Hati Berselimut Keraguan

1125 Kata
Reyndra membuka pintu kaca dan memandang tajam penuh tantangan ke arah Ghiyan, amarah yang ia simpan selama ini seakan tumpah ruah tak tertahankan lagi. "Apa ...!" "Turun kau! Berani sekali kau ya! Sopir gocar aja berlagak kau!" geram Ghiyan. Lenny buru-buru turun dari mobil, ia segera menghampiri Ghiyan dan memegang tangannya. "Mas, jangan ribut, malu di lihat orang," ucap Lenny. Ghiyan tidak perduli dengan ucapan Lenny, ia berkacak pinggang sambil menatap Reyndra. "Sopir gocar aja belagu, bikin emosi aja!" Reyndra terpancing dengan ucapan Ghiyan, ia segera turun dan berdiri dengan angkuhnya di depan Ghiyan sambil berkacak pinggang juga. "Mau apa kau, mau tanding, hah!" tantang Reyndra, "jelek-jelek begini aku pernah belajar silat." "Heh! Belagu, kau! Hei, aku tak ada waktu ngurusin orang gak penting kayak lo!" "Dasar sontoloyo kurang ajar!" Reyndra mengangkat tangan kanannya. "Apa kau ngajak gelut, hah!" Ghiyan terpancing emosinya dan melipat lengan bajunya. Lenny semakin panik, ia takut kedua pria itu berantem di depannya. "Hentikan!" teriak Lenny. "Biarkan aku menghajar si mulut besar ini." "Mas Rey, tolong jangan menambah masalahku." Ghiyan spontan menatap Lenny yang bicara dengan Reyndra, ia merasa aneh melihat istrinya yang bicara dengan pria lain dengan nada lembut. "Memangnya, siapa dia?" Ghiyan berkacak pinggang dan menatap Lenny tajam, sejenak Lenny termangu menatap wajah suaminya yang merah merona, baru kali ini Lenny merasa Ghiyan marah melihat dia bersama pria lain. "Dia temanku," jawab Lenny dengan suara bergetar. Ghiyan keningnya mengkerut, ia merasa ada yang aneh dengan jawaban Lenny, selama ini istrinya tak pernah bercerita tentang teman pria yang lain. "Teman ...? Sejak kapan kau punya teman pria macam dia?" "Dia ini teman dari desaku." "Dia sopir di sini?" "Tidak, dia-" ucapan Lenny tertahan, ia menatap Reyndra yang berdiri di depannya. "Kenapa kamu berhenti, jelaskan pada suami kamu yang sontoloyo itu," sahut Reyndra. Lenny menatap Ghiyan sambil meremas tangannya, ia ragu bicara terus terang bila Reyndra adalah seorang pengusaha sukses dan dulu Reyndra adalah pacarnya saat di desa. "Kau selingkuh dengan dia?" tegas Ghiyan. "Ti-tidak, Mas!" "Lalu, kenapa kau seperti menyembunyikan sesuatu." "A-nu, bukan itu maksudku, aku hanya tak ingin Mas Ghiyan salah paham." "Katakan saja," ucap Ghiyan sembari mengubah posisi berdirinya, tangannya kini bersedekap di dadanya. Lenny ragu untuk bicara, namun ia perlu menjelaskan pada Ghiyan bila Reyndra sekarang hanya teman biasa saat ini. "Kenapa kamu ragu bicara, kita hanya bertemu secara tidak sengaja, walau kita dulu pernah ada hubungan, tapi kini kau istrinya," ucap Reyndra kesal. Dalam hati Reyndra, Lenny adalah wanita istimewa, namun nasib berkata lain, kini Lenny milik Ghiyan, dan semua kenyataan itu membuat hati Reyndra kesal. "Jadi dia mantan kamu?" tanya Ghiyan. Lenny menganggukkan kepalanya, ia takut Ghiyan marah, 'Sekarang dia sudah tahu, lalu aku harus bagaimana?' batin Lenny. "Jadi kau selingkuh dengan mantan pacarmu?" tekan Ghiyan. Walau selama ini ia begitu cuek dan tidak perduli dengan Lenny, namun saat istrinya bersama pria lain, entah kenapa hatinya begitu sakit sekali. "Ti-tidak, Mas! Aku hanya dibantu Mas Reyndra belanja." "Hahaha, kau ini lugu sekali, apa aku akan percaya?" ucap Ghiyan seraya tertawa jahat. Melihat tatapan mata suaminya yang begitu sinis dan menatapnya dengan pandangan yang merendahkan, Lenny begitu sedih. "Aku tahu kau tak akan percaya denganku, tapi aku tak melakukan kesalahan." "Cuih, dasar wanita hina!" ucap Ghiyan sambil meludah. Reyndra yang sedari tadi diam, kini ia tak bisa menahan diri setelah melihat Lenny dipermalukan di depan matanya. "Kurang ajar!" Plaakkk! Ghiyan meradang, ia memandang Reyndra dengan mata yang terbakar api amarah. Tangannya memegang pipinya yang panas setelah di tampar Reyndra. "Kau pikir kau siapa hah!" Blamm! Suara balasan bogem mentah Ghiyan yang mengarah ke wajah Reyndra, untung saat itu Reyndra kuda-kudanya kokoh hingga dia tidak terjatuh saat dihantam tangan Ghiyan, tapi sudut bibirnya pecah dan mengeluarkan darah segar. "Kurang ajar! Mau mati kau!" geram Reyndra sembari mengusap darah segar yang menetes dari sudut bibirnya. "Tolong hentikan, aku mohon!" pinta Lenny dengan derai air mata. "Tenang saja Dik, aku tak akan kalah darinya," ucap Reyndra. "Cukup! Hiks!" Lenny kali ini benar-benar tak bisa menahan gejolak hatinya yang sedang terguncang karena ulah kedua pria yang pernah ada di hatinya. "Mas Reyndra tolong hentikan," ucap Lenny sambil memandang Reyndra, lalu pandangan matanya beralih ke Ghiyan, "Mas, cukup! Tolong jangan bertengkar lagi." "Kau wanita hina, jangan-jangan anak yang kau kandung itu anak dia!" "Pasti itu anak dia, aku yakin itu, Yan!" sahut mamanya Ghiyan yang datang entah dari mana. Keadaan semakin memojokkan Lenny, ia kini tak sanggup lagi, Lenny lalu bersimpuh di tanah yang telah di paving. Saat melihat Lenny yang terpuruk itu, Reyndra mendekat, ia ingin menguatkan hati Lenny dengan memegang tangan Lenny, namun Lenny menepis tangan Reyndra. "Lihat manusia kotor itu, mereka seperti sampah masyarakat!" ucap Bu Jayanti sambil tersenyum sinis. Saat keadaan berubah menyedihkan bagi Lenny, ia hanya bisa menangis pasrah. Ia tak tahu harus bagaimana menghadapi mertua dan suaminya yang memang suka memperlakukan dirinya semena-mena. "Dik, ikutlah denganku, tinggalkan saja mereka," lirih Reyndra berbisik. "Bagaimana kau bisa bicara begitu? Aku masih mencintainya." "Kau mencintai dia segenap jiwa ragamu, namun lihatlah bagaimana cara dia memandang dirimu, Dik! Kenapa kau masih berpikir kalau itu cinta suci, Dik?" Lenny lalu menatap wajah suaminya yang memandangnya dengan pandangan mata jijik dan merendahkan begitu juga dengan mertuanya. Saat Lenny dalam dilema, tiba-tiba teleponnya berdering, ia buru-buru membuka tas dan mengambil ponselnya. "Ibu telepon, ada apa ya?" "Terima saja, mungkin itu sangat penting," ucap Reyndra. "Hei, mana belanjaan kamu, hah!" bentak Bu Jayanti. "Bentar Ma, aku jawab telepon dulu." "Kau itu selalu mencari alasan, dasar perempuan tak tahu diri, disuruh belanja malah pacaran dengan pria lain. Heh! Aku kira kau alim, ternyata sifatmu busuk kayak bangkai," ucap Bu Jayanti sambil tersenyum sinis. Wajah Reyndra merah padam, ia hendak berdiri dari jongkoknya, namun Lenny menahan lengan Reyndra agar Reyndra tak meladeni ibu mertuanya. "Mas, tolong jangan dengarkan mereka," pinta Lenny. Reyndra semakin merasa bersalah karena membuat Lenny dalam masalah, namun kalau dia tak menyaksikan sendiri perlakuan mereka, mungkin sampai detik ini ia akan ragu untuk menghadapi keluarga Ghiyan, tapi setelah ia tahu sekarang, kini dirinya semakin bulat tekatnya untuk merebut Lenny dari tangan Ghiyan. "Dik, tinggalkan saja suami kamu," bisik Reyndra. Lenny memandang Reyndra dengan derai air mata, walau ada keinginan untuk pergi, namun Lenny tak pernah berpikir bila akan terjadi seperti ini keadaannya. 'Ya Allah, apa yang harus aku lakukan?' batin Lenny. Saat dirinya diselimuti rasa bimbang dan ragu, telepon seluler yang ia pegang itu berdering lagi, dan panggilan itu dari ibunya yang ada di desa. "Ada apa ibu dari tadi telepon terus?" gumamnya. "Angkat saja Dik!" ucap Reyndra. Lenny menganggukkan kepala, ia lalu ingin menerima telepon itu, namun mertuanya mendekat dan berkacak pinggang di depan Lenny yang duduk di atas paving. 'Bisakah kali ini mertuaku membiarkan aku menerima telepon Ibuku?' batinnya sembari mendongak ke atas dan melihat wajah mertuanya yang terlihat kesal.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN