Pagi yang Manis

1488 Kata
"Maaf, saya harus ganti popok Ghea," ucap Lenny seraya menghindari bibirnya Reyndra yang semakin mendekat. "Hmmm, ok," balas Reyndra dengan nada kecewa. Lenny beranjak dari tempat duduknya dan segera masuk ke dalam kamar, sedangkan Reyndra meringkuk di atas sofa sambil mengepalkan tangannya. "Aduuuh, gemes aku!" "Tinggal dikit aja, kenapa menghindar?" "Kenapa dia tidak peka sih! Aku sudah menunggu lama untuk hal ini." Reyndra lalu berbaring di sofa dan mencoba memejamkan mata, ia berusaha untuk tidur agar tidak semakin kesal, namun semakin ia memikirkan Lenny, semakin dia ingin segera memiliki Lenny. "Bagaimana cara mendapatkan perhatian dia? Aku kurang apa coba?" "Banyak wanita mengejarku, tapi malah dia menolakku, huh!" Tidak begitu lama ia memejamkan mata, terdengar tangisan bayi yang membuat Reyndra membuka matanya. "Ghea nangis kenapa ya?" ucap Reyndra sembari duduk dan mencoba mendengarkan suara tangisan itu dengan seksama. "Aku lihat saja sendiri, kenapa Ghea nangis." Reyndra beranjak dari tempat duduknya, ia berjalan menuju pintu kamar dan dengan perlahan ia mengetuk pintu. Tok tok tok! "Dik, Ghea kenapa?" "Aku cebokin dianya nangis, Mas!" "Buka pintunya!" "Masuk aja gak di kunci." Reyndra perlahan membuka pintu dan masuk ke dalam kamar, pandangan matanya lalu mencari di mana Ghea di baringkan, lalu langkah kakinya mendekati Ghea. "Kenapa Sayang, kenapa menangis?" Bagaikan seorang ayah yang melihat anaknya yang menangis, Reyndra dengan lembut membelai ujung rambut Ghea. "Ruam popoknya kena air saat aku basuh pahanya." "Kalau begitu, jangan pakai popok dulu, biarkan kulitnya terkena angin dulu." "Iya." Lenny baru belajar menjadi orang tua, ia belum paham tentang bagaimana mengasuh bayi yang benar, jadi Lenny sering membaca buku dan browsing di internet mencari informasi tentang cara mengasuh bayi. "Salem kulitnya apa sudah di oleskan?" "Yang dari dokter anak kemaren?" "Ya iyalah Dik!" Reyndra menatap kesal Lenny yang terlihat bingung, tapi dengan segera Lenny menunduk karena merasa bersalah. "Kenapa, apa tidak kamu oleskan?" "Aku kasih tadi setelah dia mandi." "Oh," balas Reyndra, "sekarang biarkan Ghea tanpa popok dulu," imbuhnya. "Kalau pipis gimana?" "Taruh kain di bawahnya aja to!" "Padahal enak pakai popok instan tinggal buang setelah selesai pipis, kalau popok kain harus di cuci setelah dipakai." "Kamu gak mau cuci popok? Apa perlu aku carikan pembantu?" "Bukan gitu sih, tapi enak kalau gak perlu cuci popok," balas Lenny seraya tersipu malu. "Dasar malas kau." "Punya anak bayi ternyata repot, aku harus bangun malam setiap dia minta ASI, rasanya capek banget." Reyndra tersenyum mendengar ucapan Lenny, tangannya reflek membelai rambut Lenny tanda sayang. Sebenarnya dia ingin tidur di apartemen dan menemani Lenny, tapi Lenny selalu menolak dan mengusirnya secara halus. "Aku temani ya, Dik?" "Maaf, aku tak ingin menambah masalah bila ada orang yang tanya tentang status kita." "Jawab aja aku suami kamu, gitu aja kok repot." Lenny tertawa ringan, ia masih berstatus istri Ghiyan secara hukum, kalau ada apa-apa, pastinya akan menjadi masalah bila suaminya lapor ke polisi tentang perzinahan dan perselingkuhan karena mereka tinggal bersama. "Kau mau mati? Apa kata orang bila mereka tahu aku masih status istri orang." "Selama kita diam, maka orang lain tak ada yang protes." "Oh, ya! Masak! Apa kita selamanya akan tinggal bersama tanpa ikatan?" "Kalau begitu, mintalah cerai." Lenny menarik nafas dalam-dalam dan hembuskan nafas dengan kuat, dadanya terasa sesak saat bernafas seakan ada batu besar ada di atasnya. "Kenapa, kau tak mau pisah dengannya? Apa kau ingin rujuk sama dia?" "Menurutmu itu mungkin? Apa aku bisa kembali padanya?" tanya Lenny dengan pandangan tanpa dosa, ia tak perdulikan perasaan Reyndra. "Kau masih mencintainya? Apa itu alasan kamu menolakku?" Lenny terdiam, ia tak berani menatap Reyndra yang terlihat kecewa dengan ucapannya. Reyndra membelai rambut Ghea yang mengecup kening bayi mungil itu dengan penuh kasih sayang. "Andai saja aku menjadi ayahmu, Nak." "Maafkan aku, Mas." Lenny merasa bersalah karena bicara yang membuat Reyndra terluka. "Tidak apa-apa, aku paham kau masih menyimpan rasa untuk suami kamu, tapi pikirkan lagi apa yang telah dilakukan suami kamu pada dirimu." "Iya juga sih, tapi-" "Tapi apa? Apa kau masih tergila-gila sama dia?" "Mas Reyndra cemburu?" "Menurutmu ...?" Pandangan mata Reyndra yang tajam membuat Lenny terdiam, ia tahu betul kalau Reyndra punya perasaan untuknya, tapi dirinya malah memancing Reyndra untuk bertanya balik padanya dan itu membuat raut wajah Reyndra masam. "Aku tanya padamu, menurutmu aku cemburu?" Reyndra mengulang pertanyaannya. "Aku tidak tahu," jawab Lenny seraya memalingkan muka. "Dasar kau! Kenapa selalu menggodaku?" "Kalau gitu kau pulang aja biar gak aku godain." Reyndra pura-pura tidak mendengar ucapan Lenny, ia lalu bermain dengan Ghea, melihat hal itu, Lenny tersenyum tipis lalu beranjak dari tempat tidur dan ke luar kamar. "Aku buat sarapan aja, mumpung Ghea dijaga Mas Reyndra." Perhatian dan kasih sayang Reyndra membuat Lenny kadang kurang enak hati, terkadang ada rasa bersalah karena membuat Reyndra jatuh cinta padanya padahal Reyndra bisa cari wanita lain. "Mas Reyndra, maafkan aku," lirih Lenny bergumam. "Aku tidak paham dengan pikiran Mas Reyndra, kita dulu pernah pacaran, tapi aku tinggal nikah dengan Mas Ghiyan namun sampai sekarang Mas Reyndra masih menyimpan rasa padaku, hmmm." Walau tangan Lenny cekatan dalam mempersiapkan sarapan, namun pikirannya sebenarnya sedang menerawang memikirkan hubungan antara dirinya dan Reyndra. "Masak apa?" ucap Reyndra yang datang mendekat ke arah Lenny. Lenny menoleh dan tersenyum melihat Reyndra yang sedang menggendong Ghea dalam dekapannya. Pria yang bertubuh tegap dengan senyuman manis itu terkadang membuat jantung Lenny berdebar kencang. "Masak tumis tauge sama dadar telur." "Enak tuh! Sudah siap?" "Bentar lagi siap, Mas tunggu sebentar ya!" "Ok!" Reyndra menjawab sambil tersenyum, raut wajahnya berubah menjadi bahagia setelah menggendong Ghea. Pikiran Lenny memikirkan kedua pria yang sekarang ada dalam kehidupannya. Ghiyan memang suaminya, namun dia telah berkhianat dengan Bella, sedangkan Reyndra cinta pertamanya yang selalu setia menjaga dan melindungi dirinya selama ini, tapi hatinya belum sepenuhnya bisa menerima Reyndra. "Aduuuh!" Lenny meringis kesakitan saat mengupas timun dan tanpa sengaja tangannya terluka. Reyndra yang melihat itu segera meraih tangan Lenny dan memasukkan ke mulutnya, walau tangan satunya menggendong Ghea, tapi dia masih bisa memegang tangan Lenny. "Pelan-pelan to!" ucapnya sambil meludah setelah menghisap darah yang mengalir di ujung jari Lenny. "Aku tadi buru-buru, jadi tidak hati-hati." "Kamu buru-buru memangnya mau ke mana?" "Maksudnya biar cepat selesai gitu, Mas!" "Aku malah suka kalau kau lambat kerjanya, jadi aku bisa lama-lama di sini." Lenny memandang Reyndra dengan tatapan tak berdaya, sedangkan Reyndra sepertinya menikmati ujung jari Lenny yang ia hisap dengan penuh gairah. "Haiish! Geli tau!" ucap Lenny sambil menarik tangannya. "Belum selesai, Dik!" Reyndra berusaha menahan agar ujung jari Lenny masih menempel di bibirnya hingga Lenny sedikit mengerahkan tenaga agar jarinya lepas dari genggaman Reyndra, namun Reyndra dengan sengaja memasukkan kembali jari tangan Lenny kedalam mulutnya. "Mas, ayolah! Geli tau!" Reyndra menggelengkan kepalanya isyarat bahwa dirinya tak akan melepaskan jari Lenny dari mulutnya. "Aku gelitik kalau gak kamu lepaskan." Reyndra menggelengkan kepalanya lagi, lalu pandangan matanya melirik ke arah Ghea yang ada dalam gendongannya seakan ia ingin memberi tahu bila Lenny menggelitik maka Ghea juga ada dalam masalah. "Aiish! Kenapa anakku kau jadikan tameng? Ayolah, lepaskan tanganku!" Reyndra menggelengkan kepala lagi, tatapan matanya kini penuh arti mengarah ke Lenny, sedangkan Lenny berusaha menghindar pandangan mata Reyndra. 'Aku wanita normal, kalau kau terus menggodaku seperti ini, apa aku bisa kuat, Mas?' batin Lenny. Reyndra terus menatap Lenny dan berharap Lenny mau menatapnya walau hanya sebentar. Perasaan cintanya pada Lenny yang semakin lama semakin besar membuat dirinya tak berdaya dan ingin memiliki Lenny seutuhnya. 'Dik, bisakah kau buka hatimu untukku? Bisakah kita kembali ke masa lalu kita saat kita pacaran dulu?' batin Reyndra. Kedua insan yang dulu pernah bersama itu kini dipertemukan lagi, tapi Lenny masih ragu untuk menerima Reyndra karena dia masih sah Ghiyan, walau Ghiyan tak sedikitpun perduli dengan Lenny, tapi Lenny masih menyimpan rasa untuk Ghiyan. 'Aku harus bagaimana, haruskah aku menerima cinta Mas Reyndra dan bercerai dengan Mas Ghiyan? Walau Mas Reyndra baik padaku, tapi kenapa aku masih belum bisa melupakan Mas Ghiyan, kenapa ya Allah?' batin Lenny. Di saat Reyndra dan Lenny terpaku saling diam, Ghea yang ada dalam gendongan Reyndra juga ikut diam dan hanya memandang ke arah sang Mama yang sedang menunduk dengan mata yang berkaca-kaca. Lenny yang jari tangan kirinya dalam mulut Reyndra, tapi tangan satunya bisa untuk memegang pipinya Ghea yang menggemaskan. "Anakku, maafkan Mama." Mendengar ucapan Lenny, Reyndra melepas jari Lenny dari mulutnya, ia merasa bersalah karena membuat Lenny terlihat sedih. "Apa aku salah, bila aku berharap bisa bersamamu? Aku akan menjadi Ayah dari anakmu dan suami yang baik untukmu. Aku janji, Dik!" "Aku minta maaf, aku masih bingung." Reyndra menarik nafas dalam-dalam dan hembuskan nafas dengan kuat dadanya terasa sesak untuk bernafas. "Baiklah aku minta maaf, aku tidak akan memaksakan kehendakku lagi, aku akan menunggu sampai kau datang padaku dengan kehendakmu sendiri." Lenny menatap wajah Reyndra dengan derai air mata, ia sungguh merasa seperti manusia paling jahat sedunia karena telah membuat kecewa pria sebaik Reyndra, sedangkan Ghiyan suaminya yang ia cintai tak pernah perduli pada dia dan anaknya. "Maafkan aku, Mas!" Lenny tak kuasa menahan kesedihan dan entah kenapa ia malah memeluk Reyndra dan menangis dalam pelukan Reyndra.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN