Number 33

2301 Kata
Perly tersenyum lebar mendengarnya. Berarti tidak salah jika dia memilih untuk menghampiri Erlie. Takdir memang tak selalunya buruk. Baru saja Perly ingin memeluk Erlie, Perly tidak sengaja menjatuhkan keranjang buah yang ada di dekatnya. Membuat Erlie yang ingin menjangkaunya malah terpeleset, untung saja Perly bisa menahan pergelangan tangannya. Kalau tidak, gadis itu sudah terjatuh ke danau sana. Yaa ... meski itu tetap tak apa-apa. Gadis itu hanya akan berubah menjadi mermaid bukan? Itu bukanlah masalah besar. Namun yang menjadi masalahnya sekarang adalah, "Kalung ku!" pekiknya Kalung itu terlepas dari kepalanya dan terjatuh ke dalam danau. Tak ingin kalung itu jatuh lebih dalam, Erlie dengan segera melepaskan tangan Perly dan dengan cepat menceburkan diri ke dalam air untuk mengambil kalungnya yang terjatuh. Beruntung, Perly sedang lengah memandangi kalung itu, jika tidak, Perly akan matia-matian menahannya. "Erlie!" teriak Perly namun percuma karena Erlie sudah lebih dulu menyelam ke dalam sana. Dan semua orang tau, jika Perly, gadis itu sudah pasti tidak akan tinggal diam dengan apa yang di lihatnya, "Aku harus membantunya," gumamnya lalu ikut menceburkan diri ke dalam danau. Di dalam sana Perly bisa melihat Erlie yang terus berusaha untuk berenang dengan cepat sambil terus menggunakan kekuatannya untuk mengambil kalungnya yang jatuh semakin dalam. Siapa yang sangka, danau ini sangat dalam tidak seperti yang ada dipikiran Perly. "Erlie, jangan gunakan kekuatanmu!" teriak Perly lagi namun Erlie tidak mendengarkannya,. Semakin lama kekuatan Erlie semakin menipis, kecepatan renangnya tidak lagi secepat tadi dan mulai berhenti berenang sambil memegangi jantungnya. Hal itu tak luput dari penglihatan Perly, membuat gadis itu semakin mempercepat renangnya dan menahan tubuh Erlie yang sudah tidak sadarkan diri. "Erlie! Bangunlah! Erlie!" Perly menepuk pelan pipi Erlie namun tetap saja Erlie tidak memberikan respon. Perly kemudian melihat ke atas. Dia harus membawa Erlie ke darat lagi, pikirnya. Tak hanya Erlie sebenarnya, dirinya juga kehabisan kekuatan sekaligus energinya yang perlahan mulai terkuras. Namun semuanya dia kesampingkan. Yang dia pikirkan hanyalah, dirinya harus bisa mencapai permukaan dan meletakkan Erlie di sana. Erlie harus segera ditolong. Sampai di atas, Perly langsung meletakkan Erlie di tempat yang aman. Nafasnya terengah. Jika bisa, dia akan menyerah saja jika ini bukan hal yang penting. Dia benar-benar sudah tidak kuat rasanya. Dengan sisa tenaga, Perly memejamkan matanya, "Marta, kamu mendengarku? Jika kamu mendengarku datanglah ke danau sekarang. Bantu gadis yang sedang tak sadarkan diri di sini," batin Perly. "Perly, kaukah itu?" Seseorang menjawabnya saat Perly akan kembali ke dalam danau. Itu suara Marta. "Baguslah kamu mendengarnya. Cepatlah ke sini, jika kalian mencariku, aku ada di dalam danau," jawab Perly kemudian kembali berenang untuk mencari kalung milik Erlie, mengabaikan Marta yang berteriak memanggilnya. "Ada apa?" tanya Befra pada Marta. Raut cemas sangat ketara di wajah gadis earth itu. "Aku mendapat telepati dari Perly," ucap Marta tiba-tiba pada yang lainnya membuat mereka mengalihkan perhatian pada Marta, "Dia menyuruh kita untuk datang ke danau dan menyelamatkan seorang gadis di sana. Ayo cepat," ucap Marta lagi lalu berlari lebih dulu. Yang lainnya hanya mengikuti langkah Marta tanpa ingin bertanya apa-apa lagi. Tak ingin mengulur waktu lebih banyak dengan bertanya hal yang nantinya akan segera mereka ketahui. "Apa mungkin itu gadis yang Perly maksud?" tanya Zate menunjuk seorang gadis yang tergeletak di tepi danau. "Sepertinya iya. Ayo ke sana," ucap Marta dan mereka berlari menuju gadis itu yang tak lain adalah Erlie. "Sepertinya dia kehilangan banyak kekuatan nya," ucap Befra setelah sampai di samping gadis itu. Hanya satu orang yang terlihat tidak peduli dengan gadis ini. Matanya malah mengedar ke segala arah, namun tetap tak menemukan atensi gadis yang dicarinya, memutuskan untuk bertanya, "Lalu di mana Perly?" tanya Anta. Dan dengan bodohnya Marta melupakan adiknya, "Tadi dia mengatakan kalau dia ada di sana, ucap Marta menunjuk pada danau di depannya. Mereka semua langsung berdiri, "Sedang apa dia di sana?" tanya Tier mulai panik. "Dia tidak mengatakan apa-apa lagi selain itu," jawab Marta lagi. "Pasti sedang terjadi sesuatu," ucap Anta langsung saja menceburkan diri ke dalam danau. "Kenapa dia selalu menempatkan dirinya dalam bahaya?" ucap Zate yang bersiap untuk melompat ke dalam danau, menyusul Anta. "Bawalah dia ke pondok. Aku, Anta dan Zate yang akan mencari Perly," ucap Tier yang diangguki oleh Befra dan Marta. Tier kemudian ikut melompat ke dalam danau menyusul Zate dan Anta. "Di mana jatuhnya kalung itu," gumam Perly yang sudah sampai di dasar danau, "Aku yakin kalung itu jatuh tepat di bawah sini," gumamnya lagi sambil terus mencari-cari keberadaan kalung itu. Sampai ketika dia melihat benda berkilau di sebalik bebatuan yang tak jauh dari tempatnya mencari tadi, Perly akhirnya dapat bernafas lega. "Di sini rupanya," ucapnya senang sambil memegang kalung itu. Saat Perly ingin kembali berenang ke permukaan, tiba-tiba saja dia memegangi jantungnya yang mulai terasa sakit. Semakin sakit kala dia bergerak. "Perly!" teriak Anta yang melihat Perly akan terjatuh. Zate yang mendengar teriakan anta, mempercepat renangnya dengan sedikit menggunakan keluatannya sehingga dia dapat dengan cepat menahan tubuh Perly. "Syukurlah kamu datang," ucap Perly hampir tidak sadarkan diri. "Sudahlah. Kamu tidak perlu banyak bicara dulu," ucap Zate lalu menggendong Perly dan kembali berenang ke permukaan. "Ada apa dengannya?" tanya Tier yang baru sampai di hadapan Zate. "Dia juga kehilangan banyak energi dan kekuatan," jawab Zate seadanya menoleh pada Perly yang ada di gendongannya. Tak habis pikir dengan Perly, "Sedang apa dia di dalam sana?" tanya Tier lagi. "Aku rasa dia mencari ini." Anta mengangkat kalung yang sedari tadi Perly pegang. "Bisakah kita tidak mengobrol di sini? Ayo kita bawa dia dulu," ucap Zate dan kembali berenang kepermukaan. "Ayo." Anta hanya mengangguk dan menyusul Zate yang sudah lebih dulu berenang ke permukaan. Zate langsung membawa Perly menuju pondok yang tadi mereka tempati kemudian membaringkan Perly di atas pondok itu bersama gadis yang belum mereka ketahui siapa namanya itu. "Kenapa lagi dia? Apa yang terjadi padanya?" tanya Marta menampakkan raut cemasnya. "Sama dengan gadis itu, dia juga kehilangan banyak kekuatan," jawab Zate. "Sepertinya mereka mencari kalung ini, yang aku tebak pasti ini adalah milik gadis itu," ucap Anta mengangkat kalung berwarna biru muda itu. Mereka mengerti sekarang. "Berarti dia kesatria yang kita cari?" tanya Befra. "Itu bisa saja. Ini sama persis dengan yang ada di buku takdir itu," jawab Anta mengangguk. "Lalu apa yang akan kita lakukan? Kita juga sudah tidak mempunyai air Plants untuk membuat energi mereka kembali," ucap Marta. Tak mendapat banyak pilihan, Zate kemudian memberi usulan, "Aku akan memberikan sinarku pada mereka, setidaknya itu bisa membantu walaupun sedikit," ucap Zate. "Ingatlah untuk tidak menggunakan kekuatanmu terlalu banyak," ucap Tier dan Zate hanya mengangguk. Zate meletakkan telapak tangan kanannya di atas telapak tangan kiri Perly dan telapak tangan kirinya di atas telapak tangan kanan Erlie. Cahaya mulai muncul di antara telapak tangan mereka. Dan Zate kembali menarik tangannya saat dirasa cukup. Wajah pemuda itu memucat, mereka maklum, meski juga khawatir. Kekuatan pemuda itu pasti banyak terkuras. "Aku harap itu bisa membantu mereka," ucap Zate yang diangguki mereka semua. Tak lama setelah itu punggung jari kelingking Perly mengeluarkan cahaya berwarna biru muda dan tergambar lambang pengendali snow di sana. "Ternyata benar, dialah kesatria yang kita cari," ucap Befra senang melihat lambang itu. "Baguslah. Kita tidak perlu susah payah lagi mencarinya," ucap Marta tersenyum. "Lebih baik kita di sini saja, menunggu mereka bangun. Aku rasa pondok ini cukup untuk kita semua," ucap Tier. "Bagaimana kalau Pengendali Dark kembali menyerang kita?" tanya Befra di angguki semuanya. "Ya benar. Apalagi keadaan Perly dan gadis ini sedang tidak baik-baik saja," timpal Zate. "Kita pikirkan itu lagi kalau malam tiba. Aku harap mereka bisa segera sadar sebelum itu," ucap Tier. Ya mereka tidak mempunyai pilihan lain, selain harus tetap berada di sana. Bukankah mereka sangat tidak ingin jika merepotkan orang lain? Begitulah prinsipnya. • Malam kembali menampakkan wajahnya, bulan dan bintang pun sudah sedari tadi menghiasi langit di atas sana. Namun Perly belum juga sadarkan diri. Berbeda dengan Erlie yang sudah sadar ketika mereka semua ingin kembali ke rumah Glo dan Vio untuk bermalam. Dan saat ini mereka sudah berada di dalam rumah Erlie. "Sudahlah jangan menyalahkan dirimu. Hal ini memang terjadi pada Perly ketika dia akan menemukan kesatria," ucap Zate yang melihat wajah Erlie seperti penuh dengan rasa bersalah. Gadis itu bahkan sudah menangis tadi, dan sekarang matanya kembali berair. "Begitukah?" tanyanya pelan. "Ya benar. Sebelum menemukan kami, dia juga mengalami hal yang sama seperti ini. Jadi tenangkan dirimu," jawab Tier. "Memangnya kenapa keadaan kalian jadi seperti ini? Apa hanya untuk mengambil kalungmu itu?" tanya Anta menatap Erlie. "Hanya? Kau bilang hanya? Itu adalah tanda pengenalku, jika kau lupa," jawab Erlie sedikit kesal. "Ya aku tau itu. Tapi tidak bisakah kamu berpikir lagi sebelum menggunakan kekuatanmu? Lihatlah akibatnya sekarang," ucap Anta lagi. "Tak hanya dirimu, tapi Perly hampir tiada karena itu. Kau tidak bisa berpikir ya?" Erlie terdiam mendengarnya. Ya benar, andai saja dia mendengarkan teriakan Perly waktu itu pasti semua ini tidak akan terjadi. Memang, dia memang mendengar teriakan Perly waktu itu tapi dia mengabaikannya. Terlalu fokus pada kalungnya. "Maafkan aku," ucapnya pelan menundukkan kepala. "Anta, sudahlah. Kamu tidak perlu membuat semuanya semakin rumit. Kita hanya perlu menunggunya sadar. Jangan menyalahkan orang lain seperti itu," ucap Befra membuat Anta memutar bola matanya malas. "Jangan dengarkan dia. Mulutnya memang sedikit pedas jika berbicara. Lama-lama kamu juga akan terbiasa dengan itu," ucap Zate menatap Anta sekilas. Tak lama setelah Zate berucap seperti itu, Perly melenguh pelan. Semua tatapan kini tertuju padanya. Melihat bagaimana Perly mulai mengerjapkan matanya dan mulai membuka matanya perlahan. "Baguslah kau sudah sadar," ucap Befra senang. "Di mana ini?" tanya Perly bingung melihat sekitarnya. "Kamu ada di rumahku," jawab Erlie. Perly mengalihkan pandangannya ke samping kanannya. Di sana Erlie menatapnya dengan tersenyum membuat Perly ikut tersenyum. Menegakkan badan, di bantu oleh Erlie dan Befra yang ada di masing-masing sisinya, lalu egera dia rengkuh gadis itu masuk ke dalam pelukannya, "Syukurlah kau baik-baik saja," ucapnya membuat air mata Erlie kembali jatuh. "Maafkan aku," lirihnya dipelukan Perly. Mengurai perlukan itu, menghapus jejak air mata di pipi Erlie, "Tidak masalah," jawab Perly masih menunjukkan senyumnya. "Sepertinya kamu belum menjawab pertanyaanku kemarin," ucap Perly menatap Erlie yang kini memasang wajah bingung, "Kamu bertanya padaku?" tanyanya menunjuk dirinya sendiri. Perly menganggukkan kepalanya. "Apa yang membuatmu begitu terlihat tertekan? Itulah yang aku tanyakan. Apa aku masih belum boleh mendengarnya?" tanya Perly. "Ah, yang itu rupanya," gumamnya pelan. Dia menghembuskan nafasnya pelan, "Aku hanya memikirkanmu. Aku berpikir apakah kamu benar-benar akan datang dan membawaku pergi bersamamu? Atau aku akan tetap terus berada di sini tanpa melakukan apa-apa," jawabnya. "Memangnya kenapa? Kamu tidak menyukai daerahmu sendiri?" tanya Befra membuat Erlie menggeleng, "Bukan. Hanya saja aku tidak tahan melihat Dark yang bisa leluasa ke sana ke mari di sini dan menangkap pengendali yang dilihatnya. Dan bagian terburuknya adalah aku yang tidak bisa berbuat apa-apa untuk mencegah itu semua," jelasnya lagi. Sebenarnya tak hanya Erlie, mereka semua juga merasakan hal yang sama dengan apa yang Erlie rasakan. Namun bagaimanapun mereka membuat semuanya kembali seperti dulu, tetap saja itu tidak akan bisa. Takdir yang membuat semuanya tidak akan bisa. "Apa aku menjadi beban bagi kalian semua?" tanya Perly membuat mereka semua menatapnya, "Maksudku. Bertahun-tahun kalian mengalami hal semacam ini, melihat bahaya di depan mata kalian sendiri, dan menungguku yang kalian sendiri tidak tau aku akan datang atau tidak. Aku rasa itu adalah bagian terberatnya," jelasnya menatap mereka semua. "Kalau kami menganggapmu beban kami, kami tidak mungkin mengeluarkan tenaga dan kekuatan untuk selalu membantumu. Bukankah takdir juga membuat kami untuk selalu membantumu? Jadi aku rasa hal semacam itu tidak perlu menjadi beban pikiranmu," jawab Tier bijak. Perly tersenyum tipis mendengarnya. Kalimat penenang yang lebih halus. Itu lebih menyakitkan dari pad ucapan frontal yang mereka sampaikan secara labgsung. Ucapan itu seolah memaksa untuk berpikir bahw apa yang dia pikirkan itu benar adanya. "Ya setidaknya kata-katamu membuatku sedikit lebih tenang," ucapnya pelan. • "Pakaian ini terlihat lebih cocok padaku," ucap Perly memutar-mutar tubuhnya. Pakaian berwarna biru muda itu sudah melekat di tubuhnya belum lama ini. Ya kekuatan snow yang dimilikinya sudah sempurna. Lambang snow juga sudah tergambar di punggung telapak tangan kirinya. "Bukankah kamu juga berbicara seperti itu saat kekuatan Lightning-mu sempurna?" tanya Zate membuat Perly tersenyum lebar. "Memang," katanya, "Karena semua bentuk pakaian sesuai denganku dan membuatku semakin cantik," jawabnya lagi. "Kamu berbicara seperti seseorang yang tidak akan pernah mendapat pujian dari orang lain." Perly merenggut kesal mendengarnya. Siapa lagi yang berbicara menohok seperti itu kalau bukan Anta. "Sudahlah jangan mempermasalahkan itu lagi. Ayo, kita harus kembali melanjutkan perjalanan," intruksi dari Tier. Jika dibiarkan, akan bertambah lama dan menjadi panjang. "Maaf sepertinya aku tidak mempunyai persediaan makanan lainnya. Aku lupa membawa buah-buahanku yang kemarin," ucap Erlie dari arah belakang, "Tapi tenang saja. Hari ini orang-orang istana akan datang. Kita bisa mengambil makanan dari sana," lanjutnya dan mereka semua mengangguk. "Yasudah kalau begitu ayo kita pergi," ucap Perly semangat menarik tangan Befra yang ada disampingnya. "Kenapa kamu begitu semangat?" tanya Marta. "Aku ingin bertemu dengan Bibi yang dulu memberiku gelang ini. Aku ingin bertanya siapa yang telah mengambil pasangannya," jawabnya menunjukkan gelang yang dia pakai. "Jadi kamu pikir orang istana yang akan datang kesini adalah orang yang sama dengan yang dulu?" tanya Befra terkekeh pelan. Perly menatap mereka semua, "Kenapa? Memangnya mereka berbeda?" tanya Perly polos. "Tentu saja. Orang istana yang datang ke daerah pengendali tentu saja orang istana dari istana pengendalinya masing-masing. Kau ini ada-ada saja," jelas Zate juga terkekeh melihat raut kecewa Perly. "Yasudah. Ayo kita pergi." ucap Perly sedikit lesu. Mereka hanya geleng-geleng kepala melihat Perly. Di perjalanan seperti biasa. Membosankan dan melelahkan, menurut Perly. Maka dia mencari bahan untuk dia lakukan. Memikirkan apa yang enak untuk dibicarakan. Dan senyumnya mengembang kala memikirkan satu hal, "Kalian ingin tau sesuatu?" tanya Perly pada mereka. Mereka hanya diam mendengar lanjutan. Melihat Perly yang tersenyum misterius pada Befra dan Tier, membuat mereka semakin penasaran, "Tadi malam aku tidak sengaja mendengar percakapan Tier dan Befra," ucapnya mengulum senyum. Tier dan Befra yang mendengar itu lantas memelototkan matanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN