Number 34

2690 Kata
Zate yang ada di samping Tier langsung memegangi Tier erat agar tidak bisa menghalangi Perly untuk menceritakannya. "Ayo ceritakanlah. Kami juga ingin tau," ucap Marta tidak sabaran. Tier yang dipegangi tentu memberontak, menunjuk Perly dengan kepalanya, "Perly, jika kamu menceritakannya aku akan marah padamu," ucap Tier mengancam. Entah dia bisa melakukan itu atau tidak, yang pasti, dirinya harus membuat ancaman agar gadis itu menurut padanya. Mau di taruh di mana wajahnya jika Perly benar-benar menceritakannya? Lagi pula, kenapa gadis itu bisa dengar? Dia terbangun? Atau memang belum tidur waktu itu? Ah tidak tau! Yang jelas, privasi dan harga dirinya merasa di pertaruhkan di sini. Bukan apa-apa, dia hanya belum siap memberitahunya pada mereka, kecuali Perly yang ternyata sudah dengar. "Tenanglah. Dia tidak akan bisa marah padamu. Aku akan beri kau coklat jika kau mau bercerita," ucap Anta pada Perly membuat mata Perly membesar mendengar kata coklat. Dia sedang mencoba membuat gadis itu berpihak padanya. "Benarkah? Di sini ada coklat?" tanyanya semangat yang di angguki semangat pula oleh mereka kecuali Befra dan Tier yang menggelengkan kepala. "Aku akan beri berapapun yang kau mau. Jadi, sekarang katakan, apa yang mereka bicarakan? Mereka merahasiakan sesuatu?" tanya Anta mendesak. Memancing Perly untuk segera bercerita. Perly beralih menatap Befra dan Befra dengan cepat menggeleng kuat, dia terkekeh, "Aku rasa tidak perlu," ucapnya setelah itu. Befra dan Tier tentu saja bernafas lega mendengarnya, lain hal dengan yang lainnya yang malah kesal. "Kenapa kamu membuat kami penasaran jika tak ingin bertanggung jawab!" ucap Anta kesal. Sia-sia saja dirinya mengiming-imingi anak itu dengan coklat. "Ya aku pikir mereka akan merelakan aku untuk menceritakannya. Tapi sepertinya mereka ingin mereka sendiri yang memberitahu kalian," ucap Perly menatap Befra dan Tier bergantian. Tetap saja, Perly mengingikan mereka membukanya. Menceritakannya sendiri malah. Ralat kembali kata-kata mereka soal bernafas lega. Nafas mereka belum benar-benar lega saat ini. "Ayolah ceritakan. Kenapa kalian jadi menyimpan rahasia seperti ini," ucap Marta pada mereka berdua, "Itu tidak baik, kau tau? Kau sendiri yang mengatakannya," lanjutnya menunjuk Tier. Hey! Apa katanya? Konspirasi apa ini? Kapan dia berkata demikian? Wah ... benar-benar. Mereka benar-benar berencana menjebaknya seolah-olah itu adalah ucapannya sendiri padahal tidak. Dan jika dia menyangkal nantinya, mereka pasti akan mengatakan jika dia pura-pura lupa. Tier menatap Perly dengan tatapan datar, yang disambut cengiran lebar dari gadis itu. "Betul. Bukankah kita sudah menjadi satu? Kalian seharusnya tidak boleh menyimpan rahasia apapun dari kami," timpal Zate. Pemuda itu kenapa tidak diam saja? "Beritahukan saja. Semuanya sudah tau kalian menyimpan rahasia. Jadi untuk apa lagi disimpan," ucap Erlie yang sedari tadi hanya diam. "Erlie. Kamu juga tidak memihak kami?" tanya Befra pada Erlie. "Aku juga penasaran apa yang terjadi." jawabnya tersenyum lebar. Marta membawa Erlie ber-tos karena senang Erlie memihaknya. "Huft ... baiklah ...," ucap Tier akhirnya. Sekali lagi menatap sinis pada Perly, biang dari semua ini. Tapi lihatlah gadis itu, bukannya merasa bersalah dan meminta maaf, dia malah bermain-main dengan kekuatannya. "Aku akui apa yang Perly ucapkan dulu memang benar," ucap Tier memulai. Mereka semua bingung mendengarnya. Memangnya apa yang Perly ucapkan dulu? "Ucapan yang mana? Kau lupa kalau anak ini sangat banyak berbicara selama ini. Aku tak dapat menghitung berapa banyak ucapan yang dia ucapkan tentangmu," ucap Marta bingung yang tentu saja membuat Perly cemberut. "Sudahlah jangan berbelit. Langsung saja pada intinya. Apa yang kalian bicarakan malam itu?" tanya Anta yang sudah sangat penasaran. Satu fakta yang mereka tau saat ini bahwa, Anta adalah orang yang sangat antusias dalam mengurusi permasalahan orang lain. Dari tadi pemuda plants ini yang terus mendesak. "Ucapan Perly saat kita berenang di air terjun Plants. Kalian tidak ingat?" tanya Tier menatap mereka. Masih memberi clue. Mereka dibuat berpikir, kecuali Anta dan Erlie yang tidak tau menau tentang itu. "Ketika Perly mengatakan kalau kamu jatuh cinta pada Befra? Benar yang itu?" tanya Marta antusias menunjuk wajah Tier. "Hm ...," jawab Tier seadanya tanpa menatap mereka. Ah, bisa-bisanya semburat merah muncul di pipinya! Memalukan! "Jadi kalian saling jatuh cinta?" tanya Erlie dan lagi mereka hanya mengangguk pelan. "Berarti sekarang kalian adalah pasangan kekasih?" tanya Zate. Mereka berdua sedikit bingung. Reaksi mereka yang berlebihan atau bagaimana? Mereka yang menjalin kasih, kenapa mereka yang terlihat antusias? Itu sedikit aneh menurut. Tier dan Befra saling tatap untuk beberapa detik baru kemudian mengangguk. "Begitulah ...," jawab Befra pelan. Wajah Befra sudah sangat merah sekarang karena menahan malu. Bisakah mereka hentikan saja pembicaraan ini? Sungguh, dia sudah tidak dapat menahan malu sekarang. "Apa itu artinya kalian sudah berciu--" "Hey!" hardik Anta cepat dengan kedua tangannya yang menutup rapat telinga Perly, "Diamlah!" tambahnya menatap tajam Marta. Marta yang ingin berucap, pun tidak jadi dan menutup mulutnya. Hampir saja dia kelepasan mengatakan hal dewasa itu di depan Perly. Ingat! Perly itu masih anak kecil di bawah lima tahun. Harus dijaga pendengarannya. Sedangkan Perly, sudah mati-matian melepaskan tangan Anta yang sudah seperti menempel di telinganya, menghalau semua udara yang masuk untuk menghantar suara padanya, "Kenapa kamu menutup telingaku? Aa ... aku ingin dengar, ingin dengar! Apa yang kalian bicarakan sebenarnya?" tanyanya masih memberontak. "Kamu dilarang mendengarnya. Ini ucapan orang-orang dewasa," jawab Anta tanpa ingin tau apakah Perly dapat mendengarnya atau tidak. "Ayo. Bukankah kamu ingin cepat makan?" Anta dengan cepat membawa Perly pergi dari sana, sudah melepaskan kedua tangannya dari telinga Perly. "Marta! Berci, apa? Apa yang ingin kamu katakan?!" teriak Perly masih berusaha menoleh ke belakang. "Kamu masih terlalu kecil untuk mendengarnya. Tunggu umurmu dewasa dulu, baru boleh," ucap Anta tetap membawa Perly menjauh dari sana. "Sudahlah. Kenapa kalian malah membahas itu. Ayo susul mereka," ucap Befra lalu pergi menyusul Anta dan Perly. "Kalian lihat? Wajah Befra memerah menahan malu," ucap Marta gemas. "Lain kali perhatikan kata-katamu. Kamu hampir saja meracuni pikiran Perly," ucap Zate. "Ya maafkan aku. Aku hanya terlalu bersemangat," jawab Marta seadanya. • "Tidak bisakah kita melihat-lihat dulu? Aku ingin melihat anting. Antingku sudah tidak terlihat cantik," ucap Perly memegang anting di telinga kanannya pada mereka semua. "Tidak bisakah kamu berhenti berbicara? Sedari tadi yang kamu lakukan hanyalah melihat-lihat lalu berpindah tempat tanpa mengambilnya. Jangankan kami, orang-orang istana pun kesal melihatmu," ucap Marta kesal. Perly memasang wajah heran, "Lalu? Aku harus mengambil apa yang tidak aku inginkan? Kau ingin memakainya jika aku tak menginginkannya nanti?" tanya Perly. "Setidaknya kamu tidak membuat kami lelah karena mengikutimu," jawab Marta membuat Perly berdecak. "Sepertinya kita harus pergi dari sini," ucap Tier tiba-tiba mengabaikan perdebatan Marta dan Perly. Perly yang pertama kali protes, "Kenapa? Aku be--" "Lupakan soal anting, kamu bisa melihatnya di pasar yang lain. Ayo cepat," ucap Zate mendorong Perly untuk berjalan ke depan. "Ada apa dengan kalian? Apa terjadi sesuatu?" tanya Befra bingung tetap berjalan mengikuti Zate yang mendorong Perly untuk berjalan. "Aku rasa ada yang mengikuti kita sedari tadi," jawab Tier. "Benarkah? Siapa? Kamu melihat orangnya?" tanya Marta cepat. "Dia memakai penutup wajah dan jubah. Aku tak dapat melihat wajahnya. Tapi dia mencurigakan, dia terus melirik ke arah Perly. Dan ketika kami memergokinya, dia segera mengalihkan pandangan dan bersembunyi," jawab Tier sedikit menjelaskan. "Apa dia terlihat berbahaya?" tanya Erlie. "Sepertinya begitu. Dia sangat mencurigakan." Kali ini Zate yang menjawab. "Kita perlu bersembunyi," ucap Anta yang sedari tadi terdiam. Zate dengan kuat menggeleng, "Tidak. Kita harus melawannya, atau dia akan terus mengikuti kita," bantah Zate. "Jangan bodoh. Dengan melawannya kita akan banyak membuang waktu, kekuatan dan tenaga kita. Apa kamu ingin terus berlama-lama di sini?" tanya Anta pada Zate. "Benar apa yang Anta ucapkan. Kita harus mencari aman terlebih dahulu. Kita tidak boleh gegabah," ucap Perly menyetujui. Menghembuskan nafas pelan, "Baiklah kalau begitu," ucap Zate akhirnya menuruti ucapan Perly. Befra melihat sekitar, mencari tempat yang cocok untuk mereka bersembunyi, "Di sebelah pondok itu, ada pohon, kalian melihatnya?" tanya Befra, membuat mereka mengalihkan pandangan, masih mencoba untuk tidak terlalu mencolok menatap si pohon. Erlie mengangguk pelan, "Jadi, kau ingin kita bersembunyi di sana?" tanyanya membuat Befra mengangguk membenarkan, "Aku rasa pohon itu cocok," ucapnya. "Baiklah, kita akan bersembunyi di sana," ucap Anta dan mereka mengangguk setuju. "Perhatikan dia," ucap Marta pada Tier. Tidak sengaja, Tier menjatuhkan kantung buah-buahan yang dia bawa, "E eh!" ucapnya kaget. Buah-buah itu berserakan ke mana-mana, "Kenapa kamu ceroboh sekali!" kesal Befra. "Maafkan aku, aku tidak sengaja," jawab Tier berjongkok untuk mengambil buah-buahan itu. "Sudahlah, ayo bantu dia," intruksi Perly. Mereka berbalik dan memungut buah itu bersama. "Aku melihat bayangannya di samping rumah itu," bisik Zate pada Tier saat masih mengumpulkan buah-buahannya. "Aku akan membawa mereka bersembunyi lebih dulu selagi dia tak melihat kita. Dan kamu gunakan sedikit kekuatanmu untuk berlari dengan cepat," jawab Tier juga berbisik. Zate hanya mengangguk sebagai jawaban. Bayangan yang Zate lihat masih di sana, namun pemilik bayangan itu masih tidak menampakkan wajahnya. Melihat itu Tier langsung membawa yang lainnya mengendap-endap dan diam-diam naik ke atas pohon yang berada tak jauh dari mereka. Zate yang masih berada di sana kemudian berdiri, berjalan sebentar kemudian berjongkok, membuat orang yang mengikutinya kembali bersembunyi. Selagi memperbaiki tali sepatunya yang dia sendiri yang melepaskan ikatannya, dia terus mengamati orang itu. Melihat lawannya lebgah, maka kesempatan tidak Zate sia-siakan. Zate berlari dan tiba-tiba sudah berada di atas pohon bersama yang lainnya. "Dia melihat kita?" tanya Erlie pada Zate saat Zate sudah sampai di atas. Zate menggeleng, masih memperhatikan orang di bawah sana, "Aku rasa tidak. Aku sudah memastikannya," jawab Zate dan mereka hanya mengangguk. "Anta, bisakah kamu tutupi sedikit dahan-dahan ini agar dia tidak melihat kita?" tanya Perly pada Anta dan Anta hanya mengangguk, tanpa bantahan tanpa decihan malas dan tanpa keterpaksaan. Anta menempelkan telapak tangannya pada salah satu dahan dan tumbuhan merambat sudah menjalar ke mana-mana menutupi mereka, namun mereka masih tetap bisa mengawasi sesuatu di bawah sana. "Apa dia orangnya?" tanya Marta melihat seseorang di bawah sana seperti sedang mencari sesuatu. "Iya. Dia orangnya," jawab Tier. "Sepertinya dia sedang mencari kita," ucap Befra diangguki yang lainnya. "Dia bukan pengendali Dark. Tapi untuk apa dia mengikuti kita? Aku rasa dia bukanlah orang jahat," ucap Perly. "Jadi kamu ingin turun dan bertanya padanya kenapa dia mengikuti kita?" tanya Anta pada Perly. "Setidaknya kita tau apa tujuannya. Mungkin saja dia sedang memerlukan bantuan atau dia ingin menyampaikan sesuatu pada kita," ucap Perly lagi. "Kamu pikir di tempat ini tidak ada orang lain selain kita? Jika ingin meminta bantuan, dia bisa saja meminta pada orang lain. Kenapa dengan harus mengikuti kita? Apa itu tidak membuatmu curiga?" ucap Marta diangguki yang lainnya. Perly tetap bersikeras, menunjuk orang itu, "Tapi lihatlah. Dia sendiri. Jika dia memang mengincar kita, pasti dia membawa kelompoknya. Dan dia tidak terlihat berbahaya," ucap Perly tetap pada pendapatnya. "Perly, kita harus mempunyai rasa was-was terhadap orang lain. Sudahlah. Kita amati saja dari sini dan biarkan dia pergi bukankah kamu yang mengatakan kita tidak boleh gegabah?" ucap Tier menatap Perly. Perly menghembuskan nafasnya lelah, "Baiklah. Terserah kalian saja," ucapnya pasrah. Orang itu masih berada di bawah sana sambil melihat-lihat sekitarnya sampai akhirnya dia pergi menjauh dari tempat itu. "Sudah aman. Ayo turun," intruksi Tier. Anta kembali menghilangkan tanaman yang menutupi mereka lalu mereka turun ke bawah. "Apa kalian melihat warna pakaian yang dia kenakan tadi?" tanya Marta pada mereka. "Aku tidak melihatnya. Tapi yang pasti dia bukan pengendali Snow," jawab Zate diangguki Tier. "Sudahlah itu tidak penting lagi. Sekarang ayo kita pergi dari sini," ucap Befra. "Tunggu dulu. Kita akan ke mana?" tanya Perly. "Kita akan ke daerah pengendali Storm. Daerah itu dekat dari daerahku," jawab Erlie dan Perly mengangguk. "Apa kamu mengenal seseorang di sana?" tanya Tier pada Erlie. "Ya aku mempunyai teman di sana. Jadi kita tidak perlu bersusah payah mencari tempat lagi di sana," jawab Erlie. "Baguslah kalau begitu. Aku lelah jika harus mencari tempat lagi," ucap Zate. "Boleh aku bertanya?" tanya Perly. "Kau baru saja bertanya." jawab Anta terkekeh pelan. "Apa itu sebuah lelucon?" tanya Perly menatap Anta datar. "Tidak. Silahkan bertanya." ucap Anta ikut menampilkan raut datarnya. Tau bahwa Perly tak terpengaruh dengan ucapannya. "Marta bilang, perjalanan kita yang sesungguhnya adalah melawan para monster untuk membebaskan queen dan king yang ditawan." Perly menjeda sejenak, menatap mereka semua, "Siapa yang akan lebih dulu yang harus kita bebaskan? Tidak mungkin kita membebaskan mereka bersamaan bukan?" tanya Perly. Tak ada yang menjawab pertanyaan Perly. Mereka semua terdiam mendengarnya. Mereka tentu saja ingin orang tua merekalah yang lebih dulu dibebaskan. Tapi mereka juga tidak boleh egois. "Apakah seperti ini keraguan yang akan aku hadapi nanti?" batin Perly. Perly menghela nafas. Seharusnya dirinya tau kalau ini adalah pertanyaan yang sangat sensitif. Bisa-bisanya dia masih berpikir pertanyaan itu akan baik-baik saja tanpa membuat pikiran mereka terbebani. "Sudahlah anggap saja aku tidak pernah bertanya. Pertanyaanku terlalu sensitif," ucap Perly akhirnya melihat mereka tidak ada yang menjawab Tier lemparkan senyum kecil, "Tidak peduli siapa yang akan dibebaskan terlebih dahulu, kita harus tetap bersatu dan berjuang. Itu tidak boleh menjadi alasan kurangnya kekompakan kita." Dia berucap. Tak ayal, itu mereka setujui. Ah, tidak juga, tepatnya, itu harus mereka setujui bagaimanpun berbedanya pendapat mereka nanti. Memangnya ingin menyanggah apa? Ingin egois dengan mengatakan kalau orangtuanya yang harus diselamatkan lebih dulu? Itu tak mungkin. Alasannya? Tak perlu alasan, hanya, itu tak mungkin. "Ya Tier benar. Bukankah mereka semua adalah orangtua kita? Jadi kita tidak boleh terlalu mengutamakan salah satu dari mereka," timpal Befra. Senyum tipis mengikuti sepanjang garis bibir Perly. Senang dirinya mendengar kalimat itu keluar dari mereka. Meski, kali ini, untuk pertama kali, dirinya amat tak ingin mendengar kejujuran dari mereka mengenai pertanyaannya yang satu itu. "Tapi ayahku pernah mengatakan kalau semuanya akan saling berhubungan. Aku tidak mengerti maksudnya, tapi mungkin saja queen atau king yang kalian bebaskan terlebih dahulu akan berhubungan dengan pembebasan yang berikutnya," jelas Marta. "Atau mungkin ini berhubungan dengan kekuatan yang mereka punya?" ucap Zate tiba-tiba. "Maksudnya?" "Entahlah. Itu yang terlintas dipikiranku, jadi itu yang aku katakan. Aku juga tidak tau maksudnya apa," jawab Zate mengedikkan bahu tak acuh. "Tapi bagaimana kalau kita salah jalan? Maksudku, bagaimana kalau pembebasan pertama tidak ada hubungannya dengan selanjutnya? Apakah akan terjadi sesuatu?" tanya Perly membuat mereka berpikir. Banyak keuntungan sebenarnya ketika Perly sudah bertanya. Pertanyaan gadis itu tak tanggung-tanggung membuat kinerja otak untuk berpikir tiga kali lipat, berputar ke sana ke mari mencari jawaban yang tepat diiringi argumen panjang menyerempet perdebatan. Dan itu cukup menambah wawasan. Tapi juga tak selalunya begitu. Pertanyaan gadis itu juga tak tanggung-tanggung membuat segala pikiran negatif hinggap di kepala. Itu sisi ruginya. "Benar juga. Kita mungkin saja bisa salah." ucap Befra mengangguk. "Aku rasa tidak mungkin. Semuanya pasti mempunyai petunjukkan? Seperti kita. Kita mempunyai masing-masing pengenal sebagai petunjuk. Begitupun nanti ketika kita membebaskan queen dan king," ucap Erlie memberikan tanggapannya. "Aku setuju. Pendahulu tidak mungkin membiarkan kita berjalan tanpa arah," Anta menimpali. "Semua kemungkinan bisa saja terjadi. Yang terpenting, kita tidak boleh terpecah. Aku yakin selain kekuatan, kita pasti akan banyak menggunakan pikiran dan berargumen nantinya," ucap Tier diangguki yang lainnya. "Tapi saran dariku, kalian lebih baik mendengarkan perintah dari Perly nantinya." ucap Marta. Perly langsung secara impulsif menunjuk dirinya, "Aku? Kenapa harus aku? Dan apa maksudmu dengan kalian?" tanya Perly cepat. Senyum yang Marta ulas barusan bukan senyum yang Perly sukai. Itu terlihat "Karena kamu adalah pemimpin Perly. Apa yang kamu ucapkan adalah perintah bagi kami semua," jawab Marta, "Dan kalian tau? Dulu sewaktu aku dan Tier membawamu ke daerah Lightning, aku ingat sekali yang menyelamatkan kalian bukan Bupo. Tapi seseorang yang mengaku sebagai penjaga Pangeran Lightning," lanjutnya. "Aku? Bukankah semua penjaga kembali ke istana?" Zate menunjuk dirinya sendiri. "Iya. Karena itulah ucapannya terasa sangat janggal, jadi aku tidak mempercayainya. Dan dia memberi kami seperti sebuah petuah," jawab Tier. "Apa yang dia katakan?" tanya Anta cepat. "Percayalah, bukan kalian yang melindunginya, tapi dialah yang sedang melindungi kalian. Jangan bertindak gegabah selagi dia tak memutuskan. Dengarkan dia dan bantu dia. Itulah kata-katanya yang aku rasa cocok dengan apa yang aku ucapkan tadi," jawab Marta. "Dia? Apakah 'dia' yang di maksudnya adalah Perly?" tanya Befra. "Ya itu benar. Aku juga berpikir begitu," ucap Erlie menyetujui. "Kenapa kalian begitu yakin padaku? Sedangkan aku saja tidak yakin pada diriku sendiri," ucap Perly menundukkan kepalanya. Perly tidak mendengar jawaban apa-apa. Bahkan tidak ada dari mereka yang berbicara membuat Perly mengangkat kepalanya perlahan. Dia sudah berada di depan, dan teman-temannya masih tertinggal di belakang. Terdiam seperti patung. Perly kembali berbalik. "Kamu ...," ucap Perly menunjuk seseorang di depannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN