Pandangan Reyndra menyusuri sekitar daerah itu, lalu dia melihat swalayan yang ada di seberang jalan.
"Kita belanja saja di sana."
"Mas, di sana pasti harganya mahal."
"Tak usah kau pikirkan harga, nanti aku yang bayar."
"Mana bisa begitu Mas, aku malu kalau harus pakai uangnya Mas Reyndra."
"Lenny santai aja, jangan kau pikirkan yang penting saat ini kamu keluar dari masalahmu."
Reyndra ke luar dari mobil dan diikuti oleh Lenny, setelah menyeberang jalan, mereka sampai di swalayan yang cukup lumayan besar, dengan cekatan Lenny mengambil semua barang-barang yang ada di dalam catatan belanjaannya.
"Lenny, mertua kamu nggak ada akhlak ya! Mana bisa nyuruh menantunya belanja segitu banyaknya, kamu ini menantunya atau pembantunya? Heran aku!"
"Maaf ya Mas, aku merepotkanmu," jawab Lenny seraya menunduk malu.
"Sudahlah, jangan sedih, aku tidak apa-apa, aku hanya merasa heran kenapa mertuamu berbuat seperti itu padamu, terus kenapa suami kamu diam aja? Apa masalah mereka denganmu, Lenny?"
"Aku tidak tahu Mas, mungkin karena aku orang miskin dan mereka orang kaya."
"Hei tidak begitu juga kali, kalau kamu sudah menikah dengan anaknya berarti dia harus menerima kamu apa adanya, tidak seperti ini Lenny, ini salah!"
Reyndra berkacak pinggang di depan belanjaan Lenny yang menggunung di depan kasir.
'Apa karena belanjaan aku yang banyak dia, marah? Aku sudah mau bayar sendiri, tapi dia yang minta bayarin semua. Emm, aku jadi tsk enak hati,' batin Lenny.
"Kenapa kamu diam? Kenapa kamu yang merasa bersalah? Aku tak marah padamu, tapi pada mertua kamu yang gak ada akhlak!"
"Maaf, bisakah aku yang bayar dan pergi dari sini? Aku malu dilihat orang," ucap Lenny sambil berbisik pada Reyndra.
Reyndra lalu membuka dompetnya dan menyerahkan kartu debit pada kasir, "Bayar pakai kartu, Mbak!"
"Baik Pak, tunggu sebentar." Pegawai swalayan itu tersenyum ramah.
Reyndra masih terlihat kesal, ia tak menjawab ucapan pegawai itu, setelah beberapa saat kemudian, semua belanjaan sudah masuk dalam kantong plastik.
"Nomor pin nya Pak!" ucap gadis cantik penjaga kasir.
Reyndra memasukkan pin kartu debitnya, tidak lama kemudian semua sudah selesai dan kartu itu di kembalikan pada Reyndra.
"Terima kasih, atas kunjungannya," ucap ramah penjaga kasir.
"Terima kasih Kak," jawab Lenny, sedangkan Reyndra tak menjawab, ia masih terlihat kesal dengan wajah yang cemberut.
"Aku masih kesal dengan keluarga suamimu!"
"Sudahlah Mas, jangan dipikirkan lagi ya! Sebaiknya kita cepat pulang aku takut mertuaku marah," ucap Lenny saat mereka berjalan ke arah parkiran mobil.
"Oke, baiklah aku antar kau pulang, tapi jangan harap aku akan memaafkan suami dan mertua kamu yang telah memperlakukan kamu seperti ini."
Lenny jadi merasa bersalah telah menceritakan semua masalahnya pada Reyndra, tapi harus gimana lagi karena Reyndra memaksa dia bercerita tentang keadaan dirinya.
"Maafkan aku yang telah membuat dirimu susah."
"Aku tidak apa-apa, jadi jangan selalu meminta maaf padaku."
Reyndra tak ingin Lenny dalam masalah, oleh karena itu ia memacu kuda besinya begitu kencang agar cepat sampai di rumah Lenny.
"Mas, tolong hati-hati kalau menyetir."
"Iya, aku tahu. Dik, ngomong-ngomong kamu sudah periksa ke dokter?"
"Periksa apa? Aku tidak sakit."
Reyndra tersenyum tipis, sekilas ia melirik perut Lenny. Dalam pikirannya, seharusnya yang ada dalam rahimnya Lenny adalah buah cintanya, tapi sayang nasib berkata lain.
"Maksudku kandunganmu, apa sudah periksa ke dokter?"
"Belum, aku belum ada waktu luang untuk ke dokter.'
"Apa ...? Bagaimana dengan suami kamu? Kenapa dia tak mengantarkan kamu?"
"Mas Ghiyan sibuk kerja."
"Sesibuk apa pun, harus ada waktu untuk istrinya, terlebih kamu sedang hamil."
"Tapi suamiku sibuk kerja, Mas."
"Sibuk ngurus apa sampai lupa istri yang sedang hamil."
Lenny diam tanpa kata mendengar ucapan Reyndra. Mobil Reyndra tanpa memasuki jalan perumahan elit di area tempat tinggal keluarga Ghiyan.
"Kira-kira suami kamu masih di rumah?"
"Gak tahu," jawab Lenny.
"Apa yang kau tahu tentang suami kamu?"
"Tidak banyak, aku cuman tahu kalau dia suamiku saat di rumah, tapi di luar rumah aku tak tahu, Mas!"
"Rumah tangga macam apa itu, masak suami kamu tidak pamit kalau mau pergi."
"Tidak, dia datang dan pergi sesuka hatinya."
"Dan kau diam aja?"
"Aku harus gimana? Aku pernah bertanya, namun jawaban Mas Ghiyan kasar, jadi mulai dari hari itu, aku tak pernah bertanya saat dia mau pergi."
Reyndra duduk di belakang kemudi sambil mengertakkan giginya, dua tangannya yang mengepal erat memegang kemudi mobil kian mengeras, didampingi oleh rasa nyeri di bagian wajah dan perut yang mendominasi, amarahnya memuncak.
"Dasar Sontoloyo!"
Reyndra memukul kemudi dengan kerasnya hingga membuat Lenny ketakutan karena saat itu Reyndra sedang menyetir.
"Mas, jangan emosi, ingat lagi nyetir."
Reyndra menghela nafas berat sembari melirik Lenny, rasa kesal bercampur rasa sesal mendera batin Reyndra. Selama bertahun-tahun dirinya memendam rasa cinta untuk Lenny, namun setelah beberapa tahun berpisah, kini di saat pertemuan kembali dengan Lenny, ternyata Lenny sudah dimiliki orang.
'Andai aku tak pergi kala itu,' batin Reyndra penuh sesal.
Melihat Reyndra yang gelisah, Lenny mulai takut, ia takut Reyndra tidak fokus menyetir. Ia lalu mengalihkan pembicaraan.
"Mas, sudah makan?"
Reyndra melirik ke arah Lenny, Ia tak menjawab langsung pertanyaan Lenny, raut wajahnya masih terlihat masam.
"Andai melanggar pagar ayu itu tidak dosa, maka aku ingin rasanya membawa kamu pergi dari sisi suamimu."
"Mas, aku bertanya apa Mas, sudah makan?"
"Apa kau lapar?"
"Tidak juga," jawab Lenny.
Sejenak hening menyelimuti, Reyndra menghela nafas berat beberapa kali, ia berusaha untuk menenangkan gejolak emosi yang meledak-ledak di dalam hatinya.
"Aku tak bisa menerima semua ini, aku tak ingin wanita yang aku sayangi diperlukan seperti ini."
"Mas, terima kasih sudah perhatian denganku, tapi aku masih mencintainya, bagaimanapun dia suamiku."
"Bila aku minta kau cerai dengan suami kamu, apa kau mau?"
"Maaf, aku belum punya rencana pisah dari Mas Ghiyan."
"Apa kau begitu mencintai suamimu sampai kau rela diperlakukan seperti ini?"
"Mungkin, tapi aku juga tak tahu harus bagaimana."
Reyndra terdiam, ia sadar bila dirinya kini bukanlah bagian dari kehidupan Lenny, namun rasa cintanya untuk sang mantan lebih besar dari sebelumnya, setelah melihat kelakuan dari suami Lenny, tapi sayangnya Lenny masih mencintai suaminya.
"Mas, pelan-pelan ya, rumah mertuaku ada di setelah sana."
Lenny memberi arahan saat mobil itu mendekati rumah besar bergaya Eropa dengan pagar besi setinggi tiga meter. Kebetulan pagar itu terbuka saat mobil Reyndra mendekat.
"Aku langsung masuk ya?" tanya Reyndra.
"Jangan, parkir saja di pinggir jalan," balas Lenny.
"Kita belanjaannya banyak, jadi repot kalau parkir di jalan, Dik!"
"Ya sudah, masuk aja ke dalam, tapi kalau ada apa-apa jangan marah?"
"Maksudnya ...?" Reyndra menatap Lenny dengan pandangan mata heran.
"Mertuaku galak, pernah aku suruh masuk mobilnya go-car ke depan rumah karena belanjaan yang banyak, tapi mertua marah-marah. Ibu mertua bilang, mobil orang asing di larang masuk ke dalam."
"Mertua kamu memang stres!"
"Hehehe, orangnya memang agak cerewet."
"Masak belanjaan sebanyak ini harus diangkat masuk rumah dari jalan raya? Yang benar saja! Mobil bisa langsung masuk depan teras, kan? Lagian aku lihat halaman depan rumah luas."
"Parkir sini saja, aku tak ingin mertuaku marah."
"Aku rasa dia itu cuman mau bikin kamu susah aja."
"Sudahlah, parkir di pinggir jalan aja ya!"
"Gak, aku mau masuk dalam!"
"Mas, jangan!" seru Lenny tapi Reyndra terlanjur memasukkan mobil sampai ke dalam pagar rumah.
Ternyata mobil saat itu mobil Ghiyan bersiap untuk ke luar rumah dan akhirnya terhalang mobil Reyndra. Sopir Ghiyan turun dari mobil dan meminta untuk mobil Reyndra untuk mundur.
"Permisi Pak, bisa mundurkan dulu mobilnya, saya mau ke luar."
"Iya Pak Soleh, tunggu sebentar!" seru Lenny karena Reyndra terlihat tak merespon ucapan Soleh.
"Aku ingin suami kamu ke luar dari mobilnya," ucap Reyndra.
"Mas, ayolah, jangan buat masalah."
"Aku hanya ingin lihat wajah suami kamu."
"Aku mau turun saja, tolong Mas mundurkan mobil."
Lenny hendak turun, namun tangannya di pegang oleh Reyndra. "Jangan turun, biar aku mundurkan mobil, kamu tetap duduk saja di situ."
Karena tangannya di pegang oleh Reyndra, Lenny tak jadi turun, ia melihat Soleh kembali ke dalam mobil Ghiyan, tapi tidak lama kemudian, terlihat Ghiyan ke luar dari dalam mobilnya dengan wajah merah padam. Lenny hatinya berdebar-debar, ia punya firasat buruk saat melihat wajah suaminya yang terlihat terbakar amarah.
"Ya Allah, apa Mas Ghiyan cemburu? Atau Mas Ghiyan kesal karena mobil kami menghalangi mobilnya?"
"Tenang saja, aku akan hadapi sontoloyo itu."
"Mas, biar sontoloyo juga suamiku, dalam hal ini aku yang salah."
"Salah dari mana?"
"Aku bermasa pria lain dalam satu mobil."
"Kita tak melakukan apa pun, Dik!" protes Reyndra.
"Tapi orang-orang apa berpikiran begitu?"
"Biarkan saja mereka berpikiran macam-macam, yang penting kita tidak melakukan kesalahan."
"Iya juga sih!"
Mobil Reyndra sudah terparkir di jalan depan rumah, sementara itu Ghiyan yang melangkah maju sampai juga di samping mobil Reyndra dan mengetuk kaca mobil, tok, tok, tok!
"Cepat keluar!"
Terdengar suara dari luar jendela kaca mobil di samping Reyndra, Lenny semakin ketakutan, ia takut mereka berdua akan bertengkar gara-gara dirinya.