Number 31

3368 Kata
Matahari sore sudah mulai terlihat dan mereka baru sampai di daerah snow. Ya daerah yang mereka tuju saat ini memanglah daerah snow. Mereka semua tidak jauh berbeda dengan pengendali froz, daerahnya terasa lebih dingin dari daerah lainnya sama dengan daerah froz. Hanya saja mereka menggunakan pakaian berwarna biru muda. "Aku pikir aku akan bertemu dengan salju. Ternyata tidak," ucap Perly membuat semuanya terkekeh. Perly berbalik, alisnya menukik tajam menatap mereka, "Kalian jahat! Kalian menipuku!" pekiknya sambil cemberut. "Kami hanya ingin membuatmu semangat untuk berjalan ke sini. Maksud kami baik. Sudahlah, jangan cemberut begitu," ucap Zate masih terkekeh. Perjalanan yang mereka tempuh seharusnya jauh, membutuhkan waktu setidaknya sampai malam jika mereka tidak dipaksa cepat oleh Perly yang semangat ingin melihat salju. Awalnya gadis itu bahkan tak berniat ingin ke sini, tapi berkat tipuan mereka yang mengatakan di daerah ini bersalju, maka Perly tak ingin membuang banyak waktu dan membuat tumpukan salju menunggu terlalu lama untuk dimainkan olehnya. Dan, tadaa ... inilah yang dia dapat setelah mengeluarkan semangatnya. "Sudahlah jangan memasang wajah seperti itu. Lihat, anak itu menjadi ketakutan gara-gara dirimu," ucap Anta menunjuk dua orang gadis kecil menggunakan dagunya. Perly kemudian berbalik untuk melihat siapa yang Anta maksud. Di sana ada dua gadis kecil yang sangat lucu di mata Perly. Sampai senyum lebarnya mengembang saat melihat gadis kecil itu. Perly yang pada dasarnya menyukai anak kecil, segera mendekat pada mereka, "Hai, cantik. Siapa nama kalian?" tanya Perly sudah berjongkok di bawah untuk mensejajarkan tingginya dengan dua gadis itu. "Seharusnya aku tak memberitahunya tentang anak kecil itu," gumam Anta yang terlihat menyesal memberitahu Perly. "Biarkan saja, kulihat, dia sangat senang dengan anak kecil," ucap Marta tersenyum menatap Perly dan dua anak kecil itu. "Aku Glo," ucap anak kecil bernama Glo itu menunjuk dirinya sendiri. Tangannya kemudian beralih memegang bahu gadis kecil di sampingnya, "Dan ini Vio," tambahnya membuat Vio mengulas senyum pada Perly. Perly ikut tersenyum "Nama Kakak, Kak Perly," ucapnya menunjuk dirinya. Kedua tangannya di letak di bawah dagu membentuk bunga mekar, dengan mata yang berkedip beberapa kali, "Kakak cantik bukan?" tanyanya. Pertanyaan yang terdengar memaksa. Kedua anak itu mengangguk, "Kakak cantik," jawabnya serentak, dan itu sukses membuat Perly memekik senang. "Kasian sekali, anak kecil itu menjadi korban selain Zack," ucap Anta geleng-geleng kepala melihatnya. Befra menoleh, "Tapi, dia memang cantik bukan?" tanyanya dan Anta mengangguk, "Tak mungkin juga aku memujinya dengan kata tampan," jawabnya setelah itu membuat mereka terkekeh. Anta dan gengsi adalah dua hal yang tak bisa terpisahkan. "Aw ... kalian kenapa lucu sekali ... mau ikut bersama Kakak? Kakak akan menjadikan kalian anak Kakak," ucap Perly yang sukses membuat teman-temannya melotot. "Heh! Apa-apaan kau ini. Kau mau disangka penculik?" ucap Befra cepat. Marta dengan cepat menarik Perly agar kembali berdiri. Membawanya ke belakang di samping Anta, Zate dan Tier, dengan Anta yang menatapnya tajam seakan berkata, 'Jangan mencari masalah!' "Maaf ya gadis cantik. Kakak dan yang lainnya harus pergi dulu. Kalian pulanglah, nanti orangtua kalian khawatir," ucap Marta tersenyum pada Glo dan Vio. Kedua gadis itu mengangguk dan pergi berlari menuju rumahnya. "Bisakah kamu bersikap normal? Jangan membuat kami malu," ucap Anta membuat Perly kembali cemberut. Gadis itu mencebik sambil menatapi dua gadis yang berlari menjauh. Ingin dia kejar, tapi Zate dan Anta lebih cepat menarik pakaiannya. "Ck. Anak ini! Kau ingin kuikat ya? Diam di sini!" ucap Anta garang, mengalungkan tangan kanannya di leher Perly dan tangan kirinya memegang tangan Perly membuat gadis itu merengek minta tolong pada Zate. Yang lainnya hanya geleng-geleng kepala, maklum dengan kelakuan mereka berdua. Mereka kembali berjalan, "Di mana kita akan bermalam sekarang?" tanya Zate. "Tentunya kita tidak akan membuat rumah lagi dan tidak bermalam di luar," jawab Marta cepat saat Perly akan membuka suara. Sangat tau akan usulan gadis nakal itu. "Ya aku setuju. Kita akan menumpang di rumah para pengendali saja untuk malam ini. Sebaiknya kita tidak mengambil resiko untuk saat ini," ucap Tier diangguki yang lainnya. "Tapi di rumah siapa? Kita tidak mengenal siapapun yang ada di sini," ucap Befra. Mendengar itu, Perly langsung melepaskan diri dari Anta saat laki-laki itu lengah, berlari menuju satu rumah "Kalau begitu kita harus berkenalan dengan mereka! Biar aku saja yang mencari tumpangan!" teriaknya membuat mereka semua menutup wajah malu. Anta menghela nafas lelah, mengusap wajahnya. Laki-laki itu terlihat frustasi karena tingkah Perly, "Anak itu akan membuat masala lagi," ucap Anta pelan. "Tak apa. Setidaknya sifatnya yang satu itu dapat membantu kita," jawab Tier yang mendengarnya. Tok! Tok! Tok! "Permisi! Adakah seseorang di dalam? Aku dan teman-temanku perlu bantuan!" teriaknya dari luar. Tidak ada sahutan membuat Perly kembali mengetuk pintu itu dan kembali berteriak, mungkin saja pemiliknya sedang tidur, atau sedang mandi, jadi tidak terdengar, pikirnya. Namun nihil, tak ada suara yang menyahutinya. Tak menyerah pada satu rumah saja, Perly kemudian pergi dari sana dan berpindah pada rumah yang berada tak jauh dari yang sebelumnya. Ada sampah buah di sudut tempat duduk, jika dilihat, itu masih baru, dan juga, ada dua pasang alas kaki di depan pintu, berarti ada orang di dalam sana. Tok! Tok! Tok! "Permisi! Apa ada orang di dalam?!" lagi Perly berteriak. Masih tak menyahuti, membuat Perly mulai berpikiran negatif, "Apa mereka semua bersekongkol untuk tidak menerima tamu?" tanyanya pelan. Kembali mengetuk pintu itu, sedikit lebih keras dari sebelumnya, dan yaa ... punggung tangannya sakit, hasil tak didapat, sehingga berakhir dengan dirinya yang mendesah lesuh, berbalik kembali pada teman-temannya. "Kasihan juga melihatnya," ucap Marta terkekeh, begitupun yang lainnya. Ceklek! Baru di langkah ke lima, suara pintu dibuka membuat Perly berbalik badan dan tersenyum lebar. "Loh," kagetnya. Perly mendekat, kemudian berjongkok di depan dua gadis yang baru saja membuka pintu, "Gadis cantik. Glo dan Vio bukan?" tanya Perly. Keduanya mengangguk sambil terus menatap Perly. Perly kembali bertanya, "Masih ingat Kakak?" tanyanya dan mereka kembali mengangguk, "Kak Perly?" jawabnya membuat Perly gemas dan mencubit pipi keduanya. "Siapa yang datang, Sayang?" Seorang wanita paruh baya keluar dari dalam rumah, sepertinya ibu Glo dan Vio. Perly langsung berdiri, memberi senyum pada wanita itu, "Salam, Bibi," ucap Perly menunduk. "Salam," jawabnya, "Gadis Plants? Sedang apa di sini?" tanya wanita itu lembut. Respon yang baik, dan akan Perly terima dengan baik pula. Sekaligus mencari peruntungan dengan menyampaikan maksudnya. "Ah, begini, Bibi, aku dan teman-temanku sedang mencari tumpangan. Bolehkah kami menumpang di rumah Bibi untuk malam ini? Kami tidak mengenal siapapun di sini," ucap Perly menatap wanita itu. "Ah, soal itu ya ..." gumamnya tak melanjutkan ucapannya. Seperti sedang menimang permintaan Perly. "Em ... di mana teman-temanmu, Nak?" tanya wanita itu lebih dulu. Perly segera mengarahkan telunjuk pada teman-temannya yang masih menatapnya dari tempat tadi, "Di sana, Bi. Mereka teman-temanku," katanya membuat wanita itu mengikuti arah tunjuk Perly. Cukup banyak, pikirnya. Wanita itu kemudian menatap ke dalam rumahnya, kembali menimang keadaan rumah dan juga gadis ini, sebelum dia merasa ada tarikan dari pakaiannya, "Izinkan saja Ibu. Kakak itu baik," ucap Glo menatap ibunya. "Ya, dia juga cantik," sambung Vio membuat Perly tersenyum lebar. Wanita itu ikut tersenyum mendengar ucapan anaknya. Ternyata gadis ini dan anaknya sudah cukup dekat. Wanita itu mengusap rambut keduanya lalu menatap Perly, "Ayo bawa teman-temanmu ke sini. Kalian bisa bermalam di sini," jawab wanita itu akhirnya membuat senyum Perly semakin mengembang. "Terimakasih Bibi," ucapnya dan wanita itu mengangguk sambil tersenyum, "Terimakasih juga untuk kalian berdua gadis cantik," ucap Perly mengusap rambut Glo dan Vio. Perly berbalik menatap teman-temannya yang juga sedang menatapnya, melambaikan tangan dan menyuruh mereka untuk menghampirinya. "Bibi ini mengizinkan kita untuk bermalam di rumahnya," ucap Perly saat mereka sudah sampai di hadapan Perly. Mereka semua tersenyum dan menunduk pada wanita itu, "Terimakasih banyak Bibi," ucap Tier dan wanita itu mengangguk. Membuka daun pintu lebih lebar, "Masuklah." Bibi mempersilahkan. Mereka mengangguk dan masuk ke dalam. Mengikuti bibi dari belakang. "Emm ... rumah bibi tidak terlalu besar, dan kamarnya hanya ada dua. Jika kalian tidur di sini, apa tidak masalah?" tanya bibi itu menunjukkan ruangan depan dari rumahnya. "Tidak masalah, Bibi. Bibi sudah memberi kami tumpangan saja, itu sudah sangat berarti bagi kami. Kami akan tidur di sini," ucap Marta tersenyum dan bibi pun ikut tersenyum lalu menatap Anta, Zate dan Tier bergantian Mengerti dengan tatapan itu, Zate segera mengatakan, "Kami bertiga akan berjaga di sini. Kami berjanji tidak akan berbuat macam-macam di rumah Bibi," ucapnya Bibi mengangguk dan tersenyum lega. Glo yang berada di samping Perly tiba-tiba menarik-narik lengan Perly, "Kakak tidurlah bersama kami," ucapnya meminta. Perly tidak langsung menjawab, tapi beralih menatap ibu Glo dan juga teman-temannya. "Iya. Tidurlah di kamar kami," timpal Vio. Perly menggaruk kepala belakangnya yang tidak gatal, bingung ingin menjawab apa, Perly berjongkok memegang tangan mereka berdua, "Sayang, Kakak harus di sini bersama teman-teman Kakak. Kalian tidur saja berdua, oke?" jawab Perly membuat kedua gadis itu cemberut. Glo menggoyangkan tangannya, tak setuju dengan usulan Perly, "Ayolah. Kami ingin tidur ditemani oleh Kakak," ucap Glo lagi. "Tapi ...." "Tidak apa-apa Nak. Kamu boleh tidur di kamar mereka. Lagi pula kamar kami terpisah," ucap bibi cepat sambil tersenyum. Perly kemudian menatap teman-temannya seperti meminta persetujuan, "Tidak apa. Tidurlah dengan mereka, kami akan tidur di sini," ucap Marta mewakili. "Benar tidak apa?" tanya Perly memastikan. Mereka hanya mengangguk dan tersenyum sebagai jawaban. Perly tersenyum lalu menatap Glo dan Vio, "Yasudah. Ayo, Kakak mau lihat bagaimana kamar kalian," ucap Perly membuat Glo dan Vio bersorak senang. Bibi itupun pergi ke kamarnya setelah berpamitan pada Marta dan yang lainnya, begitupun mereka yang sudah berbaring di bawah sana. Hampir tengah malam, dan mereka semua belum juga tertidur. Entahlah, tubuh mereka terasa lelah, namun mata tak mendukung untuk mengistirahatkan badan. Srekk! Suara tirai dari kamar Glo dan Vio terbuka. "Kamu belum tidur?" tanya Befra yang melihat Perly keluar dari sana. "Kalian juga belum tidur?" Perly balik bertanya. "Entahlah, kami tidak bisa tidur," ucap Tier diangguki yang lainnya. "Baguslah. Karena ada sesuatu yang harus kalian ketahui," ucap Perly sudah duduk di samping Marta. Mereka duduk merapat ke arah Perly dan Marta "Ada apa?" tanya Marta penasaran. Perly menatap mereka bergantian, "Aku merasa ada yang tidak biasa dari Glo dan Vio," ucapnya. "Kenapa?" tanya Zate. • Perly, Vio dan Glo tidak langsung tidur setelah sampai di kamarnya. Perly duduk dengan bersandar di kepala tenpat tidur, sedangkan Glo dan Vio berbaring dengan meletakkan kepalanya di atas paha Perly. "Apa kalian selalu seperti ini? Maksudnya, apa kalian selalu ditemani tidur?" tanya Perly sambil mengusap rambut keduanya. Glo dan Vio menengadah menatap Perly lalu menggeleng pelan. Serentak, seperti anak kembar. "Tidak. Ibu ataupun Ayah hanya mengantar kami tidur lalu pergi ke kamarnya setelah mengucapkan selamat malam," jawab Vio dan Glo hanya mengangguk. Kening Perly berkerut, "Lalu kenapa tiba-tiba kalian ingin tidur bersama Kakak?" tanya Perly lagi. Tangannya masih setia mengelus rambut keduanya, dia suka rambut anak kecil, halus sekali. Glo dan Vio terdiam mendengar pertanyaan Perly membuat si penanya bingung. "Kenapa? Apakah ada yang salah dengan pertanyaan Kakak?" tanya Perly lagi. Mereka masih diam tak menjawab apa-apa. "Ya sudah ayo sini duduk," Perly melipat kakinya dan membawa Glo serta Vio untuk duduk di masing-masing pahanya, "Ingin bercerita? Kakak siap mendengarnya," ucap Perly menatap mereka bergantian. Lagi, tak ada dari mereka yang bersuara dan malah terus menatap Perly. Tatapan ragu yang mereka berikan membuat Perly cukup tau, kalau dua anak ini masih belum mau bercerita, "Kalau kalian belum mau bercerita tidak masalah. Ayo kita tidur, jangan pikirkan itu lagi," ucap Perly tersenyum. Mereka mengangguk dan kembali berbaring di samping Perly begitupun Perly yang berbaring di tengah-tengah mereka. Perly menepuk-nepuk pelan punggung Glo dan Vio sambil sedikit bersenandung. Membuat dua gadis kecil ini tertidur lebih dulu. "Kakak ...," panggil Vio menengadah menatap Perly. Perly yang hampir tertidur akhirnya kembali membuka mata dan menatap Vio, "Vio belum tidur?" tanyanya dan Vio mengangguk. Bukan hanya Vio, Glo pun ternyata belum tidur, ikut menengadahkan kepala menatap Perly. "Ada apa? Kalian belum mengantuk? Mau Kakak ceritakan dongeng?" tawar Perly sudah merubah posisinya menjadi duduk. "Kakak, berjanjilah untuk tidak menceritakannya pada ibu," ucap Vio mengangkat jari kelingkingnya di hadapan Perly. Perly menatapnya bingung namun tak urung dia tetap mengaitkan jari kelingkingnya pada jari Vio. Mulai paham ke mana arah pembicaraannya. "Vio dan Glo sering melihat seseorang di sana," ucapnya menunjuk jendela kamarnya sehingga Perly mengikuti arah telunjuknya, "Dia berpakaian hitam, punya sayap yang besar. Dia menyeramkan," lanjutnya memeluk Perly begitupun dengan Glo yang juga memeluknya. Mereka sangat ketakutan sekarang. Perly bisa merasakan getaran di tubuh masing-masing mereka saat memeluknya. Perly sangat terkejut mendengarnya. Itu adalah ciri-ciri pengendali dark. Mengapa mereka mengganggu gadis kecil ini? Perly balas memeluk mereka dari samping untuk menenangkan, juga berusaha untuk tetap tenang. "Ibu dan ayahmu tidak tau tentang ini?" tanya Perly. Mereka dengan serentak menggeleng, "Tidak. Kami tidak berani menceritakannya," jawab Glo. "Kenapa? Bukankah kalian takut pada orang itu? Seharusnya kalian menceritakannya pada Ibu dan Ayah agar mereka bisa menjaga kalian," ucap Perly. Vio mengangkat kepalanya, "Apa ayah dan ibu akan baik-baik saja kalau kami menceritakannya?" tanya Vio. Perly terdiam, dia pun tidak bisa memastikan itu. Di sisi lain, dia khawatir, di sisi lain, dia merasa takjub dengan dua anak ini. Begitu berani memendam rasa takut dan hal bahaya ini dari kedua orangtuanya hanya karena mereka tidak ingin kedua orangtuanya terkena masalah. "Sudah berapa lama kalian melihatnya?" tanya Perly lagi mengalihkan pertanyaan Vio. "Kami baru ke dunia fairy satu bulan yang lalu. Sejak saat itu kami melihatnya," jawab Glo dan Vio mengangguk. Itu berarti sudah lama. Tapi mereka baik-baik saja sampai sekarang. Itu artinya ada yang mereka incar, atau ada yang menjadi penghalang baginya, karena itulah dark itu tidak bisa menyakiti keluarga ini. "Yasudah. Kalian tidur saja, Kakak yang akan membuat orang itu pergi dan tidak mengganggu kalian lagi," ucap Perly tersenyum. Vio dan Glo tersenyum senang, "Benarkah? Kakak akan melakukan itu?" tanya Glo antusias. Perly mengangguk, "Tentu saja. Bukankah kalian anak yang baik? Dan kalian juga cantik," ucapnya tertawa pelan. Vio dan Glo memeluk Perly erat seperti sedang berterimakasih, begitupun Perly yang balas memeluk mereka. "Ayo tidur. Kalau kalian bisa tidur, Kakak akan membuatnya pergi malam ini juga," ucapnya lagi. Dengan semangat, mereka berdua mengangguk dan memperbaiki posisi tidurnya, sedangkan Perly masih terduduk menepuk-nepuk punggung Vio dan Glo sambil terus menatap ke arah jendela itu dengan tatapan dingin nan menusuk. • "Kenapa?" tanya Zate. Baru saja Perly ingin membuka suara, namun Tier dengan cepat memegang tangannya dan menoleh ke belakang Perly. "Loh, kalian belum tidur? Apa tempatnya tidak nyaman? Maafkan bibi. Bibi tidak bisa memberi kalian tempat yang nyaman," ucap bibi merasa tidak enak hati. Mereka dengan cepat menggelengkan kepala, "Ah, bukan itu Bibi. Tempatmu sangat nyaman. Kami terbiasa bercerita dulu sebelum tidur, jadi jangan berkata seperti itu," jawab Marta cepat dan mereka semua mengangguk. "Baguslah. Bibi pikir kalian merasa tidak nyaman," ucap bibi tersenyum lega. Matanya kemudian melirik Perly, "Kamu bukannya tadi tidur di kamar Vio dan Glo?" tanyanya menunjuk Perly. Perly mengangguk sambil tersenyum, "Iya, Bibi. Tapi aku tidur disini saja bersama mereka. Atau mereka akan marah padaku karena aku tidur di tempat tidur sedangkan mereka tidur di lantai. Bibi tidak tau saja, mereka sangat kejam padaku," ucap Perly membuat Befra memukul pelan lengannya sedangkan bibi tertawa pelan. "Ah, ya, Glo dan Vio juga sudah tertidur tadi," lanjutnya dan bibi itu mengangguk. "Terimakasih karena sudah menemani mereka, mereka tidak biasanya bersikap seperti itu. Maaf karena mereka merepotkanmu," ucap bibi lagi. Perly menggerakkan tangannya seolah berkata tidak, "Ah, tidak apa Bibi. Lagi pula aku juga menyayangi mereka. Rasanya aku ingin mengangkat mereka menjadi anakku saja," jawab Perly tersenyum lebar. "Kau ini ...!" geram Marta menatap Perly dengan mata melotot. "Jangan dianggap serius Bibi. Mulutnya memang seperti ini," ucap Tier pada bibi. "Hahaha tidak masalah. Glo dan Vio juga terlihat menyukainya. Sepertinya kamu akan cocok menjadi seorang ibu," jawab bibi terkekeh pelan. "Jadi, Bibi mengizinkan aku menjadi ibu mereka?" tanya Perly cepat membuat Befra kembali memukulnya pelan. "Berhentilah mempermalukan kami ...!" ucap Anta menatap tajam pada Perly. Bibi hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah mereka, "Bibi akan ke dapur." Bibi itu berlalu dan mereka hanya mengangguk. "Astaga, ingin kubuang saja rasanya anak ini," ucap Anta menatap sinis pada Perly. Alis Perly menukik, "Apa salahku? Toh, bibi tidak mempermasalahkannya. Kau saja yang terlalu serius," jawabnya yang hampir saja membuat Anta memukulnya jika Zate tidak menahannya. "Sudahlah, kalian ini tidak pernah berhenti bertengkar," ucapnya. Tak berselang lama, bibi kembali dari dapur dan masuk ke dalam kamarnya. "Oke, mari kita serius kali ini," ucap Tier setelah memastikan kalau bibi sudah tidur kembali, "Jadi ada masalah apa dengan kedua anak itu?" lanjutnya menatap Perly. "Sebelum itu aku ingin bertanya. Apakah ada hal yang membuat Pengendali Dark tidak bisa menyerang pengendali lainnya?" tanya Perly menatap mereka semua bergantian. "Kelemahan Pengendali Dark hanyalah lautan, karena mereka tidak mempunyai ekor," ucap Marta. "Bukan di laut, maksudku di daratan. Apakah ada yang membuat mereka tidak bisa menyerang pengendali di daratan?" tanya Perly memperjelasnya. "Pengendali Dark tidak akan menyerang pengendali yang mempunyai jantung yang membeku total," jawab Tier. "Dan juga mereka tidak dapat mengalahkan seseorang yang mempunyai kekuatan sempurna," lanjut Befra. "Apakah anak kecil sudah memiliki kekuatan?" tanya Perly lagi. "Ya mereka punya, tapi mereka sama sekali belum bisa menggunakannya, sampai mereka berusia 7 tahun." Kali ini Zate yang menjawab. Perly terdiam sejenak, "Berarti Vio dan Glo mempunyai jantung yang membeku total," gumam Perly pelan. "Memangnya kenapa kamu menanyakan itu? Apa ini ada hubungannya dengan kedua gadis itu?" tanya Anta pada Perly. Sebelum menjawab, Perly memperbaiki posisi duduknya, mencari posisis agar merek dapat mendengarnya dengan baik, "Kalian tau? Glo dan Vio sudah satu bulan melihat Pengendali Dark dari balik jendelanya, dan sampai sekarang mereka baik-baik saja. Bahkan mereka tidak menceritakan ini pada orang lain selain aku. Apa kalian tidak merasa ada yang janggal dengan itu?" jelas Perly. "Jadi Vio dan Glo mempunyai jantung yang membeku total?" tanya Befra dengan ekspresi terkejutnya. "Itulah yang aku simpulkan," ucap Perly. "Pengendali seperti itu sangat langka, dan itu sangat jarang terjadi," ucap Anta diangguki Zate, "Iya. Ayahnya pasti seorang Froz, karena kita sudah melihat sendiri ibunya adalah Snow. Bukankah hanya keturunan Froz yang menikah dengan Snow yang mempunyai keistimewaan seperti itu?" ucap Zate memberi pernyataan. "Tapi walaupun begitu tetap saja hal seperti itu sangat langka," timpal Marta. "Benar. Tapi itu adalah keuntungan bagi mereka. Mereka tidak akan diganggu oleh Dark," ucap Tier dan mereka mengangguk. "Tapi kenapa Dark tidak bisa menyerang mereka?" tanya Perly. "Jika Dark menyerang mereka maka dengan otomatis es yang ada di jantung mereka akan mengalir pada jantung Dark dan membuat mereka hancur. Itulah yang mereka takutkan," jelas Tier dan Perly mengangguk. "Sebenarnya mereka tidak takut akan hal itu. Tapi pendahulu mereka, yang membuat mereka terlahir, dulunya terkena serangan dari pengendali Froz yang es-nya tepat mengenai jantungnya. Ingatkah dulu aku pernah menceritakan tentang pendahulu yang menulis buku takdir itu? Begitulah cerita awal nya," ucap Marta memperjelas. "Begitu rupanya ...," ucap Perly mengangguk pelan. "Tapi kita harus melakukan sesuatu untuk tetap melindungi rumah ini. Walaupun mereka tidak dapat menyakiti kedua anak itu, mereka akan tetap mengincarnya. Apalagi orang tua mereka tidak mempunyai pelindung apa-apa," ucap Anta diangguki oleh mereka semua. "Tunggu dulu." Perly mengintruksi, "Mereka tidak bisa menyerang pengendali yang memiliki jantung seperti itu, lalu kenapa dark itu masih mengincar Glo dan Vio?" tanyanya. Tier menghela nafas, "Mereka memang tidak bisa menyerangnya, tapi mereka akan sangat mudah mempengaruhinya. Dan akan sangat menguntungkan bagi Dark jika Glo dan Vio menjadi pengikut Dark. Kekuatan mereka akan menjadi kelemahan bagi pengendali selain Dark," jelasnya. Itu artinya, bukan Glo dan Vio yang berada dalam bahaya, tapi semua pengendali berada dalam bahaya jika mereka berhasil mempengaruhi dua gadis kecil itu, "Lalu apa yang harus kita lakukan?" tanya Perly. "Satu-satunya cara, kita harus melindungi rumah ini dengan perisai pengendali. Kita bisa menggabungkan kekuatan untuk membuatnya," ucap Befra. "Tapi itu akan membuat kekuatan kita menipis," sanggah Zate. "Tapi kita tidak mempunyai cara yang lain. Kita masih bisa memulihkan kekuatan kita, tapi mereka bisa saja mati di serang oleh Dark itu. Kita tidak mungkin membahayakan keselamatan pengendali lainnya, " ucap Perly membuat Zate menghembuskan nafas panjang. "Aku setuju dengan Befra. Keselamatan mereka juga merupakan bagian dari perjalanan kita. Kita tidak boleh mengabaikannya," lanjutnya lagi. "Baiklah, kita tidak punya pilihan lain lagi. Besok akan kita lakukan. Sekarang kita harus istirahat untuk meningkatkan kekuatan kita," ucap Tier dan mereka mengangguk. Lalu mereka semua mengambil posisi untuk tidur. Berharap saat pagi tiba kekuatan mereka bisa cukup untuk membuat perisai. •
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN