Masalah Datang Lagi

1111 Kata
"Turunkan belanjaan dulu!" ucap Bu Jayanti setengah berteriak. "Bentar saya terima telepon dulu, Ma!" "Heh, dari dulu aku tak pernah suka padamu! Suruh belanja saja gak becus! Mana lama lagi, bikin kesal aja!" Reyndra berdiri dari jongkoknya, ia memandang ke arah Bu Jayanti. "Biar saya yang turunkan belanjaan." "Ok, angkat sana!" balas Bu Jayanti. "Mas, biar aku bantu." Reyndra tersenyum memandang Lenny, setelah itu ia menggelengkan kepala. "Angkat telepon itu dulu, siapa tahu itu telepon penting, biar aku saja yang turunkan belanjaan. "Terima kasih." Reyndra mengangguk, ia lalu berjalan ke belakang mobilnya dan membuka pintu bagasi, sekilas ia melirik ke arah Ghiyan yang berdiri sambil berkacak pinggang, hati kecil Reyndra sangat kesal melihat begitu angkuh dan congkaknya Ghiyan. "Istrinya lagi hamil bukannya bantu, malah berdiri saja, sedangkan Lenny dibiarkan bersimpuh di tanah tanpa daya." "Ingin rasanya aku timpuk pakai sendal jepit." Ghiyan melihat Reyndra yang sedang menurunkan belanjaan, ia kini berdiri dengan angkuhnya sambil melipat tangan di depan dadanya. 'Pria ini tampan dan gagah, dia juga perhatian dengan Lenny, kira-kira dia itu siapa ya? Kalau sopir gocar kayaknya gak mungkin,' batin Ghiyan. Reyndra menatap Ghiyan tajam. "Hei, bantu angkat ini!" Ghiyan memandang Pak Sholeh sopir pribadinya, lalu dengan satu isyarat mata saja, Pak Sholeh sudah paham perintah dari sang juragan. 'Aku dari tadi tunggu perintah dari bos, kalau gak di suruh, ngapain bantu angkat barang, bikin capek aja!' batin Pak Sholeh. Dengan berat hati sopir gak ada akhlak itu membantu Reyndra mengangkat barang-barang belanjaan Lenny yang ada di mobil Reyndra. 'Bagaimana bisa Lenny hidup di lingkungan yang hanya mementingkan diri sendiri seperti ini, mereka tidak ada rasa sosial sama sekali,' batin Reyndra. Sedangkan Lenny masih duduk di bawah sambil memandang ponselnya, ia sedang menelepon balik ibunya yang tadi telepon. Setelah beberapa saat, Lenny sudah terhubung dengan sambungan telepon dari ponsel ibunya, namun yang menerima teleponnya adalah adiknya yang Bagas adik sepupunya yang tinggal bersama ibunya. "Halo, assalamualaikum." "Wa alaikum salam," jawab Bagas dengan nada sendu. "Ada apa, Gas?" "Ibu, ibu Mbak!" "Kenapa dengan ibu?" Sejenak hening dari seberang telepon, hanya suara tangis terdengar setelah hening menyelimuti seberang telepon itu. "Bagas, ada apa dengan ibu?" tanya Lenny lagi. Lenny tak mendapat jawaban, ia hanya mendengar isak tangis dari Bagas, hati Lenny menjadi bingung, apa gerangan yang terjadi di rumahnya. "Bagas, ada apa?" desak Lenny, "Ibu meninggal, Mbak." "Innalilahi wa innailaihi rojiun." Kabar duka itu membuat hati Lenny runtuh karena selama ini ia bertahan hidup di rumah Ghiyan hanya untuk ibunya, tapi setelah ibunya meninggal semua jadi sia-sia. "Bagaimana bisa ibu meninggal? Bagaimana ini, hiks!" "Ada apa, Len?" tanya Reyndra seraya melangkah mendekat. "Ibuku meninggal," jawab Lenny sembari menangis tersedu-sedu. "Innalilahi wa innailaihi rojiun, kapan meninggalnya?" "Barusan." Lenny berdiri dari duduknya, saat berusaha berdiri, Reyndra membantu Lenny dengan memegangi lengan Lenny. Semua perhatian Reyndra membuat hati Ghiyan geram, ia cemburu melihat istrinya diperlakukan seperti itu di depan matanya. "Siapa sebenarnya pria itu?" gumamnya. Lenny menangis tersedu-sedu, namun Ghiyan ataupun Bu Jayanti tak ada simpati pada penderitaan Lenny yang telah ditinggalkan oleh ibunda tercinta. Lenny memandang Bu Jayanti setelah itu ia memandang Ghiyan, namun Lenny tak melihat ekspresi kesedihan di wajah mereka. "Mas, aku mau pulang, ibuku soalnya meninggal." "Untuk apa pulang, memangnya kalau kamu pulang ibumu bisa bangkit lagi?" sahut Bu Jayanti. Mendengar ucapan mertuanya, Lenny bertambah sedih, ia tak pernah meminta lebih, tapi Lenny hanya minta izin dari ibu mertuanya, tapi jawaban ibu mertuanya membuat dirinya bertambah sedih. "Jangan bersedih, aku yang akan antar kau pulang," ucap Reyndra. Di saat Lenny bersedih, Ghiyan tak sedikitpun mendekati Lenny, ia hanya memandang Lenny dari jauh sambil berdiri sambil memasukkan tangannya ke dalam saku celana. Sikap angkuh Ghiyan semakin membuat Reyndra muak. "Aku tak habis pikir, kenapa kau bisa menikah dengan pria macam itu?" "Mas, bisakah kau tak membahas tentang suamiku? Aku lelah." "Bersiaplah, aku akan antar kau pulang." "Iya, Mas." Lenny mau melangkah masuk ke dalam rumah, tapi Ghiyan bertanya setengah berteriak. "Mau ke mana kau?" "Ibuku meninggal, aku mau pulang kampung." "Aku tidak izinkan kau pulang!" Lenny menatap Ghiyan tajam, hatinya bergemuruh menahan amarahnya. Selama ini Lenny hanya diam tanpa bicara saat ditindas ibu mertua dan juga suaminya, tapi saat ini, Lenny tak mau diam, ia ingin melawan mereka. "Ibuku meninggal, Mas! Bagaimana bisa kau larang aku pulang? Di mana hati kamu, Mas!" "Aku tak perduli, aku larang kau pergi." "Mas! Selama ini aku diam, aku tak pernah protes dengan semua peraturanmu, tapi kali ini aku tak mau, ibuku meninggal, aku ingin pulang dan memberi penghormatan terakhir untuk ibuku." "Kalau kau pulang sama dia, lebih baik kau tak usah pulang." "Kalau begitu, tolong antar aku pulang." "Aku ada rapat penting, aku gak bisa antar kamu pulang." Mendengar ucapan Ghiyan, Lenny berderai air mata, selama ini ibunya begitu baik pada Ghiyan, bahkan sudah dianggap seperti anak sendiri walau Ghiyan cuek pada ibunya, tapi ibu dan saudara Lenny baik pada Ghiyan. "Kalau kau tak bisa antar aku, izinkan aku pulang sendiri," pinta Lenny. "Biarkan saja dia pergi, tapi jangan pernah kau terima dia lagi, saat dia kembali." sahut ibunya Ghiyan. "Kalau kau nekat pergi, maka kau jangan pernah kembali," ucap Ghiyan dengan santainya. Reyndra menahan emosi, ia menunduk sambil mengertakkan giginya. Dua tangannya yang mengepal kian mengeras, didampingi oleh rasa nyeri di bagian wajah dan perut yang mendominasi. "Dasar kurang ajar!" ketus Reyndra, lalu mengangkat wajah. Tatapan itu begitu tajam pada Ghiyan yang berbadan lebih besar darinya, tapi hati Reyndra tak gentar menghadapi Ghiyan. Sikap Ghiyan yang selalu menjadikan Lenny sebagai batu loncatan untuk memuaskan kekesalan dan kesenangannya membuat Reyndra murka. "Kau ini tidak ada rasa belas kasih untuk istrimu, suami macam apa kamu, hah!" Lantas setelah mengangkat wajah, Reyndra lalu menguatkan tumpuan lutut hingga membuatnya berdiri dan berlari ke arah Ghiyan. "Kurang ajar!" geram Reyndra seraya melayangkan bogem mentah pada wajah tampan Ghiyan. Seiring itu, Reyndra mendengar umpatan Ghiyan, lalu perlahan membalikkan badan. Alih-alih berniat memberikan pelajaran atas umpatan tersebut, namun ia hanya tersenyum sinis. "Lenny tidak pantas kau perlakukan seperti ini," ucap Reyndra. "Cuiih!" balas Ghiyan sambil meludah. Bibirnya yang sobek terasa perih, namun ia tahan karena ia malu mengakui bahwa dirinya sudah terkena bogem mentah Reyndra. "Sampai kapan kalian akan bertengkar? Bisakah kalian berdamai?" sela Lenny. "Kenapa, aku harus berbagi?" tanya Ghiyan. "Manusia kayak kamu, tak sepatutnya hidup!" sindir Reyndra. Pandangan matanya menatap Ghiyan lalu perlahan menatap Reyndra. "Aku mohon, hentikan semua ini." "Bukan aku yang mulai," balas Reyndra. "Dasar kurang ajar, kau pikir aku yang mulai?" ucap Ghiyan sambil memegang krah baju Reyndra. "Kau pikir aku salah?" tekan Ghiyan. "Aku tidak takut padamu, kau bukanlah tandinganku," ucap Reyndra dengan santainya Krah baju Reyndra semakin erat di pegang Ghiyan, namun tatapan mata Reyndra yang tajam terus menatap Ghiyan tanpa ada rasa takut.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN