Number 32

3398 Kata
Matahari pagi belum menampakkan diri. Bahkan gelap malam masih terasa, tapi ke enam remaja itu kini sudah berada di depan rumah salah satu pengendali snow yang mereka tempati. Berdiri dengan terus menatap ke dalam rumah itu. "Apakah ada cara untuk kita tetap membuat perisai tapi tidak perlu mengeluarkan kekuatan yang banyak?" tanya Perly tanpa menatap mereka. "Ada. Aku sempat membaca buku takdirku tadi malam. Di sana tertulis 'lakukanlah secara bersama jika kekuatanmu sempurna. Itu akan membuat semuanya menjadi mudah. Dan lakukanlah bertahap jika kekuatanmu menipis, itu juga akan membuat semuanya menjadi mudah' itulah yang aku baca," jelas Marta. Mereka semua mengangguk mengerti, "Berarti kita harus melakukannya bergantian," ucap Zate diangguki Marta. Namun mungkin tidak dengan Perly, "Bertahap?" tanya Perly bingung. "Ya, kekuatan bertahap. Itu sama artinya dengan kita mentransfer kekuatan kita. Tapi ini secara bersama," jelas Befra. "Apakah cara itu bisa kita lakukan?" tanya Perly lagi. "Aku rasa itu lebih baik. Kekuatan kita tidak akan terkuras banyak jika dibandingkan kita melakukannya serentak," jawab Anta. Perly mengangguk tanda mengerti, apapun nanti resikonya, mereka pasti bisa menghadapinya bersama, "Baiklah. Ayo kita lakukan," ucapnya mantap. "Aku yang akan memulainya. Lalu Marta, Zate, Befra, Anta dan Perly yang terakhir. Kami berlima akan mengelilingi rumah ini dan kamu Perly, kamu berada di dalam rumah tepat di tengah-tengah rumahnya," jelas Tier memberikan arahan. "Bagaimana aku bisa tau kapan giliranku membuat perisai?" tanya Perly. "Tumpukan telapak tanganmu di lantai. Saat lantai di bawah telapak tanganmu bersinar, pejamkan matamu dan fokuslah untuk membuat perisai," jelas Zate dan Perly mengangguk mengerti. "Ayo." Intruksi Perly. Mereka berlima menyebar ke sekeliling rumah, sedangkan Perly kembali masuk ke dalam rumah dan berdiri tepat di tengah-tengah rumah. Lalu melakukan apa yang Zate jelaskan padanya tadi. Dia hanya menunggu cahaya muncul dari bawah telapak tangannya dan dia akan memulainya. Perly dapat melihat cahaya dari luar rumah itu, cahaya dengan berbagai warna. Tak lama setelah itu, cahaya terang muncul di bawah telapak tangannya membuatnya dengan segera memejamkan matanya, memfokuskan pikiran untuk membuat perisai. "Tolonglah aku. Tolonglah mereka juga. Tolong kami semua. Kumohon, tolonglah." batin Perly saat dia mulai merasakan kekuatannya akan habis. Saat dia akan terjatuh, tiba-tiba ada sebuah tangan menahan bahu kanan dan kirinya. Perly tidak dapat melihatnya, namun dia bisa merasakan kekuatannya kembali, dan semakin bertambah. Tak lama setelah itu, cahaya itu menghilang pertanda perisai yang mereka buat sudah selesai. Nafas Perly terengah-engah, dan langsung menoleh ke belakangnya namun tidak ada siapapun di sana. Lalu siapa yang menolongnya tadi? Pikirnya. Perly masih tenggelam dalam pikirannya, tak sadar jika teman-temannya sudah berada di dekatnya, "Perly, kamu tidak apa-apa? Jantungmu tidak terasa sakit bukan?" tanya Marta saat sudah sampai di dekat Perly. Perly terlihat tidak fokus, namun masih bisa menjawab, "Tidak. Aku tidak merasakan sakit apa-apa," jawab Perly pelan. "Sama, aku juga tidak merasakan apa-apa. Seperti kekuatanku tidak berkurang sama sekali," ucap Befra diangguki yang lainnya. "Aku juga merasakan seperti itu," ucap Zate. "Ya, aku juga," timpal Anta. "Aku rasa kita semua merasakan hal yang sama," ucap Tier diangguki semuanya. "Apa ini ada hubungannya dengan orang yang tadi menolong ku?" batin Perly bertanya. Perly menatap mereka bergantian, "Apa kalian merasa ada orang yang menolong kalian? Seperti menyalurkan kekuatannya pada kalian?" tanyanya Merka terdiam sejenak, sampai secara bersamaan, mereka mengangguk, "Ya, aku merasakan nya," jawab mereka serentak membuat mereka saling tatap satu sama lain. • "Kalian juga?" tanya Marta menatap teman-temannya satu persatu dan mereka mengangguk mengiyakan. Cukup terkejut juga mereka dengan kenyataan ini. "Aku pikir hanya aku saja," ucap Anta. "Tapi kenapa kamu bertanya? Apa kamu juga mengalaminya?" tanya Zate pada Perly. Perly mengangguk, "Ya, ada dua orang yang memegang bahuku. Tapi aku tidak bisa melihat wajahnya," jawabnya kemudian. "Aku juga tidak melihat wajahnya. Tapi aku melihat warna pakaiannya. Dan kalian tau? Warnanya, alas yang dia pakai, sama dengan yang aku gunakan," ucap Tier membuat semuanya terkejut. "Kalau begitu kita sama. Aku juga sempat melihatnya sekilas, dia seorang gadis memakai sepatu yang sama sepertiku," timpal Befra. Dari pernyataan itu, Anta berucap lain lagi, "Tapi aku hanya merasakan seseorang, bukan dua orang," ucap Anta yang ternyata diangguki yang lainnya selain Perly tentunya. "Ya aku juga," ucap Marta mewakili kata setuju itu. Hal itu membuat Perky berpikir. Itu sedikit aneh. Sepertinya, mereka bisa melupakan kalau di dua menit terakhir, mereka hampir saja tak sadarkan diri karena kehabisan kekuatan. "Siapa sebenarnya mereka? Mereka langsung menghilang begitu saja setelah perisainya selesai," ucap Perly. Otaknya memutar balik pada saat mereka akan memulai memasang perisai tadi. Di ingat baik-baik, adegan mana yang dia lupakan. Hingga sesaat kemudian matanya melotot, mengingat satu adegan yang baru saja dilupakannya. Dia berseru, "Aku tau!" Mereka semua terkejut, dengan Tier yang langsung meletakkan jari telunjuknya di bibir. Mengintruksi Perly untuk diam. Gadis hyper aktif ini seperti lupa kalau dirinya berada di mana. Bagaimana kalau bibi dan dua gadis kecil itu tiba-tiba terbangun? Alasan apa lagi yang akan mereka gunakan? Perly menutup mulutnya, menoleh ke belakang, mewanti-wanti kalau pintu kamar bibi terbuka. "Apa yang kau tau?" tanya Marta setelah memastikan semuanya aman. "Tadi aku merasa kekuatanku akan habis. Dan aku meminta kepada seseorang untuk menolongku dan menolong kita semua. Apa itu ada kaitannya dengan orang-orang itu?" tanya Perly berbicara dengan suara normal. Mereka mengangguk-angguk, kini semuanya sudah berada di titik terang. "Itu bisa saja. Tapi siapa kira-kira yang menolong kita?" Zate balik bertanya. Pertanyaan itu yang membuat mereka kembali berpikir, memutar otak untuk mencari kemungkinan siapa kiranya sosok misterius itu. Sampai ada satu yang terlintas di pikiran Tier, membuatnya segera menatap mereka bergantian, "Apa mungkin pendahulu di generasi pertama itu?" tanya Tier. • "Apa kamu akan terus menatapnya tanpa ingin membantunya?" tanya gadis memakai pakaian biru tua pada gadis emas yang ada di depannya. "Bukankah aku akan meminta jika aku memang memerlukannya? Jika aku sanggup aku akan melakukannya sendiri," jawabnya sambil terus menatap ke enam pengendali yang sedang membuat perisai itu. Mereka melakukan hal yang sama. Bedanya, gadis emas itu tampak tenang, sedangkan pengendali yang lainnya tampak gelisah. Ingin berbuat semaunya, itu tidak bisa. Meski status persahabatan mereka tak bisa diragukan lagi, itu tak menjadi tolak ukur untuk mereka bisa mengabaikan perintah dan berbuat sekehendak hati. "Lihatlah, kekuatan mereka akan habis," ucap pria memakai pakaian berwarna coklat. Si gadis emas masih tersenyum, "Percayalah pada diri kalian sendiri. Dia diam berarti dia bisa melakukannya sendiri. Kita lihat saja dulu," jawab gadis emas lagi dan mereka hanya bisa mengangguk menuruti. Tak banyak yang tau. Atau bahkan tidak akan ada yang tau bahwa dirinya lebih cemas dari siapapun. Dirinya lebih berharap, sesuatu bersifat kata tolong, segera keluar dari mulut Perly agar dia segera membantu. Sungguh, tidak akan ada yang tau hal itu. Hanya dirinya. "Tolong aku. Tolong mereka juga. Tolong kami semua. Tolonglah," Suara itu menggema di pendengaran mereka. Mereka segera mengalihkan tatapan. Menjadikan gadis emas itu satu-satunya atensi di pandangan. Seakan tatapan itu mengisyaratkan kata siap untuk menerima perintah. "Kamu masih ingin membiarkannya?" giliran gadis perak yang bertanya. Gadis emas tersenyum, dalam hati dia mengucap syukur dan terimakasih pada Perly yang akhirnya mengucapkan kata yang dia nanti sedari tadi, "Bantulah. Bantu diri kalian," ucap gadis emas itu akhirnya. Tujuh orang dari mereka mengepakkan sayapnya dan turun di masing-masing sisi ke enam pengendali itu. Menyalurkan kekuatan mereka untuk membantu. Dan kembali terbang, menghilang saat perisai itu sudah selesai terbuat. Alasannya? Hanya tak ingin membuat mereka terlalu cepat mengetahui yang sebenarnya. "Ke mana kalian akan pergi?" tanya bibi pada Perly dan yang lainnya. "Kami belum tau tujuan kami. Tapi, terimakasih telah memperbolehkan kami untuk bermalam di tempatmu," ucap Tier menundukkan kepalanya begitupun yang lainnya. "Tidak masalah. Aku senang bisa membantu kalian," jawab bibi tersenyum. "Apa Kakak akan kembali?" tanya Glo pada Perly. Perly menatap gadis kecil itu, juga Vio yang berada di samping Glo, "Kita pasti akan bertemu lagi nanti," jawab Perly tersenyum menyamakan tingginya dengan mereka. "Kakak Berjanji?" Vio dan Glo sama-sama mengajukan jari kelingkingnya pada Perly. Ah, rasanya Perly tidak akan berhenti tersenyum jika di dekat mereka berdua. Tidak menjawab, Perly malah mendekatkan pipinya, menunjuk masing-masing pipinya pada mereka berdua, "Cium saja pipi Kakak. Itu akan lebih baik dari pada mengaitkan jari kelingking," ucapnya. Kedua gadis itu tersenyum dan langsung mencium pipi Perly sekilas membuat Perly tertawa geli. Mereka anak yang baik dan penurut. Hah ... jika dirinya kembali bertemu dengan Zack dan juga mereka berdua nantinya, Perly berjanji akan menjodohkan salah satu gadis ini dengan Zack. Yaa ... tidak memaksa juga, hanya jika mereka mau. Perly menggeleng pelan. Astaga, apa-apaan pikirannya itu? Perly balas mencium pipi mereka bergantian lalu memeluknya, "Kakak sudah mengusir orang jahat itu. Jadi kalian tidak perlu takut lagi, oke," ucap Perly berbisik. Dapat Perly rasakan kalau mereka berdua tersentak kaget, lau secara tiba-tiba, mereka kembali mencium pipi Perly dengan tersenyum lebar membuat Perly dan yang lainnya terkekeh. Mungkin itu cara mereka menyampaikan rasa terimakasihnya. Perly menegakkan tubuhnya, mengusak pelan rambut mereka, "Kakak pergi ya, Sayang. Kalian jaga diri, jaga Ibu dan Ayah, oke?" Dan mereka ngangguk semangat menanggapi. "Gadis pintar," puji Perly. "Sepertinya mereka nyaman denganmu," ucap Zate pada Perly. "Sudah kubilang,, mereka sudah seperti anakku," jawab Perly terkekeh. "Yasudah Bibi, Vio dan Glo. Kami pergi dulu. Kami akan berkunjung lagi jika ada kesempata," ucap Perly sudah berdiri di samping para sahabatnya. Mereka semua menunduk, begitupun Glo, Vio dan bibi yang menundukkan kepalanya. "Kami permisi," ucap mereka serentak. Perly melambaikan tangannya pada Vio dan Glo, begitupun kedua gadis itu yang juga melambaikan tangannya pada Perly. • "Kamu yakin perisai itu dapat menghalangi penglihatan mereka?" tanya Perly saat mereka sudah jauh dari rumah itu. "Ya aku yakin. Perisai yang kita buat berlapis, jadi, itu akan menjadi penghalang bagi penglihatan Dark," jawab Tier dan Perly hanya mengangguk. "Lalu ke mana kita akan pergi sekarang?" tanya Befra pada mereka. "Ke mana lagi kalau bukan mencari kesatria Snow. Itu daerah terdekat saat ini," jawab Anta cepat. "Aku juga tau itu. Maksudku, ke mana kita akan mencarinya?" ucap Befra lagi memperjelas pertanyaannya. "Satu-satunya tanda pengenal adalah kalung yang dia pakai. Jadi kita harus memperhatikan setiap orang yang memakai kalung dengan lambang Snow," ucap Marta. "Mengenai kalung itu, apakah tidak ada yang mengetahui kalau itu adalah kalung pengenal kesatria?" tanya Perly. "Tidak. Yang tau bentuknya seperti apa, ya hanya mereka yang mempunyai buku takdir. Walaupun semua pengendali melihatnya mereka tidak akan tau fungsinya untuk apa," jawab Zate. Gadis itu mengangguk beberapa kali sebelum menadahkan tangannya pada Zate, "Kalau begitu aku mau meminjam bukumu. Aku belum tau bentuk kalung kesatria Snow seperti apa," ucap Perly. Tanpa dipinta dua kali, Zate langsung mengeluarkan buku takdir yang berwarna kuning itu dan memberikannya pada Perly. Gadis itu akan rewel jika kemauannya tidak segera dituruti. Persis seperti anak kecil yang tidak diberi mainan. Dengan antusias tinggi, Perly menerima buku itu. Terpampang jelas di sampul bagian depan buku itu terdapat lambang pengendali lighting, gambar matahari. Dia kemudian memejamkan matanya dan tak lama buku itu terbuka dengan sendirinya. Sesuai dengan apa yang dia inginkan. "Sepertinya semakin lama aku semakin pintar," ucapnya tersenyum lebar. "Biarkan saja. Sesekali jangan ganggu dia," ucap Anta pada Marta yang ingin membalas ucapan Perly, "Dia begitu senang dengan dunianya. Cukup perhatikan saja," lanjutnya. Marta kembali menutup mulutnya dan mengangguk. Benar juga. Bukan masalah besar membiarkan Perly dengan dunianya sendiri. "Apa kalian tau dia seorang pria atau wanita?" tanya Perly berbalik menatap mereka semua dan berjalan mundur. "Tidak. Dan aku rasa itulah salah satu tantangan kita dalam mencarinya," jawab Befra dan Perly hanya mengangguk mengerti. "Sebaiknya kamu fokus pada jalan di depanmu, Perly," ucap Tier membuat Perly kembali berbalik dan berjalan normal. Apa gadis itu tidak takut tersandung batu jika berjalan seperti tadi? Pikir mereka. Hah ... selain mencari para kesatria, sepertinya mereka mempunyai pekerjaan extra, yaitu memperhatikan Perly. Jika bisa dilebih-lebihkan, gadis itu sepertinya akan cepat terbunuh dengan kecerobohannya sendiri. "Tapi aku yakin dia adalah seorang wanita," ucap Perly lagi dengan terus berjalan, masih fokus pada buku bacaan di tangannya. Dalam hal fokus, Perly memang tak bisa diragukan, tapi Perly dan fokus bukanlah hal baik untuk disatukan, apalagi sedang berjalan. Anak itu tak akan ingat sekitar jika sudah fokus. "Kenapa kamu begitu yakin?" tanya Marta. Perly berbalik, dan kembali berjalan mundur. Dia mengangkat buku itu, di lembar di mana sedang menampilkan gambar kalung pengendali snow, "Kalung ini cantik. Sangat cocok dipakai oleh seorang wanita. Aku sangat tau mana kalung untuk wanita dan kalung untuk pria," jawabnya menjelaskan. "Perly, perhatikan jalanmu," ucap Zate memperingati. Yang diperingati hanya menoleh ke bawah sebentar lalu kembali berjalan menatap Marta, "Jika kau tidak percaya. Perhatikan saja kalung yang dipakai mereka. Bayangkan jika Befra memakai kalung Anta. Pasti sangat tidak--" "Perly di belakangmu!" pekik Zate. Zate dengan cepat berlari bagai kilat dan kini sudah berada di depan Perly menarik tangan Perly sehingga Perly tidak jadi terjatuh. Gadis itu terkejut, segera berbalik, menemukan seorang ana kecil yang hampir saja ditabrak badan kurusnya jika Zate tidak mengambil tindakan, "Maaf tampan, Kakak tidak sengaja," ucapnya. Anak kecil itu mengangguk dan berlalu dari hadapan mereka semua. Sedikit terkejut juga sebenarnya. Perly menghela nafas lega. Hampir saja, pikirnya. "Tidak bisakah kau berjalan dengan hati-hati? Kau hampir saja terjatuh!" omel Zate pada Perly, yang membuat gadis itu sedikit menciut. Zate yang marah ternyata bukan hal yang bagus. Pemuda itu langsung mengambil buku di tangan Perly, kembali menyimpannya dengan tatapan tajam tak lepas dari Perly, "Sudah. Jangan baca lagi dan berjalanlah di sampingku," katanya, "Jangan membantah! Kau itu harus dibeginikan dulu baru mau menurut. Kau itu senang sekali dengan bahaya," lanjutnya menggerutu, melingkarkan tangan di pinggang ramping Perly Perly mengerucutkan bibir dan hanya bisa menurut untuk berjalan di samping Zate dan Marta. Sama sekali tidak bisa membatah atau membela diri. Jika saja yang melakukan ini adalah Anta, sudah dipastikan dia akan menginjak keras kaki laki-laki itu. Tapi ini Zate. Baginya, Zate itu sama dengan Tier. Kakak tertua yang dapat mengontrol dirinya. "Lain kali cobalah untuk mendengarkan orang lain. Jangan membantah," ucap Marta berbisik di samping Perly Perly hanya menoleh dan memberikan tatapan tajamnya pada Marta lalu kembali menatap lurus ke depan memasang wajah cemberut. "Ternyata dia bisa menurut juga," ucap Anta terkekeh melihat tingkah Perly. "Hanya pada Zate, tak tau jika yang tadi itu dirimu. Mungkin dia sudah mengusirmu," ujar Tier yang hanya di balas kekehan lagi oleh Anta Yaa ... tak dapat dipungkiri kalau Perly dan dirinya tak akan jauh dari kata bertengkar jika sudaj didekatkan. • Jauh di depan sana, air terjun berwarna putih dan dingin seperti es itu dengan derasnya turun dari atas bebatuan, sumber mata air, kalau kata mereka. Di bawahnya juga terbentuk seperti sungai yang sama dengan yang ada di air terjun plants. Hanya saja bedanya, air itu seperti bongkahan-bongkahan es raksasa yang mencair. Hawanya saja sampai terasa di tempat Perly dan yang lainnya berdiri saat ini. "Jadi itu air terjun Froz?" tanya Perly. "Iya. Dinginnya sudah terasa bukan?" Tier balik bertanya dan Perly mengangguk. "Berarti air itu juga menjadi racun bagi Pengendali Dark?" tanyanya lagi. "Bagaimana kamu tau?" tanya Befra menatap Perly. Gadis itu mengedikkan bahu, "Hanya menerka. Kalian yang mengatakan kalau Pengendali Dark takut jika jantungnya membeku. Bukankah air itu bisa membuat siapa saja membeku kecuali pengendali Froz dan Snow." jelas nya santai tanpa menatap Befra. "Hah ... kamu bertambah pintar," ucap Zate tersenyum dan menepuk puncak kepala Perly yang mana mendapat penolakan dari gadis itu. Perly menatapnya sinis membuat zate mengangkat satu alisnya bertanya, "Jauhkan tanganmu! Aku masih marah padamu!" ketusnya membuat Zate dan yang lainnya malah terkekeh. Si kecil sedang marah ternyata. Ya sudah, biarkan saja. Sebentar lagi juga akan kembali baik dengan sendirinya. Seakan baru teringat sesuatu Perly kembali menoleh pada Zate, "Eh Zate, apa tidak apa bagimu di sini terlalu lama?" tanya Perly See? Dalam hitungan detik, gadis ini sudah melupakan kata marah dalam kalimatnya tadi. Ajaib sekali Zate tetap menjawab, "Maksudmu karena aku adalah seorang Lightning?" tanya Zate dan Perly mengangguk cepat. "Itu tidak berpengaruh bagiku. Jika aku seorang Fire, baru aku akan melemah. Kamu lupa kalau sinar dari matahari pengendalikulah yang menerangi mereka," jelas Zate. "Aku pikir elemen kalian juga berlawanan," gumam Perly. "Yasudah ayo kita pergi dari sini. Dari tadi yang kita lakukan hanya membuang waktu," ucap Anta dan mereka hanya mengangguk menyetujui. Mereka kembali berjalan. Kali ini mereka pergi menuju tempat di mana pengendali Snow banyak berkumpul. Namun mereka tetap saja tidak menemukan satu pengendali pun yang memakai kalung yang mereka cari. "Lebih baik kita beristirahat sebentar baru kita lanjutkan lagi nanti," ucap Zate memberi usulan. "Ayo kita duduk di pondok itu," tunjuk Befra pada salah satu pondok yang kosong di sana. Mereka semua berjalan menuju pondok dan duduk di sana. Benar-benar suasana sejuk yang sesungguhnya. "Apa di sini tidak ada danau?" tanya Perly pada mereka semua. "Kamu tidak melihat danau besar itu?" tanya Anta menunjuk sebuah danau yang cukup besar berada tak jauh dari tempat mereka duduk, "Kamu mengalami masalah dengan penglihatanmu ya?" lanjutnya membuat Perly berdecak kesal. "Jadi, itu salahku jika aku tidak melihatnya? Jika kamu tidak mau memberitahu jangan menjawabnya! Menyebalkan!" Menatap Anta sinis. Perly lalu bangkit dari duduknya. "Ternyata kau sangat mudah tersinggung ya. Apa kau akan pergi untuk menghindariku karena aku mencelamu tadi?" tanya Anta yang melihat Perly bersiap akan pergi dari sana. Kembali memberi tatapan sinis pada Anta, "Aku akan mencuci wajahku agar tidak terlalu panas menatap wajahmu yang menjengkelkan itu," ucapnya ketus lalu dengan cepat pergi dari sana. Anta terkekeh pelan melihat tingkah Perly, "Dia mempunyai begitu banyak ekspresi," gumam Anta. "Ya karena itulah aku suka menjahilinya," ucap Marta yang mendengar gumaman Anta. "Tak hanya tentunya. Aku lebih suka membuatnya kesal," ujar Anta kembali terkekeh. "Aku rasa dia benar tentang ucapannya bahwa, dia yang mempunyai banyak kakak sekarang. Aku merasa kalau aku benar-benar memperlakukannya seperti seorang adik, bukan teman," ucap Tier tersenyum menatap Perly yang semakin menjauh. "Aku juga merasakan hal yang sama saat mengkhawatirkannya," timpal Zate. "Lihatlah sekarang tingkahnya seperti anak kecil berumur lima tahun yang sedang marah pada orang tuanya," ucap Befra yang melihat Perly menendang sebuah batu dan kemudian kakinya yang kesakitan terkena batu itu. Mereka semua tertawa kecil melihatnya. Tingkah Perly benar-benar seperti tumbuhan energi, rasanya rasa lelah mereka berangsur hilang melihat tingkahnya yang lucu tanpa dibuat-buat itu. Di sisi lain, Perly sudah sampai di tepi danau, berjongkok di sana memandangi wajahnya di dalam air. Perly mengira airnya dingin seperti salju, tapi ternyata suhu airnya sama saja dengan air pada umumnya. Perly mulai mengambil air menggunakan tangannya dan membasuhkannya pada wajahnya. Wajahnya benar-benar butuh air segar ini. Selesai dengan itu, Perly kembali berdiri dan ingin meninggalkan tempat itu. Sebelum sosok gadis yang sedang menyendiri di danau yang sama tak jauh darinya lebih menarik perhatiannya. Gadis itu tampak sedang mencuci buah-buahan yang ada di tangannya. Namun beberapa kali buah itu jatuh ke dalam air, dan dia membiarkannya begitu saja. Raganya memang di sana namun pikirannya entah ke mana. Perly yang tadinya ingin kembali ke pondok, malah berbalik arah ke arah gadis itu. Perly ikut berjongkok di sampingnya dan mengambil satu buah mangga untuk dicuci. Benar, gadis itu sedang melamun. Buktinya, dia sama sekali tidak mengetahui keberadaannya di sini. "Apa kamu mencari buah hanya untuk dibuang begitu saja?" pertanyaan Perly tentunya membuat gadis itu terkejut. Hampir melempar buah yang ada di tangannya jika saja tak menyadari kalau itu seorang gadis pengendali, bukan orang berbahaya. Yaa ... gadis itu tidak akan berpikir aneh-aneh saat melihat wajah imut Perly. Gadis itu hanya menatap Perly sebentar lalu kembali menatap buah yang ada di tangannya "Ke mana buah-buahanku?" gumamnya pelan saat melihat buah yang ada di keranjang yang dia bawa tinggal sedikit. Perly menunjuk buah yang hanyut di danau itu, "Itu. Lihatlah, mereka sudah berenang dengan bebas," ucap Gadis itu mengikuti arah pandang Perly sebelum dia menghembuskan nafas panjang. "Kamu tau? Aku adalah pecinta buah-buahan. Dan aku tidak suka apa yang aku cintai di sia-siakan," ucap Perly lagi. "Aku rasa itu bukan urusanku," jawab gadis itu pelan dan menunduk Perly terkekeh mendengarnya, "Ya itu memang bukan urusanmu. Tapi kamu yang membuang buah-buahan itu. Itulah yang sedang aku bicarakan," jelas Perly lagi. Gadis itu hanya mengangguk tanpa menjawab apa-apa. Perly menghembuskan nafas panjang. Agak sulit memang berbicara dengan orang yang bahkan tidak ingin berbicara "Aku Perly. Namamu?" Perly mengulurkan tangannya. Gadis itu menatap tangan Perly, menatapnya bingung. "Ah, aku lupa. Salamku. Namaku Perly, nama mu?" Perly mengulang ucapannya seraya menunduk sedikit. "Salam. Aku Erlie," jawabnya juga sedikit menundukkan kepala. Namun bukan itu yang menjadi fokus Perly, tapi sebuah kalung yang tiba-tiba menjuntai di lehernya. Perly segera menunjuk kalung itu, "Apa itu milikmu?" tanyanya. Gadis itu mengarahkan penglihatannya pada kalungnya dan mengangguk pelan. "Iya, ini milikmu. Kenapa?" tanyanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN