**
Wahyu berbaring di kamarnya setelah berganti pakaian dengan baju rumahan, andalan Wahyu celana kolor sebatas paha dengan t-shirt ala kadarnya. Dengan begitu dia jauh lebih nyaman menikmati waktu rebahannya di rumah, lelah juga kan udah setiap hari pas kerja dia selalu memakai jas formal yang membuatnya susah bergerak. Memang mau bergerak apa sie, Thor? Mau senam SKJ pakai baju kerja gitu? Hm ... misalkan aja Wahyu mau garuk-garuk pantatnya yang gatal kan bisa aja ... Wek ... (Authornya julurin lidah ke pembaca wkwkwkwk ...)
Wahyu masih terngiang wajah manis Mbak Tiwi dan bau parfum wanita itu pun masih nempel di hidungnya yang minimalis, tapi agak mekrok sedikit sie. Eh, mekrok Bahasa Indonesianya apa, Ya? Maklum authornya orang Jowo ...
Memang apaan mekrok, Thor? Para readers pada bertanya-tanya. Udah tanya sama rumput yang bergoyang, tapi tidak menemukan jawaban. Haduuh ...
Jadi mekrok itu yang kayak bunga itu lho... ah mekar .... hm ... (Tepok jidat!)
"Tiwi marah nggak ya aku omongin kayak gitu tadi?" Wahyu gelisah. Dia teringat dengan ucapannya pada Tiwi beberapa jam yang lalu sebelum si manis itu turun dari dalam mobilnya. Wahyu takut salah bicara, takut nyinggung perasaannya. Baru juga ketemu masa udah ngatur-ngatur, begitu kira-kira yang ada di pikiran Wahyu sekarang. Jadinya Wahyu nggak enak hati karena takut omongannya yang tadi bisa membuat hubungan Tiwi dan dia jadi merenggang sebelum dirapatkan.
Dilem aja thor biar rapat! Disangka kertas apa yak?
"Kok dia nggak chat aku juga sie? Biasanya malam-malam gini suka tanya aku lagi apa," gumam Wahyu sambil memeriksa ponselnya.
"Mati aku kalau sampai dia ilfeel sama aku!" Wahyu menepuk jidatnya dengan cukup kencang. Alamak, jidat segede lapangan badminton masih ditepuk juga tambah lebar dong, Yu.
"Bang! Abang udah pulang kan?" Tumben-tumbenan Si Setyo punya sopan santun dengan mengetuk pintu kamar abangnya dulu, nggak kayak biasanya yang main nyelonong masuk aja nggak peduli entar kakaknya di dalam kamar lagi ngapain.
Eh, emang mau ngapain Wahyu di dalam kamar?
Entah! Othornyaa yang suka ngadi-ngadi.
"Iya, aku dah pulang. Ngapain tanya-tanya? Biasanya nggak tau diri main masuk aja," jawab Wahyu dengan nada kesal.
Setyo membuka pintu tanpa menunggu abangnya mempersilahkan masuk.
"Tuh kan nggak sopan emang," cibir Wahyu ketika melihat penampakan adiknya. Si Setyo nyengir sambil garuk-garuk kepala.
"Kutuan lu?" ledek Wahyu.
"Nggak gitu, Bang. Aku mau negosiasi sama Abang," kata Setyo yang masih nyengir terus kayak nggak takut ntar giginya kering.
"Negosiasi opooo?" tanya Wahyu dengan kening berkerut-kerut. Feelingnya udah nggak enak aja ini, udah lagi gelisah mikiran Tiwi ditambah adiknya ngajak negosiasi. Wahyu yakin, negosiasi ini pasti hasilnya lebih condong menguntungkan Setyo dari pada dirinya, udah biasa juga dikadalin sama adiknya. Bukan dikadalin, tapi ngalah aja sama yang lebih muda, alibinya Wahyu kayak gitu.
"Modal aku buat nikah masih mepet, Bang. Jangan minta barang yang aneh-aneh lah buat syarat, kasihan aku lah, Bang," ucap Setyo. Si adik semata wayang Wahyu ini mulai memasang wajah memelas.
"Lamborghini pokoknya! Nggak mau tahu!" tegas Wahyu sambil berbalik badan, memeluk guling membelakangi adiknya.
"Ya Allah, Bang. Tega amat sama adik sendiri. Aku aja mau minta abang ngurunin aku buat biaya nikah," jelas Setyo dengan entengnya minta sokongan dana dari kakaknya.
Wahyu menimpukkan guling yang dia peluk ke kepala adiknya. "Adik nggak tahu diri emang!" sentaknya.
"Kalau emang belum ada modal nikah ngapain lu hamilin anak orang?!" amuk Wahyu sambil menyenderkan punggungnya di sandaran ranjang.
"Lah aku kan dah bilang khilaf, Bang." Selalu begitu, dasar manusia yang selalu berlindung dari kata khilaf apabila mereka melakukan kesalahan.
"Khilaf, tapi terusan? Itu namanya doyan, Paijo!" cibir Wahyu kesal.
"Aku aja nggak pernah nyolok, eh kamu seenaknya markirin burung," gerundel Wahyu.
"Salah sendiri kenapa nggak dicolokin, Bang? Eh aku lupa kalau abang jomblo. Hahahaha ...." Nggak Bejo nggak Setyo pada nggak ada akhlak semua.
Wahyu menonyor jidat adiknya dengan kesal. "Apa yang kamu banggain dodol?! Bikin malu orang tua!" omel Wahyu geram. Setyo membungkam mulutnya dengan cepat.
"Hish ... aku tadinya juga udah mau nikah, tapi nggak enak ngelangkahin abang, eh nggak tahunya malah kebablasan, ya udah mau gimana lagi yang penting kan aku tanggung jawab. Jadi ini sebenarnya salah abang, jadi abang yang harus bantuin aku." Setyo memutar balikkan fakta, malah nyalahin abangnya yang polos, lugu dan nggak tahu apa-apa.
"Kenapa jadi aku yang salah? Lu yang kikuk-kikuk, kenapa jadi aku? Kampret emang lu!" geram Wahyu sambil mencebikkan bibirnya.
"Ya kalau Abang udah nikah pasti aku juga udah nikah dari dulu nggak nunggu tekdung. Pokoknya ini salah abang, bantuin aku ya, Bang ... Plis! Uang abang kan banyak, masa nggak kasian sama adik sendiri," rayu Setyo, nggak akan gentar sebelum dia mendapatkan apa yang dia mau dan Wahyu paham betul bagaimana adiknya ini.
"Udah aku duga, pasti akhirnya aku lagi yang rugi," desah Wahyu sambil memeriksa ponselnya, mana tahu Tiwi mengiriminya sebuah pesan. Eh tak tahunya hanya chat dari bejo yang ada. Lelaki itu bertanya, "Gimana udah jadian?" Gila aja masa baru sehari ketemu langsung main tembak? Bisa kabur dong anak orang, untung Wahyu kali nggak nurut apa kata Bejo.
Wahyu mendengarkan adiknya yang terus memelas sambil membalas pesan dari Bejo.
Belum ada tembak-tembakan, tulis Wahyu di layar sentuh ponselnya, lalu segera pesan itu dia kirim pada sahabatnya.
"Mau ya, Bang? Plis!" Setyo masih mengiba. Padahal Wahyu nggak konsen juga adiknya tadi ngomong apaan.
"Hm .... " Wahyu menyahut singkat.
"Yes ....!" Tetiba Setyo melonjak-lonjak kegirangan. Wahyu melongo memperhatikan adiknya sementara ke dua tangannya masih memegang handphone karena dia masih bertukar pesan dengan si Bejo.
"Yes apanya sie?" tanya Wahyu kebingungan. Dia beneran nggak paham, tadi kan dia cuma jawab Hm doang kenapa terus adiknya girang bener, memang tadi Setyo ngomong apaan?
Wahyu meletakkan benda pipih yang sejak tadi membuatnya memecah konsentrasi ke atas ranjang. Dia perhatikan adiknya lagi yang masih berbinar-binar bak mendapatkan hadian mobil mewah dari bapaknya.
"Kenapa sie? Girang amat kamu," tegur Wahyu.
"Lah kan abang udah setuju mau pinjemin aku duit seratus juta buat nikahan, terus hadiah langkahannya dipending dulu nunggu aku sukses," terang Setyo membuat Wahyu menelan ludah kasar.
"Mana ada aku setuju kalau gitu? Jiaaaah aku rugi! Ogah!" tolak Wahyu mentah-mentah. Bibir Setyo melengkung ke bawah membentuk emoticon sedih.
"Tadi abang bilang hm ... hm itu kan artinya iya," debat Setyo.
"Mana ada? Hm itu aku lag nyanyi lagunya Sabyan, Hm .... hm .... hm .... " Wahyu bersenandung.
Fals, Yu! Mending diem dech! Authornya tutup telinga.
"Tega bener Ya Allah sama adik sendiri, mana adik satu-satunya. Ntar kalau abang tua siapa yang ngurus kalau enggak aku sama anakku? Hayo?" Belum-belum udah ngomong yang enggak-enggak, kayak yang Wahyu nggak bakalan nikah aja. Jangan-jangan Setyo udah hopeless sama nasib cinta abangnya. Hahahaha ....
"Njiir ... ntar kan aku juga nikah, tunggu aja tanggal mainnya, kalau berhasil nggak lama aku juga nikah," sahut Wahyu dengan optimisme yang tinggi.
"Iya aku doain nikah. Tuh baik banget kan aku selalu doain abang, makanya bantuin aku napa? Bapak sama Ibu udah lepas tangan nggak mau ikut andil karena marah sama aku," jelas Setyo.
Wahyu kasihan juga sie lihat tampang adiknya yang udah melas makin melas aja. Biar sering ribut, tapi dia nggak tegaan juga kalau lihat adiknya susah.
Soal didikan, orang tua Wahyu memang tegas apalagi bila anaknya membuat salah maka mereka tidak segan untuk menegur apalagi menghukum. Sebagai pemilik toko material yang sukses dengan dua puluh cabang yang menyebar di seluruh penjuru kota, maka untuk soal uang bukanlah persoalan yang sulit untuk Agus Saputro dan juga Ningsih. Namun, mereka tetap mengajarkan anak-anak mereka tentang bagaimana susahnya mencari uang, hidup mandiri itu perlu, pendidikan yang baik juga perlu, untuk itulah Wahyu dan adiknya pun menjadi sosok yang pekerja keras sejak muda meski anak orang kaya.
"Memang tabungan kamu ada berapa?" selidik Wahyu.
"Cuma lima puluh juta, Bang. Kan kemarin udah aku buat beli mobil baru," jawab Setyo.
"Ya udah mobilnya jual aja," sahut Wahyu santai.
"Njiir ... tega banget lu Bang." Setyo merajuk bak anak kecil nggak diturutin beli es krim.
"Iya nanti aku transferin," celetuk Wahyu membuat senyum yang tadi sudah hilang dari bibir Setyo langsung terkembang sempurna.
"Abang memang cakep banget," pujinya, selalu begitu kalau ada maunya, muji-muji setinggi bintang, coba kalau lagi nggak butuh bisa dihina dina melulu sepanjang waktu.
"Udah dari dulu, kamunya aja yang baru nyadar," sambut Wahyu kepedean.
"Makasih banget ya, Bang. Aku doain lancar pedekatenya sama si janda," goda Setyo sambil nyengir usil. Wahyu membelalakkan bola matanya.
"Kampret! Dari mana kamu tahu?" Wahyu segera menutup pintu kamarnya yang terbuka, takut Bapak Ibu dengar, belum saatnya mereka tahu soal ini.
"Dari Bang Bejo lah. Hahahahaha." Setyo tertawa terpingkal-pingkal.
"Memang Bejo kampret! Nggak bisa banget jaga rahasia! Mulut udah kayak saringan, bolong di mana-mana," geram Wahyu mengomeli Bejo yang nggak ada di depannya.
"Udah nggak usah kelabakan gitu, Bang! Hahaha ... nggak papa juuga janda, janda pada kenyatannya memang lebih menggoda," kata Setyo meledek abangnya yang terlihat salah tingkat akibat ketahuan naksir sama janda.
"Lagi pula aku lihat Mbak Tiwi manis kok, Bang," puji Setyo sambil mengingat-ingat wajah Tiwi yang fotonya Bejo kirimkan kemarin lewat pesan whatslap.
"Lhah kamu tahu wajahnya juga?" tanya Wahyu. Matanya sudah membeliak menakutkan.
"Udah, dikasih tahu Mas Bejo juga."
"Memang Bejo kampret!" umpat Wahyu geram.
"Semoga sukses ya, Bang!" Setyo menepuk pundak abangnya memberi semangat.
"Amin ... eh, tapi kamu jangan bilang sama ibu, bapak dulu ya! Awas kalau mulutmu sama bocornya kayak si Bejo! Dana nikahanmu aku tarik!" ancam Wahyu. Jelas Setyo akan nurut kalau udah nyinggung soal uang.
"Siap, Bang! Semua aman sama aku," sahut Setyo.
"Ya udah aku balik ke kamar dulu. Thanks ya, Bang!" Setyo pun pergi meninggalkan kamar abangnya.
Wahyu segera mengambil ponselnya kembali. Ayo tebak siapa yang akan dia hubungi?
Apakah Tiwi?
Hm ... tentunya bukan dong. Wahyu udah siap-siap mau ngomelin Bejo nih. Sekarang dia lagi mencoba menyambungkan ponselnya dengan ponsel akang Bejo yang kampretnya nggak ketulungan.
"Malam, Mas Wahyu," sapa Bejo dari seberang sana. Lelaki itu baru saja masuk ke dalam mobilnya dengan Casper yang ada di pangkuannya. Sudah saatnya dia pulang ke rumah setelah membantu karyawannya untuk menutup cafe.
"Nggak usah sok manis gitu, Buluk!" umpat Wahyu ngegas ... brrrm .... brrrm ... brrmmm ....
"Eh kok lu ngatain diri sendiri?! Hahahaha," ledek Bejo.
"Lu yang buluk! Ngapain kamu pake bilang ke Setyo kalau aku lagi deketin janda? Mana pake kamu tunjukkin pula wajahnya Tiwi!" omel Wahyu dengan menggebu-gebu. Kalau ada Bejo di depannya, mungkin itu lelaki itu udah kena jambak si Wahyu.
"Oh jadi ngamuk soal itu? Kamu ya jadi orang memang nggak pernah smart!" Bejo balik menjudge Wahyu nggak pernah smart alias boodoh.
"Maksud kamu apaan? Udah salah malah ngeledek lagi!" serang Wahyu nggak terima.
"Sebentar! Dengerin aku dulu! Kamu itu lagi tak bantu buat nyari dukungan ke saudaramu kok malah marah. Sekarang tak tanya, respon Setyo gimana?" jelas Bejo dengan santainya, tak ada rasa panik sedikit pun karena udah diomeli sama Wahyu. Lelaki itu memang pintar memutar balikkan fakta.
"Ya dia dukung aku sih, nggak ada keberatan juga, malah dia bilang Tiwi orangnya manis," jelas Wahyu sesuai dengan tanggapan yang Setyo tunjukkan padanya.
Bejo spontan menjentikkan jarinya, meski Wahyu tidak mendengar suara jentikan tangan sahabatnya. "Nah, berarti usaha aku membuahkan hasil, dong! Bibit yang aku tanam akhirnya tumbuh dan menghasilkan benih yang unggul, makanya jadi orang itu kudu yang cerdas! Harus pintar nyari strategi dan mencari celah agar buah-buah di kebunmu tumbuh dengan lebat," papar Bejo yang malah jadi membahas tentang menanam buah-buahan.
"Kamu ngomong apaan sie? Kamu pikir aku lagi nanya tips menanam pohon jambu yang baik dan benar?" sungut Wahyu.
"Entah aku juga bingung aku lagi ngomong apaan." Bejo garuk-garuk kepala. Memang suka absurd ini anak tua!
"Geblek!" umpat Wahyu kesal.
"Terus masalah kamu apa, Kisanak? Apa yang mesti kamu keluhin? Hah?"
"Yang aku keluhin ya mulut lu yang udah kayak perempuan!" jawab Wahyu dengan nada tinggi.
"Heh, justru harusnya kamu berterima kasih karena berkat mulutku kamu jadi dapat dukungan dari Setyo, dasar sahabat nggak tahu diuntung emang!" cibir Bejo.
"Dahlah aku mau pulang, casper dah ngantuk banget ini pingin tidur," imbuh Bejo kemudian mematikan panggilan suara.
"Semprul!" geram Wahyu.
Dahlah, Yu! Bener juga kata Bejo, masalahnya apa coba? Kecuali kalau Setyo ngelarang kamu mati-matian buat deketin itu Mbak Tiwi baru kamu perlu marah. Kali ini author ada di pihak Mas Bejo. Hidup Mas Bejo!
"Terus gimana ini masalah Tiwi? Kok dia belum hubungin aku lagi? Jangan-jangan dia nyesel kali ya ketemu aku?" gumam Wahyu ketika melihat whatslapnya masih kosong tanpa ada yang mengiriminya pesan.