**
Di tempat yang berbeda. Prastiwi sedang duduk di depan meja rias setelah membersihkan make up-nya. Si kecil Arsyi sudah terlelap tidur ketika dia pulang selepas bertemu Wahyu. Janda cantik tersebut menatap pantulan dirinya di cermin. Masih tidak menyangka bahwa nasib rumah tangganya akan setragis ini.
Wanita itu menoleh ke belakang, ke arah si putri kecilnya yang baru berumur tiga tahun. Rasa tidak tega selalu menyergap ketika melihat wajah polosnya yang harus hidup tanpa kasih sayang seorang ayah.
Perlahan Tiwi meninggalkan kursi yang sejak setengah jam lalu dia duduki. Polesan di wajahnya pun sudah luntur setelah dia bersihkan menggunakan micellar water. Kini wajah polosnya yang natural terlihat sedih dan pilu. Di dekatinya sang anak lalu dia peluk dengan sangat erat.
"Maafin ibu ya, Nak! Ibu nggak bisa kasih Arsyi rumah tangga yang utuh," gumam Tiwi. Percuma menyesal toh keadaan memang menuntutnya untuk memilih dan dia sudah menentukan untuk menyudahi biduk rumah tangganya.
Dan dengan Wahyu, Tiwi pertama kalinya mencoba untuk membuka hati. Karena sejujurnya dia masih berasa mati rasa dengan lelaki.
"Ibu pasti berusaha keras cari uang yang banyak buat masa depan Arsyi, doain ibu ya, nak!" Tiwi masih bergumam sambil memeluk sang anak. Arsyi adalah segalanya untuk Tiwi, bisa dibilang Arsyi adalah hidupnya.
**
Wahyu galau nggak karuan. Terpaksalah dia menghubungi Bejo kembali. Kebetulan Bejo baru saja masuk ke dalam rumahnya yang sederhana, yang baru saja lelaki itu beli dua bulan yang lalu.
"Kenapa sie kamu tuh posesif banget sama aku, Bang Wahyu?" tanya Bejo dengan suara yang dibuat lenjeh.
Wahyu mengedikan ke dua bahunya. "Jijik banget! Gampar tahu rasa!" umpatnya.
"Lah aku mau pulang kamu telpon, aku sampai rumah kamu telepon. Yuk nikah aja kalau gitu!"
"Sompreet aku masih suka cewek! Anjaii!" sembur Wahyu.
"Hahahaha, terus ngapain kamu telpon aku lagi? Bukannya udah oke tadi ketemunya sama Mbak Tiwi?" selidik Bejo. Apalagi kalau bukan soal Tiwi?
"Oke gimana? Mbak Tiwi nggak ngechat aku lagi habis ketemuan tadi sampai sekarang," cerita Wahyu dengan nada ngegaas ....
"Nggak ngechat apa nggak balas chat?" tanya Bejo dengan kening berkerut-kerut. Lelaki ini tengah membuka sepatu kats yang sejak tadi dipakainya, duileh bau kaos kakinya sampai bikin Casper pingin muntah. Dicuci atuh, Jo! Kebiasaan satu kaos kaki dipakai buat seminggu sie!
"Nggak ngechat, Jo. Orang aku belum chat dia lagi," jawab Wahyu sambil menjatuhkan dirinya ke tempat tidur. Tidur telentang sambil menatap langit-langit kamar, bayangan senyuman manis si janda cantik seakan melintas di plafon kamarnya. Wahyu tersenyum kemudian tersadar kalau itu hanyalah haluannya saja.
Dih, cukup authornya aja yang ngehalu kamu nggak usah ambil tugasku! (Emoticon mata ngejuling ke atas berjejer sepuluh).
"Gini deh, Yu! Bisa lu berdiri sekarang?!" kata Bejo.
"Eh, kok kamu tahu aku lagi tiduran?" tanya Wahyu, heran kenapa Bejo bisa tahu kalau dia lagi terlentang menghadap ke atas awan. Ciye ... !
Awan gunndulmu itu, Thor! Menghadap ke plapon! Eh plafon!
"Aku kan titisannya Mama Laurence," jawab Bejo sok banget titisan, hahahaha ... padahal mah cuma kebetulan aja nggak ada ilmu apapun yang harus diheranin, Yu.
"Keren emang! Keren ngibulnya," decak Wahyu.
"Ya udah pokoknya kamu bisa berdiri sekarang enggak?" Bejo mengulangi permintaanya.
"Tunggu dulu! Yang berdiri kaki apa-"
"Anu lu, Yu! Bangcaat emang! Ya kaki lu lah! Masa gitu aja nggak paham juga?" omel Bejo, akhirnya kesel juga dia, ya. Hahaha ...
"Iya ini aku udah berdiri." Wahyu berbohong padahal aslinya masih rebahan.
"Ya udah kalau gitu coba kamu intip ke bawah!" Bejo tertipu, sekarang Wahyu percaya kalau tadi memang kebetulan aja, nyatanya Bejo nggak tahu kalau dia lagi dikibulin sama Wahyu.
"Hahahaha." Wahyu terkekeh.
"Gila ini anak suruh nengok ke bawah malah ketawa!" sembur Bejo sambil mencium bau kaos kakinya sendiri. Entahlah! Rasanya kurang mantab aja kalau habis buka kaos kaki, tapi nggak dicium dulu aromanya. Dasar Bejo! Jorok!
"Habisan aku belum berdiri, masih telentang di atas ranjang ini," kata Wahyu disisipi suara tawanya yang masih terdengar.
"Ya udah sok berdiri!" perintah Bejo dengan galak.
"Iya-iya aku berdiri," desah Wahyu seraya mengikuti perintah sahabatnya.
"Tadi kan kamu bilang kamu nungu Tiwi chat kamu, kamu nggak ngechat dia kan?"
Wahyu menganggukkan kepalanya.
Satu detik, dua detik, tiga detik.
"Jawab!" teriak Bejo membuat Wahyu otomatis menyingkirkan ponselnya menjauh dari telinga.
"Udah aku jawab, Jo!" teriak balik Wahyu.
"Kapan? Kamu diam aja dari tadi juga," serang Bejo.
"Aku udah ngangguk, Geblek!" sembur Wahyu.
"Mana adek lihat abang ngangguk? Kita lagi pakai telepon biasa Bang bukan pidio engkol," tegur Bejo dengan bahasa yang kembali dibuat lenjeh dan menjijikkan di telinga Wahyu.
"Aku kok jadi takut ya kalau kamu itu hommooseksual?!" Wahyu mengedikan ke dua bahunya. Merinding oey!
"Enak aja aku masih normal!" protes Bejo nggak terima. Makanya jangan suka akting jadi bencong, kebablasan tau rasa lu, Jo.
"Oke kalau kamu udah berdiri sekarang kamu lihat ke bawah deh! ada enggak tuh," perintah Bejo. Wahyu beneran nengok ke bawah dong, kan dia penurut banget.
"Ada apanya maksudnya?" tanya Wahyu nggak ngerti, di bawahnya nggak ada apa-apa. Adanya ubin keramik warna putih.
"Di bawah itu maksudnya di celana kamu. Ada burung beonya kagak?"
"Astaghfirullah!" Wahyu mengelus dadanya.
"Ya jelas adalah! Gila ini bocah tua!" umpat Wahyu kesal karena kelaki-lakiannya dipertanyakan.
"Berarti kamu pejantan dong, Ya?"
"Ya jelaslah!" jawab Wahyu mantab sambil membusungkan dadanya.
Nggak usah gitu juga kali, Yu! Kan Bejo juga nggak tahu kalau kamu lagi busungin dadamu yang nggak seberapa itu.
"Kalau pejantan kenapa kelakuanmu kayak gitu coba?" Pertanyaan Bejo kali ini membuat kening Wahyu berkerut-kerut. Berpikir keras! Tak tuk tak tuk tak tuk ...
"Maksudnya?" Oke Mas Wahyu gagal mencerna pertanyaan Bang Bejo dengan baik.
"Kalau kamu cowok, aturan kamu yang ngechat Tiwi duluan. Bukan kamu yang nunggui Tiwi chat kamu duluan. Gitu aja nggak paham! Dasar pentium nol setengah! Dodol banget jadi lelaki! Ampun, Ya Allah! Lebih jantan Casper dari pada kamu rupanya!"
"Jadi harus aku yang chat dia dulu gitu?"
Dasar Si Wahyu! Masih juga nanya! Hm ...
"Yaiyalah, Kammpret! Cewek gengsi lah kalau mau speek duluan. Harusnya begitu kamu sampai rumah kamu langsung chat dia, kabarin kalau kamu dah sampai rumah dan tanya kamu udah sampai dengan selamat kan? Ya Allah, umurmu berapa si, Yu? Masih gitu harus diajarin kayak begini. Ckckckck .... " Bejo ngomel panjang banget udah kayak kereta jurusan Semarang - Medan.
Mana ada kereta nyebrang laut, Thor? Yang bener aja kalau nulis!
"Bener juga katamu, Jo. Makasih ya kamu selalu memberiku pencerahan. Kamu adalah ibarat sebatang lilin di malam hariku yang gelap gulita." Wahyu berpuisi.
"Ogah, jadi lilin lama-lama meleleh letoy!" sungut Bejo.
"Dah sana buruan chat si Tiwi keburu tidur dia! Dasar cowok nggak peka! Makanya aku nggak suka sama cowok," imbuh Bejo.
"Kalau kamu suka cowok aku memilih mundur dari persahabatan kita ini," cetus Wahyu, takut banget ditaksir sama si Bejo.
"Aku juga bakal nyarinya cowok six pack bukan yang kayak ibu hamil tiga bulan macam kamu," cibir Bejo. Itu namanya belok yang bersahaja ... wkwkwk ... tetap milih dong nggak asal comot.
"Auk ah gelap! Okeh, aku mau chat sayangku dulu, dah Bejo .... i luph you ... " Wahyu menutup panggilan suara, tapi kalimat terakhir bikin bulu kuduk Bejo berdiri.
"Serem ini si Wahyu, jangan-jangan kalau nggak dapat Mbak Tiwi dia gebet aku. Dih ...." gerutu Bejo.
Sekarang Wahyu udah ancang-ancang buat telpon Tiwi sementara Bejo memilih bermesraan dengan Casper.
"Telpon langsung aja nggak usah ngechat kelamaan," gumam Wahyu.
Beberapa kali nada tunggu terdengar, lalu segera berganti dengan suara lembut Mbak Prastiwi yang selalu menggetarkan hati si jomblo, Wahyu Prasetyo.
"Assalamualaikum, Mas Wahyu," sapa Tiwi dengan manis semanis madu.
"Wallaikumsallam, Wi. Gimana kamu dah sampai rumah kan?" Berbasa-basi sesuai arahan dari Mas Bejo.
"Alhamdulilah udah kok, Mas. Mas Wahyu juga udah sampai kan?" tanya balik Tiwi perhatian.
Wahyu mengelus d**a, penuh kelegaan. Sikap Tiwi masih sama nggak ada yang berubah, nggak jadi jutek atau pun sok jual mahal, itu artinya si manis nggak kecewa udah ketemu sama dia yang tampangnya pas-pasan standar nasional kalau kata Bejo.
Memang Si Bejo ganteng, Thor? Macam aktor Lee Min Ho atau Iko Uwais?
Bejo ganteng kok, kayak Lek Minho, tetanggaku yang jual seblak keliling desa. Wkwkwkwkw ... sama-sama standar nasional juga, tapi hobi ngeledekin sejenisnya. Oalah ajur Jo ... Bejo ....
"Udah kok, Wi. Si kecil udah tidur ya kok sepi?" Wahyu berbasa-basi lagi. Padahal udah pinter nyari topik obrolan lho, tapi memang kerap manja sama Si Bejo ... dikit-dikit minta saran sama dia ... dikit-dikit telepon minta dibantuin mikir. Nggak salah kalau teman-teman mereka suka salah sangka dan menyangka mereka ada affair.
"Iya, Mas. Pas aku sampai rumah tadi Asryi udah tidur," jawab Tiwi sambil memerhatikan si kecil yang tertidur lelap di sisinya.
"Boleh aku video call?" Wahyu meminta ijin dengan sopan, ini pertama kalinya Wahyu mengajak wanita itu bertukar video melalui sambung whatslap. Kalau dulu belum berani minta karena belum ketemu dan Wahyu juga masih malu menunjukkan wujudnya yang tidak mengesankan, eh yang penting hatinya baik ya, Yu? Abaikan apa kata orang. Kamu tetap yang terbaik! Huwa ....
"Oh boleh kok, Mas." Tiwi mengijinkan dengan senang hati. Wanita itu bergegas mengubah posisi tubuhnya yang tadi berbaring kemudian berubah menjadi duduk. Isyarat panggilan dialihkan ke video call pun masuk ke dalam ponselnya. Tiwi menggeser icon kamera ke atas hingga kini screen ponselnya telah dipenuhi oleh wajah manis Mas Wahyu.
Emang manis, Thor? Katanya tadi pas-pasan?
Ada reader yang protes di sana.
Biar aja nyenengin orang kan pahala. Othornya lagi nabung pahala yang banyak. Jiaah ...
"Lhoh Tiwi kok matanya sembab? Habis nangis, Ya?" tanya Wahyu setelah memerhatikan dengan seksama dua bola mata indah calon kekasihnya ... ciye udah main pasang status calon kekasih aja lu, Thor! Kayak yang tahu bakal jadian sama Tiwi aja.
Hei, berpikirlah dan berucaplah yang baik-baik karena setiap ucapanmu adalah doa. Lagi mode rohani, padahal kelakuan roh halus. Wkwkwkwkwk ....
"Enggak apa-apa kok, Mas," sangkal Tiwi sambil mengerjap-ngerjapkan kelopak matanya dan sesekali mengusap wajahnya.
"Tapi itu kelihatan banget kalau kamu habis nangis, Wi. Kenapa sie? Ada apa? Jangan-jangan kamu tersinggung ya sama omonganku tadi?" selidik Wahyu.
Tiwi menggeleng. Kalau ditanya kenapa ada apa jadinya mewek lagi dah. Wanita itu pun kembali terisak-isak, padahal udah niat banget, yang tadi itu adalah tangisnya yang terakhir dan nggak mau nangis lagi.
"Tuch kan malah tambah banjir," desah Wahyu. Dia paling nggak bisa lihat cewek nangis, rasanya nggak tega gitu. Hati Wahyu kan lembut banget selembut sutra.
R : Merk pengaman itu, Thor.
Haduuuh ... pada paham yang anu-anu ... othornya masih polos banget padahal ... ckckck ....
"Ayo cerita aja! Siapa tahu aku bisa bantu." Kalau Tiwi ada di dekatnya, pasti udah dihapus itu air mata lalu Wahyu akan berkata, "Selama ada aku semua akan baik-baik saja." Modus ini mah ....
"Nggak apa kok, Mas. Lagi mikirin si kecil aja, kasihan nggak ada bapaknya," jawab Tiwi dengan lelehan air matanya yang semakin banjir.
"Astaghfirullah! Jangan mikir kayak gitu, Wi! Kamu harus berusaha biar si kecil tetap bisa bahagia meski nggak ada bapaknya. Jangan nangis! Ntar Arsyi malah sedih lihat ibunya nangis," nasehat Wahyu.
"Udah berusaha nggak nangis, Mas, tapi tetap aja sedih," desah Tiwi sambil menyeka air matanya.
"Keep strong, Wi. Allah nggak akan ngasih ujian yang melebihi batas kemampuan umatnya, kok. Aku yakin kamu pasti bisa lalui masa sulit ini, kalau ada apa-apa nggak usah sungkan ngomong sama aku, ya! Aku siap bantu kamu," jelas Wahyu membuat hati Tiwi ditumbuhin taman bunga.
"Makasih ya, Mas. Mas Wahyu baik banget sama aku," ucap Tiwi. Beruntung aja bisa kenal sama Wahyu. Jaman sekarang pria yang tulus itu udah limited edition. Wahyu perlu dilestarikan, besuk kita air keras lalu musiumkan, ya. Hahahaha ...
"Besok kalau kamu jadi ngelamar di cafenya Bejo ngelamar aja langsung, mumpung masih buka tadi lowongannya dan belum ada saingan yang banyak." Wahyu mengalihkan pembicaraan karena nggak mau bikin Tiwi nangis terus.
"Iya, Mas. Besok aku ke cafenya Mas Bejo, ya. Makasih lho udah dibantuin," sahut Tiwi. Hanya soal kendala pekerjaan doang yang saat ini lagi dia pikirin banget. Dia butuh uang kan buat gedein anaknya yang nggak pernah dikasih nafkah sama mantan suaminya.
"Aku pasti bantuin kamu sebisaku kok, Wi. Kalau ada apa-apa bilang aja sama aku! Nggak usah sungkan!" ulang Wahyu yang telah bersedia untuk direpotkan dengan segala keluhan dan permasalahan wanita yang baru beberapa minggu dikenalnya tersebut.
"Iya, Mas makasih ya udah baik banget sama aku," ucap Tiwi masih sedikit sungkan dengan Wahyu, meski Tiwi bisa merasakan kalau setiap perhatian yang Wahyu berikan untuknya adalah tulus dari dalam hati.
"Kamu beneran nggak marah atau tersinggung sama omongan aku tadi kan, Wi? Aku bukannya ngatur-ngatur kamu, aku cuma nggak mau ada lelaki usil yang ngelecehin kamu, itu doang ... aku mohon jangan salah paham, ya!" tutur Wahyu.
Padahal meski tanpa arahan Bejo, Wahyu udah good speaking lho, ah dasar Wahyu manja banget!
Tiwi tersenyum, sambil menyeka sisa-sisa air matanya.
"Aku sama sekali nggak ada rasa tersinggung atau marah kok sama Mas Wahyu. Aku justru terima kasih karena Mas Wahyu mau mikirin aku, makasih ya, Mas," sambut Tiwi tanpa ada sedikit pun rasa marah atau tersinggung.
Nah, kali ini Wahyu benar-benar bisa bernapas lega, setelah melihat senyum Tiwi dan statement langsung dari wanita tersebut. Ibaratnya ini tuch udah kayak yang lagi masuk angin, perut kembung, tapi nggak bisa kentut. Eh giliran udah bisa keluar itu angin, eh bablas sampai ke ampas-ampasnya. Legaaaa ....
R : Dih ... ya nggak gitu juga kali, Thor. Masa seampasnya? Authornya jorok iih!
A : Kan pengibaratan doang keles ....
"Alhamdulilah kalau kamu beneran nggak marah sama aku. Aku senang, Wi. Makasih, ya," balas Wahyu.
"Sama-sama, Mas. Aku yang makasih," sahut Tiwi, lagi-lagi wanita beranak satu itu melempar senyum membuat hati Wahyu berdebar-debar rasanya.
Memangnya apa sie yang Wahyu omongin sama Tiwi? Sampai dia takut kalau Tiwi tersinggung? Hayoo pada kepo nggak?
Jadi sebelum Tiwi turun dari mobil, Wahyu kan minta ijin buat ngomong sebentar. Dan ... yang lelaki itu omongin tentang cara berpakaian Tiwi yang dirasa Wahyu sexy dan bisa saja mengundang reaksi yang tidak baik apabila dilihat oleh lelaki yang pikirannya nggak lurus, eh bener, pikirannya nggak lurus, tapi membuat satu bagian tubuh menjadi lurus mengacung ke depan, eh tertekuk dong ya kan masih di sarang.
R : Ngomong apa sie, Thor?
Tik tuk tik tuk ...
Kita flashback aja yuk di beberapa jam yang lalu saat Mas Wahyu ngasih nasehat buat Mbak Tiwi.
Di mobil, suasana dekat perumahan Tiwi memang sepi dan gelap kalau malam hari, hanya ada beberapa kendaraan saja yang lewat. Dan begitu pun dengan malam ini.
"Wi, rumah kamu ini sepi lhoh daerahnya," kata Wahyu sambil mengedarkan pandangan matanya ke luar jendela.
"Iya sie, Mas. Memang sepi kayak gini, siang pun juga sepi karena mayoritas pada kerja dan sore gitu pada diem di dalam rumah," sahut Tiwi.
"Jadi aku mau ngomong, tapi kamu jangan tersinggung, ya!" Asli ... dengkul, eh lutut Wahyu gemeteran pas mau ngomong ini lho, antara jadi ngomong atau di-keep aja, tapinya ini buat kebaikan ... dari pada nanti Wahyu menyesal kalau terjadi apa-apa sama wanita pujaan hatinya ... jiaaah pujaan haati ... mending dia nekad ngomong sekalian, toh udah terlanjur ijin kalau mau ngomong, masa iya terus nggak jadi kan lucu.
"Mas Wahyu mau ngomong apa emangnya?" selidik Tiwi. Udah deg-deg ser juga aslinya sama kayak Wahyu. Tiwi sih menduga, amat sangat menduga kalau Wahyu mau ngungkapin perasaannya gitu. Si janda baru ini terlihat salah tingkah, beberapa kali dia terlihat membetulkan sulur anak rambutnya yang jatuh-jatuh mulu ke depan. Habisan nunduk sie ....
"Pertama aku lihat kamu, kamu itu sexy banget lho, Wi," celetuk Wahyu. Dengkul yang gemeteran semakin ngewel ... ndredeg kalau kata orang Semarang tuch.
"Masa sie, Mas?" Tiwi melihat dirinya sendiri dari mulai atas hingga ke sepatu yang dia kenakan.
"Iya, Wi. Aku ngomong jujur ini," kata Wahyu.
"Perasaan bajuku juga nggak sexy lho, Mas," bantah Tiwi.
"Menurutmu nggak sexy, tapi menurut pandangan lelaki normal ini sexy banget, Wi," debat Wahyu.
"Jadi menurut Mas Wahyu juga begitu?" tanya Tiwi sambil menunjukkan wajah inocentnya, macam anak perawan yang belum paham dengan hal beginian.
"Iyalah, Wi. Aku kan normal," desah Wahyu.
"Maaf, Mas. Aku juga nggak ada ngatain Mas Wahyu nggak normal, kok," sahut Tiwi lalu mengerucutkan bibirnya ke depan.
"Meski pun nggak ada yang terbuka. d**a aman, bawah juga aman, tapi baju kamu ketat banget, Wi." Aduuh ... deg-deg ser udah Wahyu takut dibilang sok ceramah kayak ustadz.
"Jadi Mas Wahyu tergoda?" tembak Tiwi, jleeeb tembus langsung ke ulu hati Wahyu.
"Iya, tergoda janda mempesona," jawabnya kemudian tertawa kecil.
Tiwi ikut tertawa malu-malu.
"Terajana dong, Mas," sahut Tiwi.
"Kok bisa?" Wahyu otaknya ngelag, guys.
"Itu singkatan, Mas. Terajana, Tergoda Janda Mempesona, hehehehe," jelas Tiwi membuat Wahyu menjadi paham.
"Oalah ... ada-ada aja kamu, Mah!" Wahyu garuk-garuk kepala. Kutuan lu, Yu?
Bagus juga ya istilahnya. Tergoda janda mempesona disingkat Terajana, kayak judul lagu dangdut ... asyik nich buat joged. Pikir Wahyu sambil manggut-manggut.
"Jadi intinya, aku takut aja kalau kamu pas keluar rumah sendirian dengan penampilan kayak gini nanti kamu dianu sama lelaki nakal gimana, Wi?" tutur Wahyu menjelaskan maksudnya berkata demikian biar Tiwi nggak salah paham.
"Dianu?" tanya Tiwi singkat dengan kening berkerut-kerut.
"Iya, dianu ... itu lho ... aah-"
"Aah?" potong Tiwi.
"Haduuuh, maksud aku nanti kalau ada yang godain kamu apalagi kalau sampai nyolek-nyolek kan berabe urusannya to, Wi. Peleecehan itu namanya," ujar Wahyu. Mau ngomong gitu aja kok ya susah men to Mas Wahyu, pake dianu, aaah emang mau ngapain pake aah segala?
Tiwi tersenyum, biar dugaannya meleset, mengira mau ditembak, tapi nyatanya malah diceramahi, tapi Tiwi senang juga diperhatiin kayak gini sama Wahyu.
"Jadi Mas Wahyu takut aku dicolek-colek sama lelaki lain?" tanya Tiwi dengan wajah tersipu-sipu dan rona di pipinya pun semakin memerah. Pertanyaan jebakan ini, Yu ...
"Ya jelaslah, Wi. Kalau bisa aku aja yang nyolek, eh." Wahyu langsung menutup mulutnya ketika Tiwi memelotottinya.
"Bercanda, Wi. Ya maksudnya nanti kalau udah sah cuma aku yang boleh nyolek. Eyaaa ...." Kalau habis ngegombal rasanya jadi malu.
Mas Wahyu udah mulai naksir aku nie kayaknya. Pikir Tiwi kegeeran. Lagian Wahyu terjebak sama pertanyaan Tiwi sie.
"Gini deh, emangnya kamu mau digituin?" jawab Wahyu dan dia pun balik melempar pertanyaan.
"Ya nggak mau lah, Mas. Amit-amit jangan sampai." Tiwi mengelus daadanya. Aduuh ... itu area yang paling Wahyu jauhi, area dadaa yang menonjol ke depan, takut nggak kuat iman nanti bisa nyusul Setyo.
"Iya, makanya aku tadi maksa kamu buat aku anterin pulang. Aku nggak ada maksud macam-macam kok, Wi. Insya Allah aku kuat iman," cetus Wahyu.
"Iya kok, Mas. Aku percaya Mas Wahyu orang yang baik. Makasih ya, Mas. Mulai besok aku pilih-pilih lagi bajuku biar ngga menggoda dan bikin lelaki jadi jelalatan matanya," sambut Tiwi.
Namun, setelah mereka kembali ke rumah masing-masing, Wahyu tetap saja galau ketiika Tiwi tak juga mengiriminya pesan duluan.
Flashback off.
"Ya udah sekarang kamu bobo ya, Wi. Udah malam, lagian besok juga harus kerja aku, kamu semangat ya cari kerjanya!" Tak lupa Wahyu memberi spirit yang besar untuk Tiwi. Dia mengerti untuk saat ini, Tiwi membutuhkan dukungan moril yang sangat besar.
"Sekali lagi makasih, ya, Mas," ucap Tiwi.
"Sama-sama, Wi. Assalamualaikum," tutup Wahyu.
"Walaikumsallam, Mas," sahut Tiwi.
Panggilan video pun terputus.