jangan dipikirkan, yuk kita makan siang."
"Mari Ma, kebetulan aku juga sudah lapar."
Mereka berdua lalu berjalan menuju ruang makan, sedangkan Ghiyan masuk ke dalam kamar dan merebahkan tubuhnya di atas ranjangnya yang empuk.
"Apa yang aku pikirkan? Kenapa aku jadi begini?"
Pandangan matanya menatap plafon yang dihiasi lampu neon, bentuk plafon yang bergaya Eropa itu menambah indah kamarnya bagaikan di sebuah hotel bintang lima.
Terkadang dia juga tak habis pikir kenapa dulu ia terjebak cinta Lenny yang hanya seorang pegawai cafe tempat dia nongkrong setiap ada masalah di kantornya.
Lenny gadis cantik dan baik hati, tapi setelah menikah tanpa restu dari Mama dan keluarga besarnya, Ghiyan merasa tak bahagia dan selalu berbuat kasar pada Lenny, tapi setelah hari ini dia bertemu dengan Lenny, entah kenapa dia merasa bersalah.
"Sejak dari awal pernikahan kami bukanlah pernikahan yang bahagia, tapi kenapa aku sekarang sakit hati saat melihat dia dengan pria lain?"
"Kenapa dengan diriku?"
Ghiyan meremas rambutnya dengan sangat kuat dan berharap sakit kepala yang dia rasa akan hilang, tapi semakin terbayang wajah Lenny dan bayi itu, semakin sesak nafas dan kepalanya sakit.
"Kenapa aku jadi pria macam ini? Kenapa aku bersikap seperti itu pada Lenny? Kenapaaa?!"
Ghiyan berteriak melepaskan semua beban yang menumpuk di dalam hatinya, rasa bersalah tiba-tiba muncul dan mengganggu pikirannya.
"Pernikahanku dulu dengan Lenny secara diam-diam, jadi tak banyak orang tahu bila Lenny istriku, seharusnya aku baik-baik saja, apalagi sekarang ada Desi, tapi kenapa aku merasa ada yang kurang dalam hidupku?"
Ghiyan merubah posisi tidurnya, ia kini memeluk guling. "Ke mana perginya mereka? Aku harus cari tahu."
Ghiyan bangun dari tempat tidurnya, lalu berdiri di depan cermin besar di samping lemari pakaian, ia termangu menatap wajahnya di depan cermin, entah apa yang ada dipikirannya, namun pantulan cermin itu terlihat wajah Lenny yang sekarang lebih cantik.
Tangan Ghiyan meraba permukaan cermin dengan senyuman aneh, Ghiyan seperti orang yang sedang dimabuk cinta, ia membelai permukaan cermin itu dengan lembut.
"Sayang, kau kah itu? Kau terlihat cantik, apakah kau rindukan aku?"
Saat Ghiyan menikmati khayalan dan kenangan saat bersama Lenny, tiba-tiba Desi masuk ke dalam kamar, dia merasa heran melihat Ghiyan yang sedang meraba cermin sambil senyum-senyum sendiri.
"Sedang apa dia? Apa dia kesurupan?" gumam Desi sambil berjalan pelan-pelan mendekati Ghiyan.
Ghiyan masih tenggelam dalam khayalan dan kenangan bersama Lenny, tapi tidak tahu itu, semakin dekat Desi semakin merasa heran melihat Ghiyan yang seperti orang tidak waras yang senyum-senyum sendiri.
"Ayang, kau baik-baik saja?"
Suara Desi belum bisa menyadarkan Ghiyan yang masih larut dalam khayalan, lalu dengan tepukan pelan Desi berusaha membuat Ghiyan tersadar.
"Ayang, Ayang! Kamu kenapa?"
"Hah! Apa?" jawab Ghiyan yang baru tersadar dari lamunannya.
Ghiyan memandang Desi dengan pandangan mata yang kosong, ia terlihat seperti baru kehilangan sesuatu yang berharga, namun tidak tahu itu apa.
"Ayang kenapa?"
"Gak apa-apa, tadi aku sedang mikir sesuatu."
Ghiyan mencoba mengalihkan pembicaraan dan ingin pergi dari sana, tapi tangan Desi memegang lengan Ghiyan.
"Tunggu, kamu harus bicara denganku."
"Soal apa?"
"Sedang apa tadi senyum-senyum sendiri sambil lihat cermin?"
"Tidak ada, aku tadi cuman bersihkan cermin, aku lihat ada bekas bedak."
"Oh, ya! Masak?"
Buru-buru Desi melihat cermin dan memperhatikan dengan seksama, tapi tanpa dia sadari Ghiyan telah pergi dari kamar itu.
"Dasar aneh, wong gak apa-apa di sini," ucap Desi sambil memandang ke arah Ghiyan berdiri tadi, tapi di kamar itu tak ada Ghiyan, ia lalu melihat sekeliling ruangan, namun Ghiyan tidak ada di sana.
"Ke mana dia pergi, kenapa tidak pamit? Aneh banget sih!"
Desi lalu pergi ke luar kamar dan berusaha mencari keberadaan Ghiyan, tapi orang rumah tidak tahu ke mana perginya Ghiyan.