"Maafkan aku."
Lenny menangis tersedu-sedu, Reyndra hanya bisa memeluk tubuh Lenny dengan satu tangan karena tangan kanannya sedang menggendong Ghea.
"Kau tahu Dik, aku merasa pria yang paling bahagia karena aku memeluk Ghea dan kamu. Andai saja kita menjadi satu keluarga."
Lenny semakin kencang tangisannya, sedangkan Reyndra menepuk-nepuk pelan pundak Lenny, Reyndra bersyukur saat Lenny menangis, anaknya tidak ikut menangis.
"Kalau kalian berdua menangis, aku pasti ikutan nangis juga, jadi kita bertiga nangis bareng, hehehe!"
Lenny tersenyum mendengar ucapan Reyndra dan menghapus air matanya, ia sudah bisa menenangkan diri dan menatap Reyndra sambil tersenyum tipis.
"Terima kasih, Mas."
"Terima kasih untuk apa?"
"Untuk segala yang telah kau beri."
Reyndra tersenyum, lalu menatap Lenny sambil memegang dagu Lenny dan ujung jarinya menempel di sudut bibirnya Lenny.
"I love you."
Lenny tersipu malu dan menepis tangan Reyndra pelan, ia tak mau larut dalam gelora asmara Reyndra, ia tidak ingin bersama Reyndra sebelum hubungannya dengan Ghiyan berakhir.
"Ayo kita sarapan!"
"Kenapa menghindar lagi?"
"Kita sarapan dulu ya!"
Lenny hendak pergi namun tangan Reyndra segera merengkuh tubuh Lenny dalam pelukannya.
"Aku mencintaimu sepenuh hati dan sampai kapanpun aku akan menunggu."
Lenny mengangguk dan tersenyum sambil memegang pipinya Reyndra dengan lembut.
"Kita sarapan dulu, maaf cuman ada itu yang bisa aku masak."
"Persediaan bahan makanan sudah habis, kah?"
"Sudah habis."
"Baik, setelah sarapan kita langsung belanja ke pasar swalayan."
"Ok," jawab Lenny sembari tersenyum manis.
"Ghea belum makan bubur ya?"
"Ya belum Mas! ASI eksklusif biasanya selama 5 sampai 6 bulan."
"Selama itu ia cuman minum ASI?"
"Iyalah."
"Jadi kamu harus makan yang banyak dan bergizi agar ASI yang keluar juga ASI yang terbaik."
"Tentu saja Mas."
"Kalau begitu, ayo kita sarapan."
Mereka lalu berjalan ke arah meja makan yang ada di depan dapur, sejenak Reyndra memperhatikan makanan yang ada di atas meja makan yang terbuat dari kaca bergaya minimalis.
"Makanannya cuman ini?"
"Aku tadi sudah bilang kalau bahan yang bisa di masak tinggal itu."
"Kenapa tak bilang padaku? Kalau aku tahu, aku pasti belikan."
"Aku tak mau membuatmu susah, kamu sudah terlalu banyak membantuku, bahkan saat persalinanku, kau mau menjagaku."
"Aku sudah bilang, aku akan selalu ada untukmu."
Lenny memandang ke arah Reyndra dan tersenyum, melihat Reyndra yang sedang menggendong Ghea, Lenny sangat kagum dengan sikap Reyndra yang kebapakan.
"Andai saja suamiku sepertimu."
"Aku sudah minta kau terima aku sebagai suami kamu, tapi kamu masih nolak, aku jadi heran, kenapa kau terus menolakku?"
"Jangan bahas itu lagi."
Lenny menunduk dan wajahnya masam, Reyndra jadi gak enak hati. Reyndra lalu mencubit ujung hidung mancung Lenny.
"Hei, kenapa cemberut? Ayo senyum!"
"Aku gendong Ghea, Mas duduk dan sarapan dulu."
Lenny mengulurkan tangannya hendak menggendong Ghea, namun Reyndra cuek dan langsung duduk di kursi.
"Aku bisa makan sambil gendong bayi, jadi kamu duduk dan sarapan."
Lagi-lagi Lenny dibuat terkagum-kagum dengan sikap Reyndra yang baik hati dan selalu pengertian padanya.
'Dia ini manusia apa malaikat sih! Kenapa baik banget, mana tampan lagi,' batin Lenny.
"Kenapa melihatku seperti itu?" tanya Reyndra sambil mengangkat dagunya.
"Apa kau ada pacar? Pria setampan kamu pasti banyak wanita yang suka."
"Ya salam, kau bicara apa? Tentu saja banyak yang suka aku, tapi cuman ada satu wanita yang menolakku, yaitu kamu!"
"Kau sungguh tak punya pacar? Atau wanita lain yang kamu suka?"
Brak! Reyndra memukul pelan meja dengan satu tangan sementara matanya melirik ke arah Ghea, lalu ia mengalihkan pandangan matanya menatap Lenny tajam.
"Kau cari gara-gara denganku? Apa kau ingin aku bersama wanita lain? Apa sebenarnya yang ada di pikiranmu? Katakan!"
"Maaf, aku cuman penasaran saja."
"Tidak usah penasaran dengan hidupku, aku sudah cukup pusing mikirin satu wanita, mau nambah wanita satu lagi, aku pasti bisa gila."
"Hehehehe," Lenny tertawa terbahak-bahak melihat wajah Reyndra yang menggemaskan saat kesal.
"Jangan ketawa, aku lagi marah, tau!"
"Ok, ok, aku gak ketawa, hehehe."
"Tuh, masih ketawa gitu."
Lenny langsung menutup mulutnya, tapi ia masih tertawa dalam hati. Saat ini dirinya sangat terhibur bicara dengan Reyndra dan melihat Reyndra yang cemberut dengan mimik wajah menggemaskan.
"Ngomong-ngomong, kenapa Ghea tenang-tenang saja saat kau gendong?" tanya Lenny seraya memandang anaknya.
"Kayaknya dia ngantuk, tapi sepertinya dia nyaman dalam dekapanku. Andai kau sama kayak anakmu yang nyaman dalam dekapanku, aku pasti sangat bahagia."
"Wes, mulai lagi."
"Hehehehe, sorry. Aku gak tahan bila sedetik saja tak merayu kamu."
"Dasar gombal, kau dari dulu memang manis saat bicara."
"Oh, ya! Tapi aku bicara manis cuman sama Kamu, kalau sama wanita lain aku tak pernah merayu."
"Ah, masak? Kau tidak pernah bersama wanita lain?"
"Ambilkan aku nasi, aku sudah lapar!"
Reyndra mengalihkan pembicaraan, ia sepertinya tidak ingin bicara mengenai masa lalunya dengan wanita lain. Lenny lalu berdiri dan mengambilkan nasi dan lauk pauk buat Reyndra.
"Kalau boleh tahu, apa kau pernah bersama wanita lain?" ucap Lenny seraya duduk di tempatnya semula.
"Kau ingin aku jujur atau berbohong?" ucap Reyndra sembari menyuap sesendok nasi ke mulutnya.
"Aku mau kau jujur padaku?" tegas Lenny.
"Kau tak akan marah?"
"Tentu tidak."
Reyndra mengunyah makanan yang ada di mulutnya dengan perlahan, ia terlihat begitu menikmati makanan itu. Sedetik kemudian ia tersenyum sambil mengetuk meja. Tuk tuk!
"Apa, apa makanannya gak enak?" tanya Lenny karena Reyndra berhenti mengunyah dan mengetuk meja.
"Aku minta minum, buatkan aku teh manis."
"Heeiish, kirain masakanku gak enak."
Lenny beranjak dari tempat duduknya dan menuju dispenser air panas, lalu membuat teh manis hangat untuk Reyndra.
"Nih, ada lagi?" ucapnya sambil menaruh gelas di depan Reyndra.
"Apa ada buah segar?"
"Aku hanya punya satu apel di kulkas, mau aku kupas kan?"
"Boleh," jawab Reyndra dengan senyuman manisnya.
Lenny lalu mengambil apel di kulkas dan pisau lalu kembali duduk dan mengupas apel. Saat mengupas apel, ia kembali melamun, ia teringat dengan Ghiyan.
'Dulu aku seperti pembantu di rumah suamiku, aku melayani dia dengan baik, tapi bicaranya selalu kasar saat meminta sesuatu, beda dengan Mas Reyndra yang meminta dengan sangat sopan,' batin Lenny.
"Awas Dik, kalau pegang pisau jangan melamun."
"Oh maaf, aku teringat sesuatu."
"Kamu pasti ingat suami kamu."
"Kok, Mas tau?"
Reyndra tersenyum melihat ekspresi wajah Lenny yang nampak heran dengan ucapannya, ia lalu mengambil gelas yang berisi teh manis hangat dan meminumnya.
"Ehemm! Aku cuman menebak aja."
"Oh, gitu."
"Tapi aku benar, kan?"
"Iya sih!"
"Saat ini kau boleh melamun dan mengingat suami kamu yang koplak itu, tapi setelah kau bersamaku kelak, jangan pernah kau ingat-ingat dia lagi."
"Maaf, aku hanya ingat perlakuan kasar dia padaku, bahkan aku tak pernah makan bersama seperti ini dengan dia."
"Apa kau bercanda? Kau tak pernah makan bersama dia satu meja?"
Lenny menggelengkan kepalanya, ia masih ingat dulu saat pacaran memang pernah makan satu meja di restoran atau cafe, tapi setelah menikah dirinya tidak pernah makan satu meja di rumah dengan suaminya karena mertuanya tidak mau makan bersama dirinya dalam satu meja.
"Kalau makan kau dengan siapa?" tanya Reyndra lagi.
"Aku makan di dapur dengan para pembantu."
"Kenapa kau mau? Kau kan majikan di sana karena kau menikah dengan Ghiyan, kenapa malah makin di dapur?"
Lenny menunduk, terbayang perlakuan mertuanya yang jahat dan juga sikap Ghiyan yang berubah setelah menikah, ia bagaikan pembantu di rumah suaminya.
"Kalau kau menderita, mengapa tidak pergi dari sana?" tanya Reyndra lagi.
"Aku butuh biaya pengobatan untuk almarhum ibuku saat itu, jadi aku bertahan di sana karena aku butuh uang."
"Kalau masalahnya adalah uang, maka aku pun bisa bantu."
"Tapi kau tak ada saat itu terjadi, aku sendirian saat itu, aku tak ada cara lain selain bertahan."
"Iya juga, aku pergi merantau selama 5 tahun dan saat kembali kau sudah menikah dengan dia."
Rasa sesal mendera hati Reyndra, ia sangat menyesal meninggalkan Lenny yang saat itu adalah cinta pertamanya, tapi kalau tidak merantau, mungkin hidupnya tak seperti sekarang yang bergelimang harta, dulu dia pria yang sederhana, tapi sekarang dia bos besar.
"Semua ada jalannya sendiri-sendiri, yang penting sekarang kau ada di sini bersamaku, Dik."
"Mas, seandainya Mas Ghiyan berubah pikiran setelah melihat anaknya, apa yang harus aku lakukan?"
Mendengar ucapan Lenny, Reyndra terdiam seribu bahasa. Dalam hatinya ia ingin memiliki Lenny, tapi kalau Lenny mau rujuk dengan Ghiyan karena mereka punya anak, lalu bagaimana dengan nasibnya?