Gawat

1201 Kata
"Mas, aku yang gendong Ghea, ya? Mas Reyndra sudah dari tadi gendong, nanti Mas capek." Lenny berusaha membujuk Reyndra agar Ghea digendong olehnya, namun Reyndra acuh tak acuh, ia seakan menikmati perannya sebagai seorang ayah. "Aku gak capek, aku malah senang gendong Ghea, kamu cepat cari apa yang mau kamu beli." "Baiklah kalau begitu." Lenny mendorong kereta belanjaan dan memilih barang-barang yang akan dia beli, sedangkan Reyndra dengan santainya berjalan di samping Lenny sambil menggendong Ghea. "Aku heran kenapa kau sayangi anakku seperti itu? Kau bahkan lebih perduli dari pada papanya anakku." Reyndra berhenti melangkah dan menatap Lenny yang sedang melihat barang di etalase swalayan itu, Reyndra ingin menjawab pertanyaan Lenny namun ia takut untuk bicara. "Kenapa, diam?" tanya Lenny lagi. "Tidak apa-apa, aku hanya tak perlu menjawab." Lenny tersenyum tipis dan menaruh barang yang ia pilih dalam kereta dorongnya. "Ok, aku juga tidak mau mendengar yang tidak ingin aku dengar." "Dasar aneh!" Lenny berbalik menghadap Reyndra yang sedang tertawa kecil melihat tingkahnya, ia seakan sedang mengejeknya. "Aku aneh? Aneh dari mana?" "Dari planet mars, hehehe." "Gak lucu!" "Kalau gitu jangan tertawa," jawab Reyndra cuek. Mereka lalu menyusuri lorong swalayan itu dan mengambil semua barang yang mereka butuhkan, tapi saat di sudut ruangan tempat buah dan sayur, mata Lenny tak berhenti menatap seorang pria dengan tubuh proposioal memakai kaos berwarna coklat muda dipadu dengan celana jeans warna biru dongker. "Mas Ghiyan, dia Mas Ghiyan kan?" Wajahnya yang tampan, walau topi menutupi sebagian wajahnya, namun Lenny masih mengenali pria itu. "Siapa yang kau maksud?" tanya Reyndra. "Lihat itu, dia Mas Ghiyan kan?" Reyndra menatap ke arah tempat yang Lenny tunjuk, lalu dengan seksama ia mengamati pria yang ada di depan sebuah lemari pendingin tempat buah segar diletakkan. "Iya itu Ghiyan, sedang apa dia di sini?" "Mana aku tahu? Coba kau sapa dia?" balas Lenny. "Kenapa bukan kamu saja yang sapa, bukankah dia suami kamu?" ucap Reyndra dengan muka masam, terlihat jelas bila dia tak suka dengan apa yang dia lihat. "Sebaiknya kita putar arah, kita ke tempat lain dulu." Lenny ingin memutar kereta dorongnya, namun tangan Reyndra mencegahnya. "Kita sapa dia dulu." "Kau gila! Aku tak mau!" "Kenapa, apa kau masih punya hati dengannya? Kalau masih, aku dengan senang hati mengantarkan mu ke sana." "Aku tak suka cara bercanda kamu, Mas." "Aku tidak bercanda, tapi aku sungguh-sungguh." Reyndra yang sedang menggendong Ghea tidak berani bicara keras karena Ghea sedang tidur dalam gendongannya. "Aku tidak mau bicara dengannya." "Lalu, sampai kapan kau akan sembunyi?" "Dia yang mengabaikan aku." "Lalu kenapa kau masih memikirkan dia? Kalau kau tak punya rasa, maka temui dia dan minta cerai." Reyndra menatap tajam Lenny, mereka berdua saling berpandangan hingga tidak menyadari bila Ghiyan datang mendekat. "Permisi, bisa bicara sebentar?" tanya Ghiyan. Spontan Lenny dan Reyndra menoleh ke arah Ghiyan. Melihat wajah kedua orang itu, Ghiyan mundur pelan-pelan, ia tidak menyangka akan melihat mereka di sana. "Kamu sedang apa di sini?" tanya Ghiyan, "kenapa kalian datang berdua, lalu siapa bayi itu?" lanjutnya. Mereka diam sejenak, Lenny tak tahu harus dari mana untuk bercerita, sedangkan Reyndra semakin erat memeluk Ghea yang ada dalam gendongannya, ada perasaan takut menyelimuti hatinya. 'Aku melihat proses anak ini tumbuh mulai dari kandungan hingga saat lahir pun aku yang menemaninya, kalau anak ini diambil dariku, lalu bagaimana denganku?' batin Reyndra. "Kenapa kau ketakutan? Apa karena kau ketahuan selingkuh dengan istri orang?" ucap Ghiyan dengan nada ketus sambil memandang Reyndra. Plaaakk! Tamparan keras mendarat di pipinya Ghiyan, ia bahkan tidak menduga mendapat tamparan itu dari Lenny yang yang seingat dia wanita lemah lembut dan baik hati. "Tutup mulutmu!" geram Lenny. "Apa salahku?" balas Ghiyan seraya memegang pipinya yang memerah dan terasa panas. "Kau masih berani bertanya begitu padaku? Siapa yang selingkuh?!" Mendengar Lenny yang berteriak, Reyndra segera mendekat dan menaruh jari di atas bibirnya. "Huush! Malu di dengar orang." "Lihat manusia munafik satu ini, dia yang selingkuh tapi malah menuduh orang lain." "Dik, tenanglah! Lihat sekeliling kita, ada banyak orang yang melihat." Benar juga apa yang di katakan Reyndra, mendengar teriakkan Lenny tadi orang-orang pada kepo dan ingin tahu tentang kejadian yang sebenarnya. Ghiyan berkacak pinggang dengan congkaknya, sedangkan pandangan matanya tidak pernah lepas dengan bayi perempuan mungil yang ada dalam gendongan Reyndra. "Anak siapa itu? Apa itu anak kalian?" tanya Ghiyan. "Kita bicara di tempat lain, aku akan bayar belanjaan ini baru kita bicara di cafe depan sana," ucap Reyndra. "Untuk apa bicara dengan dia, Mas? Aku tidak mau bicara dengan dia," bantah Lenny. Melihat sikap Lenny yang keras kepala dan sikap Ghiyan yang sombong dan tidak mau mengalah, Reyndra seakan berdiri di antara dua jurang. "Bisakah kalian bersikap dewasa dan berpikir jernih? Ini swalayan dan banyak orang, jadi tahan emosi kalian." "Kenapa kau perhatian dengan dia, apa kau sudah menikah dengan dia?" tanya Ghiyan sambil menunjuk ke arah Reyndra. Sikap Ghiyan yang congkak memancing kesabaran Reyndra yang dari tadi sudah ia tahan. Kalau saja ia tidak menggendong Ghea, ia pasti sudah menghadiahkan Ghiyan bogem mentah. "Bisa kita bicara baik-baik? Aku juga punya perasaan, jadi tolong bicara yang sopan." "Jadi kau merasa tersinggung? Lalu mau kamu apa?" tantang Ghiyan. "Aiish! Jangan memancing di air yang keruh," balas Reyndra seraya menatap tajam Ghiyan. "Aku tidak takut padamu," tantang Ghiyan. "Hentikan, kita sekarang jadi tontonan orang-orang," ucap Lenny seraya memandang sekeliling mereka. Saat mereka sedang berdebat, datanglah seorang petugas berseragam seperti seorang satpam. "Permisi, kalau bertengkar jangan di sini, mohon untuk ke luar." "Maaf Pak, kami akan ke luar," jawab Lenny sembari mendorong kereta belanjaan. Saat Lenny melangkah, ternyata Reyndra masih diam terpaku menatap Ghiyan, begitu juga Ghiyan yang menatap Reyndra dengan pandangan menantang. Lenny menoleh ke belakang dan berseru, "Mas, ayo!" Kedua pria itu spontan menoleh ke arah Lenny dan menjawab hampir bersamaan, "Apaa!" "Suami ibu yang mana?" tanya satpam itu, ia sepertinya bingung karena kedua pria itu menjawab secara bersamaan. "Kalian berdua cepat ikut aku!" gertak Lenny dengan mata melotot. Melihat kemarahan dari sorot mata Lenny, kedua pria itu segera mengikuti langkah kaki Lenny yang setengah berlari sambil mendorong kereta belanjaan. "Hei, kau apakan dia sampai jadi galak gitu? Setahuku dulu dia pendiam dan sabar," tanya Ghiyan pada Reyndra yang berjalan di sampingnya. "Semua ini gara-gara kamu." "Aku ...?" balas Ghiyan sambil berhenti melangkah. "Hei, apa yang kau lakukan? Kalau tahu kamu diam di situ, dia akan marah," ucap Reyndra sembari menoleh ke belakang. "Iya juga sih, kenapa aku jadi takut lihat dia marah?" gumam Ghiyan sambil berlari kecil mengejar Reyndra. "Ngomong-ngomong bayi ini anak siapa?" tanya Ghiyan setelah berjalan di samping Reyndra. "Menurutmu ini anak siapa?" Reyndra bertanya balik pada Ghiyan. "Kau sungguh menyebalkan, aku bertanya malah kau tanya balik!" "Kenapa kau tidak pernah mencari Lenny?" "Dia pergi denganmu, jadi untuk apa aku mencarinya?" "Kau pria kurang ajar, andai saja tidak menggendong Ghea, aku pasti sudah menghajarmu!" "Jadi nama anak ini Ghea?" "Iyah, namanya Ghea Ayu Andita." "Dia terlihat cantik dan menggemaskan saat tidur." "Ceraikan Lenny, maka aku akan sepenuhnya menjadi Papa dari anak ini." Mendengar ucapan Reyndra, spontan Ghiyan berhenti melangkah dan memegang lengan Reyndra. "Apa katamu?" tanya Ghiyan. "Ceraikan Lenny dan anak ini akan jadi anakku." Melihat Reyndra dan Ghiyan yang diam terpaku, Lenny memandang mereka berdua dari kejauhan, perasaannya jadi tidak karuan, ia takut mereka berdua akan bertengkar lagi. "Gawat!" gumamnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN