Beginikah rasanya hidup dengan seseorang yang punya jarak sangat jauh dengan kita? Bukan hanya jauh umur. Melainkan, juga jauh segala-galanya. Pertama, dia tampan. Sepanjang perjalanan dari ujung selatan hingga pucuk utara Malioboro, nggak sedikit mbak-mbak juga mbok-mbok yang nggak berhenti senyam-senyum terpesona melihatnya yang bagaikan finalis Abang Jakarta nyasar, ketika kami lewat. Aku sampai nggak percaya diri melihat pantulan diriku dari kaca etalase. Apa aku cukup cantik untuk bersanding di sampingnya, yang berjalan sepanjang jalur pejalan kaki dimana kanan-kiri sejauh mata memandang, penuh dengan pertokoan tempat khalayak membelanjakan uangnya? Kedua, dia kaya. Satu hal yang membuatku takjub saat tadi malam membongkar isi kopernya untuk kumasukkan ke dalam lemari kamar hotel

